Asian Spectator

Times Advertising

Praktik bakar lahan tradisional terus berkurang, tapi ini bukan kabar baik

  • Written by Cathy Smith, Postdoctoral Research Associate, Leverhulme Centre for Wildfires, Environment and Society, Royal Holloway University of London
Kebakaran yang dikelilingi vegetasi hijau.

Emisi gas rumah kaca terus naik[1] membuat kita seharusnya menyaksikan lebih banyak api melalap permukaan Bumi setiap tahun.

Namun, data satelit menunjukkan sebaliknya[2]. Beberapa dekade belakangan, area yang justru berkurang.

Kendati begitu, tren ini mungkin tidak baik. Soalnya riset kami[3] mengatakan kebakaran yang terjadi bukanlah pembakaran terkendali yang penting bagi kehidupan warga desa dan ekosistem.

Api memang dapat membesar menjadi kebakaran hebat sehingga efeknya menghancurkan. Namun, api yang terkendali adalah bagian penting dalam pertanian skala kecil, perburuan, dan peramuan yang tujuannya memenuhi kebutuhan sehari-hari (subsisten). Aktivitas ini tidak menyuplai keuntungan di pasar.

Di Meksiko, orang-orang Maya membuka hutan dengan cara membakarnya agar dapat menanam jagung, kacang-kacangan, dan labu[4]. Setelah menanam, mereka kemudian meninggalkannya agar lahan bisa tumbuh kembali.

Ternak yang digembalakan masyarakat Oromo di pegunungan Bale Etiopia, lebih menyukai rumput segar yang tumbuh setelah terbakar[5]. Di lain tempat, api menciptakan biji oak hitam yang dihargai oleh masyarakat asli Amerika di California[6].

Api menjadi bagian terdalam peradaban manusia. Tumbuhan dan hewan di banyak ekosistem juga berevolusi untuk meraup manfaat dari api yang kita ciptakan. Di padang rumput, api kecil yang sering dibuat oleh masyarakat dapat menciptakan mozaik vegetasi yang beragam, termasuk tumbuhan baru yang dapat dinikmati hewan-hewan. Ada juga semak belukar yang menjadi tempat mereka berlindung.

Sampai vegetasi bertumbuh lagi, area baru terbakar turut berfungsi sebagai penahan laju api yang mencegah kebakaran meluas.

Kebakaran yang dikelilingi vegetasi hijau.
Kebakaran di lahan milpa di Belize, tempat banyak tanaman tumbuh. Cathy Smith, Author provided

Perubahan iklim memperpanjang periode tahunan yang menciptakan kondisi panas dan kering sehingga api dapat muncul lalu menyebar[7]. Pemadaman api tidak akan cukup untuk melindungi rumah-rumah dan habitat, ataupun mengurangi emisi karbon dari kebakaran. Kita harus memperhatikan laporan terbaru[8] dari Panel antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang merekomendasikan langkah-langkah menghindari kerusakan terparah akibat pemanasan global. Kita juga harus mendukung serta mempelajari praktik penggunaan api tradisional yang ada di masyarakat.

Kebijakan antipembakaran

Mitos sejak ratusan tahun lalu bahwa api mengancam sumber daya alam dan ekosistem memicu berbagai larangan ataupun pembatasan ketat penggunaan api di banyak negara. Di Eropa dan koloninya, aktivitas pembakaran oleh masyarakat adat begitu ditekan.

Dewasa ini, kebijakan ekonomi dan kekuatan pasar mengurangi penggunaan api, khususnya yang terkait aktivitas subsisten. Secara historis, sejumlah aktivitas pembakaran—khususnya yang bertujuan untuk menumbuhkan tanaman segar atau ternak—berlangsung wilayah yang luas seperti di sabana tropis di Cerrado, Brasil. Penggunaan api di kawasan ini berkurang karena lahan tersebut sudah diprivatisasi dan diubah menjadi penggunaan komersial, seperti perkebunan kedelai besar[9].

Diagram yang membandingkan prevalensi penggunaan api yang berorientasi subsisten dan pasar pada dua peta dunia.
Penggunaan api yang berorientasi pasar sedang meningkat secara global. Cathy Smith, Author provided

Subsidi pemerintah dan perubahan kepemilikan lahan juga mendorong petani menumbuhkan tanaman untuk kebutuhan pasar dengan area tanam yang menetap dan dimiliki secara pribadi. Tren ini mengubah pola ladang berpindah, atau cara penanaman subsisten di area temporer yang sudah dibuka dengan api dan ditinggalkan untuk tumbuh kembali.

