Asian Spectator

Men's Weekly

.

Aktivisme iklim telah beralih menjadi digital dan disruptif, dan akhirnya berupaya melawan rasisme dalam gerakannya

  • Written by Nina Hall, Assistant Professor of International Relations, Johns Hopkins University
Climate activist Greta Thunberg speaks during the Fridays For Future COP26 march in Glasgow.

Untuk memahami kesepakatan yang dibuat oleh negara-negara dunia saat konferensi iklim COP26[1] di Glasgow pada akhir tahun lalu, penting bagi kita untuk memahami bagaimana aktvisme iklim telah berevolusi sejak Perjanjian Paris[2] tahun 2015.

Para aktivis iklim telah berperan besar. Selama ini, mereka senantiasa memberikan tekanan pada pemerintah dunia untuk serius menerapkan janji iklim Paris mereka dan semakin meningkatkan ambisi “hijau” pada tahun-tahun mendatang.

Dua gerakan iklim baru – Fridays for Future (“Hari Jumat untuk Masa Depan”) dan Exctinction Rebellion (“Melawan Kepunahan”) – punya pengaruh besar beberapa tahun belakangan. Studi yang kami lakukan[3] menunjukkan kedua gerakan ini membawa model dan taktik baru dalam aktivisme iklim, sekaligus melawan rasisme di tubuh mereka sendiri.

Keunikan dan evolusi kedua kelompok ini menunjukkan pada kita banyak hal tentang arah baru aktivisme iklim kontemporer.

Model baru, taktik baru

Fridays for Future[4] dan Extinction Rebellion[5] telah mendorong terbitnya era baru pembahasan isu iklim dengan menentang pola protes yang konvensional.

Fridays for Future, misalnya, sukses menggerakkan jutaan orang[6] di seluruh dunia, terutama anak muda. Penelitian kami menunjukkan hal ini terus berlanjut, walau lebih banyak secara daring ketimbang di jalanan saat pandemi COVID-19.

Climate activist Greta Thunberg speaks during the Fridays For Future COP26 march in Glasgow.
Aktivis iklim Greta Thunberg di demonstrasi Fridays for Future saat konferensi iklim COP26. (Jeff J Mitchell/Getty Images)

Sementara, Extinction Rebellion telah membudayakan beragam aksi nyata dan penggunaan dirupsi aktivitas ekonomi melalui ketidakpatuhan sipil – misalnya menduduki ruang publik di London, Dar es Salaam, Kota Meksiko, dan Roma. Baru-baru ini, mereka mengelem diri mereka[7] di tangga parlemen Selandia Baru untuk memprotes kebijakan iklim negara tersebut yang dirasa kurang progresif.

Kedua kelompok ini menggambarkan berbagai perubahan dalam tren aktivisme iklim selama satu dekade ke belakang. Teknologi telah mendorong distribusi aktivisme digital. Pengorganisasian ini berpusat pada satu tujuan sentral, tapi memberikan ruang pada aktivis lokal untuk merancang pesan dan taktik yang lebih relevan untuk daerah mereka masing-masing.

Read more: What lies ahead for Fridays for Future and the youth climate movement[8]

Beralih ke digital

Organisasi iklim 350.org memperkenalkan cara baru pengorganisasian digital melalui gerakan iklim global[9] mereka pada tahun 2009. Dengan struktur yang terdesentralisasi, siapapun dan di manapun, orang-orang bisa terlibat.

Pengorganisasian secara terdistribusi juga telah membantu banyak kelompok aksi iklim menjadi lebih inklusif.

Wawancara yang kami lakukan dengan aktivis Fridays for Future mengindikasikan bahwa gerakan ini menaungi pandangan politik yang beragam di antara anak muda. Namun, mereka punya gairah yang sama untuk melindungi alam dan menuntut pemerintah untuk setia pada Perjanjian Paris.

Melalui taktik-taktik baru ini, Fridays for Future dan Extinction Rebellion tidak hanya memberi ‘darah’ baru pada gerakan iklim, tapi juga mempercepat aksi iklim. Mantan kanselir Jerman, Angela Merkel[10] bahkan mengakui bahwa Fridays for Future telah mempercepat repons negara tersebut dalam mitigasi krisis iklim.

Read more: Greta Thunberg emerged from five decades of environmental youth activism in Sweden[11]

Kini, aktivis iklim berperan besar untuk memastikan pemerintah mematuhi Pakta Iklim Glasgow. Mereka tidak hanya akan mendorong perubahan dari luar; banyak pemerintah dan perusahaan semakin gencar merekrut aktivis muda untuk membantu strategi iklim mereka.

Pemerintahan Presiden Biden di Amerika Serikat (AS), misalnya, mengundang aktivis iklim kulit hitam yang berusia 19 tahun, Jerome Foster II[12] untuk menjadi bagian dari dewan penasihat keadilan iklim Gedung Putih. Foster menghabiskan 58 minggu melalukan protes aksi iklim di luar Gedung Putih, dan kini ia berada di dalamnya.

Meski ini bisa dianggap suatu kemenangan bagi aktivis dan upaya mereka untuk meraih legitimasi arus utama, masih menjadi pertanyaan apakah kerja sama dengan korporasi dan pemerintah benar-benar akan mendorong kebijakan iklim yang radikal.

