Gaya manajemen '_hardcore_' Elon Musk: sebuah studi kasus tentang apa yang seharusnya tak dilakukan
- Written by Libby (Elizabeth) Sander, MBA Director & Assistant Professor of Organisational Behaviour, Bond Business School, Bond University
Sepak terjang Elon Musk di Twitter akan menjadi standar emas mengenai apa yang tak seharusnya dilakukan dalam melakukan perubahan organisasi.
Bukti menunjukkan[1] bahwa perubahan organisasi yang sukses membutuhkan, di antaranya: visi yang jelas dan menarik yang dikomunikasikan secara efektif; partisipasi karyawan; dan keadilan dalam menerapkan perubahan tersebut. Kepercayaan terhadap pimpinan pun memegang peran penting[2].
Musk, orang terkaya di dunia, agaknya terburu-buru untuk menjadikan Twitter sebagai ladang uang. Kenyataanya, butuh waktu untuk memahami betul syarat-syarat perubahan organisasi yang sukses. Dua dari tiga[3] upaya merubah organisasi berujung gagal. Ini mengakibatkan biaya besar, tenaga kerja yang tertekan[4], dan hilangnya talenta yang berharga.
Manajemen perubahan secara umum saja sering berjalan tak sesuai rencana – tapi saat ini kita bahkan kesulitan menebak apakah Musk sama sekali punya rencana atau tidak.
Gaya Musk yang ‘amat sangat hardcore’
Sejak mengambil alih Twitter pada 27 Oktober, Musk memaksa karyawan kembali bekerja di kantor, menghapus makan siang karyawan, dan memberhentikan[5] sekitar 3.700 pegawai –- setengah dari tenaga kerja Twitter. Banyak yang baru menyadari bahwa mereka telah “ditendang” ketika para karyawan ini tak lagi bisa mengakses laptop mereka[6].
Hanya beberapa hari setelahnya, muncul kabar[7] bahwa Musk memiliki tim untuk menyisir pesan pribadi para karyawan di aplikasi Slack dan memecat mereka[8] yang mengkritiknya.
Pada Rabu pertengahan bulan lalu, Musk mengirimkan ultimatum yang meminta staf untuk menyatakan komitmennya terhadap gaya bekerja baru Twitter yang “amat sangat hardcore” – yang menurut Musk berarti “menjalani jam kerja panjang yang sangat intens”. Pekerja diberi waktu hingga pukul 5 sore esoknya untuk menerima ultimatum ini, atau mengambil pesangon.
Kabarnya, sekitar 500 karyawan memilih menuliskan pesan selamat tinggal[9].
PHK dan restrukturisasi adalah hal lumrah saat terjadi perubahan organisasi. Namun, bagaimana hal ini dikelola memiliki efek[13] yang signifikan, baik terhadap mereka yang pergi maupun yang tinggal. Jika Anda ingin karyawan Anda tetap berkomitmen dan merespon krisis dengan baik, menyebut mereka pemalas dan mengancam mereka jelas tak membantu.
Read more: Thinking of breaking up with Twitter? Here’s the right way to do it[14]
Pilihan itu penting
Tapi bagaimana dengan SpaceX dan Tesla – dua perusahaan yang memberikan Musk ketenaran dan kekayaan? Tidakkah kesuksesan perusahaan-perusahaan tersebut membuktikan bahwa ia pemimpin yang baik?
Tidak semudah itu. Ada perbedaan besar antara perusahaan yang memiliki misi tertentu, seperti SpaceX, dan platform seperti Twitter.
Ketika ada tujuan bersama untuk mencapai sesuatu yang luar biasa atau yang belum pernah dilakukan sebelumnya, karyawan[15] kerap rela bekerja dengan durasi yang lama di tengah situasi sulit.
Mereka akan memilih bekerja habis-habisan dengan jam kerja panjang jika mereka merasa sejalan dengan tujuan organisasi atau ketika mereka merasa pekerjaan mereka penting. Tapi poinnya adalah bahwa mereka memilih.
Seperti cuitan salah satu pegawai Twitter[16] setelah Musk mengirimkan surel “hardcore”-nya:
Saya tak mau bekerja untuk seseorang yang mengancam kami berkali-kali melalui email, bahwa hanya ‘orang-orang luar biasa yang seharusnya bekerja di sini’ ketika saya sudah bekerja 60-70 jam tiap minggunya.
Musk mengabaikan hal-hal dasar
Sebenarnya, ada banyak pekerja Tesla maupun SpaceX yang tak bahagia dengan pekerjaannya[17]. Banyak pula yang melayangkan gugatan mengenai kondisi kerja mereka dan gaya manajemen Musk.
Musk dipuji karena pemikirannya[18] soal penyempurnaan desain produk (iterative design) dan pemecahan masalah teknik. Menantang model lama yang tak lagi berguna memang penting. Tapi hal-hal mendasar[19] mengenai kepemimpinan dan perubahan organisasi pun masih tetap esensial –- dan soal ini, Musk gagal total.
Read more: Pakar Menjawab: Elon Musk membeli Twitter, apa yang perlu kita waspadai?[20]
Ketika para pegawainya –- orang-orang biasa yang bukan konglomerat dan harus membayar sewa atau cicilan rumah -– berusaha memahami apa sebetulnya makna “hardcore”, dan bagaimana hal tersebut akan mempengaruhi kemampuan mereka untuk memiliki kehidupan di luar pekerjaan, Musk justru mencuitkan survei (polling) informal yang menanyakan ke pengikutnya apakah mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebaiknya diizinkan kembali menggunakan Twitter.
Kemudian, ketika Trump menolak untuk kembali ke platform tersebut, Musk mencuit:





