Asian Spectator

Times Advertising

Terakhir terlihat 90 tahun lalu, spesies cacing aneh ditemukan merayap di Malaysia

  • Written by Jean-Lou Justine, Professeur, UMR ISYEB (Institut de Systématique, Évolution, Biodiversité), Muséum national d’histoire naturelle (MNHN)
Terakhir terlihat 90 tahun lalu, spesies cacing aneh ditemukan merayap di Malaysia

George Verdon, pembuat film satwa liar profesional, tidak memercayai apa yang dia lihat. Dia secara tidak sengaja menemukan seekor hewan yang sulit dikenali ketika sedang berlari. Saat itu George berlari menyusuri hutan di pulau di semenanjung Malaya. Jadi, peluang dia menemukan sesuatu yang aneh jauh lebih tinggi dari biasanya. Namun demikian, hewan ini memang benar-benar unik.

Panjangnya sekitar 10 cm dan tampak seperti cacing. Ia juga memiliki warna peringatan garis-garis yang mencolok dan untuk sesaat hampir tampak seperti ular remaja kecil. Namun, ketika melihat kepalanya–berkepala martil dan pipih serta tampak tidak bermata–jelas ada sesuatu yang berbeda.

Sebagai pembuat film satwa liar profesional, George telah melihat banyak hewan aneh, tapi bingung dengan yang satu ini. Setelah berselancar di internet, dia menemukan ada beberapa ilmuwan yang cukup gila (kami) untuk mempelajari makhluk aneh ini.

Selama 10 tahun terakhir, kami berupaya mengkarakterisasi cacing pipih darat yang menyerang negara-negara Eropa, seperti Obama nungara[1], sekarang ditemukan di lebih dari 70 departemen (wilayah setara dengan kabupaten) di Prancis, atau spesies raksasa Bipalium kewense[2]. George menghubungi kami pada Agustus 2019. Dia mengirimi kami email berisi beberapa foto dan menanyakan apakah kami mengetahui lebih banyak tentang hal itu.

Jika dibandingkan dengan literatur ilmiah, ternyata spesies tersebut belum pernah terlihat selama 90 tahun sejak pertama kali ditemukan: Bipalium admarginatum. Spesies ini belum tercatat sejak pertama kali dijelaskan pada 1933 oleh de Beauchamp, di sebuah pulau tidak jauh dari George melihatnya.

Tentu saja, kami sangat gembira dan bertanya kepada George apakah dia telah mengumpulkan spesimen yang telah dilihatnya. Untuk beberapa alasan yang tidak kami mengerti, dia keluar untuk joging tanpa peralatan lapangan, dan kemudian membiarkan hewan itu meluncur kembali ke serasah dedaunan atau dedaunan kering. Kami bertanya kepadanya apakah dia dapat menelusuri kembali ke dalam hutan untuk menemukan beberapa spesimen. Kami juga memberi instruksi tentang cara terbaik untuk menemukan dan menangkapnya.

Kera, dan empat kali lipat minuman gin dan air tonik… tanpa tonik

George kembali ke lokasi penampakan dengan membawa botol pengumpul, tang larva, dan bantuan Liv Grant (seorang teman dan kolega). Hasilnya, dia menemukan lebih banyak spesies tersebut. Namun, usahanya baru setengah dari tantangan yang ada, karena mereka ternyata berada di wilayah kera (macaques) yang tampak tak ramah.

Liv mengambil tugas menangkis para kera. Sementara, George buru-buru mengumpulkan spesimen lalu keduanya segera mundur.

Sejauh ini usaha keduanya bagus, tapi bagaimana cara melestarikannya? Instruksi yang kami berikan adalah masukkan hewan-hewan tersebut ke dalam etanol murni. Namun, pulau-pulau tropis terkenal dengan kekurangan pasokan laboratoriumnya, atau setidaknya begitulah yang kami pikir.

George ternyata menemukan solusinya: dia menyiapkan empat kali lipat minuman gin dan air tonik (gin and tonic)–mirip air soda tapi mengandung kina dan gula, tanpa tonik, jeruk nipis, es, dan payung. Setelah memasukkan spesimen ke dalam botol berisi gin, George membawanya ke Michelle Soo, di Universitas UCSI Kuala Lumpur, yang bertugas memverifikasi penemuan tersebut.

Genom mitokondria lengkap

Langkah selanjutnya adalah mencoba analisis molekuler hewan tersebut. Hal ini penting untuk mengkarakterisasi dan memahami hubungannya dengan spesies lain dari genus Bipalium. Biasanya hal ini hanya dilakukan pada spesimen yang diawetkan dengan baik dalam etanol absolut[3], tapi Romain Gastineau di Universitas Szczecin di Polandia tetap mencobanya.

Berkat teknik pengurutan genom generasi berikutnya, kami dapat mengkarakterisasi genom mitokondria lengkap Bipalium admarginatum, meskipun hasil panen asli ini dari gin.

Hanya sekitar 10 mitogenom lengkap yang diketahui dalam famili ini. Sisanya diperoleh dari spesimen yang dikumpulkan dalam kondisi kurang sempurna dan etanol sempurna di laboratorium[4].

Kerja kami ini layak untuk publikasi[5]. Kami bahkan mampu meyakinkan jurnal ilmiah untuk menambahkan ringkasan dalam bahasa Melayu[6], untuk meyakinkan warga negara tersebut untuk mengumpulkan cacing aneh apa pun yang mereka temukan. Mudah-mudahan kami dapat menerima spesimen lainnya. Sebab, masih banyak spesies luar biasa yang dapat ditemukan ataupun ditemukan kembali.

Authors: Jean-Lou Justine, Professeur, UMR ISYEB (Institut de Systématique, Évolution, Biodiversité), Muséum national d’histoire naturelle (MNHN)

Read more https://theconversation.com/terakhir-terlihat-90-tahun-lalu-spesies-cacing-aneh-ditemukan-merayap-di-malaysia-213659

Magazine

Bukan ‘malas’, penampilan Justin Bieber di Coachella menunjukkan cara kita menikmati musik daring

Kevin Mazur/Getty Images for CoachellaSetelah empat tahun absen dari tur, Justin Bieber tampil sebagai penampil utama di panggung Coachella. Namun, aksinya memicu kontroversi saat ia bernyanyi diiring...

Sederhana tapi menjebak: Bahaya tersembunyi konsep ‘love language’ dalam hubungan

Tahukah kamu bagaimana caramu memberi dan menerima kasih sayang? Apakah kamu tipe orang yang lebih menyukai words of affirmation (ungkapan sayang lewat kata-kata) atau quality time (menghabiskan waktu...

Legal Risks Every Business Owner Should Know

Running a business in Australia comes with a degree of legal exposure that many owners underestimate until a problem is already at their door. From contractual disputes to employment matters, the le...