Bersamaan dengan inklusivitas, ada tanggung jawab besar

Demonstrasi yang dilakukan Gerakan untuk Kehidupan Kulit Hitam (M4BL)[13] selama musim panas di Eropa pada 2020 memicu refleksi besar-besaran di antara banyak kelompok aktivisme iklim. Rasisme selama ini menjadi masalah besar banyak kelompok iklim[14] di AS, Inggris, Jerman, dan negara lain.

An Indigenous Amazonian woman during an Extinction Rebellion protest at COP26
Seorang perempuan dari masyarakat adat Amazon menghadiri demonstrasi Extinction Rebellion saat COP26. (Peter Summers/Getty Images)

Di AS, banyak organisasi lingkungan non-pemerintah didominasi oleh pegawai kulit putih. Staf senior non-kulit putih hanya 22%, meski kelompok etnis non-kulit putih mencapai 40% dari total populasi AS.

Wawancara kami menunjukkan bahwa demonstrasi Black Lives Matter di AS juga telah mendorong banyak kelompok lingkungan untuk berkaca pada organisasi mereka dan meningkatkan keberagaman etnis pada rekrutmen maupun promosi pegawai mereka.

Extinction Rebellion bahkan harus mempertimbangkan ulang penggunaan taktik frontal mereka, di mana para aktivis dengan sengaja berupaya ditangkap polisi. Sebab, taktik tersebut lebih berbahaya bagi aktivis non-kulit putih.

Namun, rasisme struktural terkadang memang susah untuk dibasmi.

Sebagai contoh, suatu cabang Fridays for Future di Selandia Baru terpaksa bubar karena, menurut mereka sendiri[15], telah menjadi “ruang rasis yang didominasi kulit putih” yang “menjauhi, mengabaikan, dan tidak tulus menghargai orang kulit hitam, orang adat, dan kelompok non-kulit putih lainnya (BIPOC).”

Tidak semua aktivis iklim telah mentransformasi taktik, pola rekrutmen, atau organisasi mereka. Meski demikian, banyak dari mereka semakin meningkatkan dukungan atas gerakan keadilan iklim, dan telah mengakui batasan dari “aktivisme iklim gaya hidup[16]” dari kelompok ekonomi menengah. Beberapa aktivis iklim juga telah mengakui perlunya ruang yang lebih menghargai identitas rekan-rekan mereka yang beragam.

Komunitas adat pun telah lama menuntut keadilan iklim[17]. Aktivis iklim dari suku Maori, India Logan O'Reilly[18] menyampaikan pidato penting saat pembukaan konferensi Glasgow. Dia memohon pada pimpinan dunia untuk “belajar sejarah kami, mendengarkan cerita-cerita kami, menghormati wawasan kami dan mendukung agenda kelangsungan hidup kami atau setidaknya jangan menghambatnya” (“get in line or get out of the way”).

Kita hanya bisa berharap bahwa negara-negara akan mendengarkan seruan ini dan benar-benar mengamalkan aksi iklim yang inklusif.

References

  1. ^ konferensi iklim COP26 (ukcop26.org)
  2. ^ Perjanjian Paris (unfccc.int)
  3. ^ Studi yang kami lakukan (podcasts.apple.com)
  4. ^ Fridays for Future (fridaysforfuture.org)
  5. ^ Extinction Rebellion (rebellion.global)
  6. ^ menggerakkan jutaan orang (wires.onlinelibrary.wiley.com)
  7. ^ mengelem diri mereka (www.stuff.co.nz)
  8. ^ What lies ahead for Fridays for Future and the youth climate movement (theconversation.com)
  9. ^ gerakan iklim global (www.cambridgeblog.org)
  10. ^ Angela Merkel (www.theguardian.com)
  11. ^ Greta Thunberg emerged from five decades of environmental youth activism in Sweden (theconversation.com)
  12. ^ Jerome Foster II (www.apec2021nz.org)
  13. ^ Gerakan untuk Kehidupan Kulit Hitam (M4BL) (m4bl.org)
  14. ^ masalah besar banyak kelompok iklim (www.politico.com)
  15. ^ menurut mereka sendiri (www.washingtonpost.com)
  16. ^ aktivisme iklim gaya hidup (catalyst-journal.com)
  17. ^ menuntut keadilan iklim (www.bwb.co.nz)
  18. ^ India Logan O'Reilly (www.stuff.co.nz)

Authors: Nina Hall, Assistant Professor of International Relations, Johns Hopkins University

Read more https://theconversation.com/aktivisme-iklim-telah-beralih-menjadi-digital-dan-disruptif-dan-akhirnya-berupaya-melawan-rasisme-dalam-gerakannya-174613

Magazine

Cracking the code: How a “prediction machine” is resurrecting the Singapore Stone

Singapore Stonewikipedia.org, CC BYSeveral years ago, my linguistic research team and I began developing a computational tool we call ‘Read-y Grammarian’. Our goal was to reconstruct the h...

Transisi energi berkeadilan: benar nyata atau hanya jargon semata?

TomFisk?Pexels, CC BYDunia memang sedang bergerak menuju energi yang lebih hijau demi kelestarian Bumi. Namun di lain sisi, ada jutaan pekerja yang menggantungkan hidup dari industri ekstraktif, seper...

Gaya maskulin pemerintah memulihkan bencana Sumatra: Hanya mau mengatur, tapi enggan menafkahi dan melindungi

Presiden Prabowo Subianto saat meninjau posko pengungsi di MAN 1 Langkat, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, pada 13 Desember 2025.Kris/Biro Pers Sekretariat Presiden● Dalam penanganan bencana, n...