Skema pembayaran yang didesain untuk menebus emisi karbon atau deforestasi (di tempat lain) juga semakin membatasi penggunaan api tradisional. Di Meksiko, contohnya, para petani dibayar untuk tidak bertani di area-area tertentu.[10]

Praktik memaksa orang menghentikan penggunaan api yang terkendali dapat mengganggu kebudayaan dan penghidupan mereka, serta ekosistem. Di Etiopia, berhentinya pembakaran oleh para gembala Borana, memicu aktivitas pencarian semak-semak dan kelangkaan makanan sehingga mereka lebih sulit untuk mengurus ternak[11].

Ketiadaan area bekas pembakaran membuat vegetasi menjadi lebih seragam dan hanya diisi sedikit satwa liar. Seperti di Australia, aktivitas pembakaran oleh orang Martu berperan menjaga populasi kangguru[12].

Tanpa pembakaran terkendali yang rutin, risiko kebakaran hebat justru meningkat. Masalah ini terjadi di area Cerrado, ketika orang Xavante tak lagi menggunakan api[13] untuk berburu. Ketika penggunaan api berkurang, ataupun mendapatkan stigma, masyarakat juga dapat kehilangan pengetahuan tradisional[14] dan kearifan adat yang memastikan pembakaran benar-benar terkendali.

Penelitian kami menunjukkan kebijakan ekonomi dan kekuatan pasar kian mengurangi penggunaan api untuk kebutuhan subsisten. Sayangnya, tren ini justru meningkatkan penggunaan api untuk perkebunan komersial.

Misalnya, di wilayah seperti dataran trans-Gangga di India, tempat kebijakan pemerintah mendorong pertanian skala kecil menjadi lebih intensif. Di tempat ini, para petani membakar sisa tanaman[15] sebagai cara tercepat menyiapkan lahan setelah panen gabungan untuk menanam beberapa tanaman tahunan.

Polusi udara akibat pembakaran yang meluas mengancam kesehatan masyarakat dan iklim[16].

Dukungan untuk membakar demi nafkah

Beberapa pihak menyadari kebakaran yang terkendali dapat mengurangi risiko kebakaran hutan. Di Amerika Serikat, Badan Jasa Kehutanan AS, lebih menerapkan praktik “pembakaran yang ditentukan” atau prescribed burning sejak 1970-an.

Beberapa hal dari program ini secara eksplisit meniru penggunaan api oleh masyarakat adat, atau bahkan digunakan oleh masyarakat adat untuk melakukan pembakaran.

Di Australia[17], penjaga hutan Aborigin dibayar untuk pembakaran yang ditentukan melalui skema pengurangan emisi karbon bersih.

Meskipun mereka mencoba meniru pola pembakaran tradisional, kebanyakan lembaga tetap menentukan di mana dan kapan kebakaran terjadi.

Sayangnya, praktik pembakaran untuk nafkah tidak sejalan dengan upaya standardisasi tersebut. Prescribed burning juga meminggirkan mereka yang memiliki pengetahuan tradisional tentang kebakaran.

Api dapat menghidupi manusia dan alam. Program dan kebijakan yang dimaksudkan untuk memanfaatkan api juga harus menghormati penggunaan api untuk kebutuhan nafkah dan digunakan oleh petani kecil. Selain itu, harus ada pula ruang bagi pembakaran yang terkendali karena hal ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat.

References

  1. ^ terus naik (www.nature.com)
  2. ^ sebaliknya (www.science.org)
  3. ^ riset kami (www.nature.com)
  4. ^ menanam jagung, kacang-kacangan, dan labu (esajournals.onlinelibrary.wiley.com)
  5. ^ setelah terbakar (www.jstor.org)
  6. ^ masyarakat asli Amerika di California (academic.oup.com)
  7. ^ dapat muncul lalu menyebar (www.nature.com)
  8. ^ laporan terbaru (www.ipcc.ch)
  9. ^ seperti perkebunan kedelai besar (www.ncbi.nlm.nih.gov)
  10. ^ tidak bertani di area-area tertentu. (www.ingentaconnect.com)
  11. ^ lebih sulit untuk mengurus ternak (link.springer.com)
  12. ^ populasi kangguru (link.springer.com)
  13. ^ tak lagi menggunakan api (www.sciencedirect.com)
  14. ^ pengetahuan tradisional (www.jstor.org)
  15. ^ membakar sisa tanaman (www.sciencedirect.com)
  16. ^ mengancam kesehatan masyarakat dan iklim (www.sciencedirect.com)
  17. ^ Di Australia (bioone.org)

Authors: Cathy Smith, Postdoctoral Research Associate, Leverhulme Centre for Wildfires, Environment and Society, Royal Holloway University of London

Read more https://theconversation.com/praktik-bakar-lahan-tradisional-terus-berkurang-tapi-ini-bukan-kabar-baik-217192

Magazine

Bahaya bertanya ke AI: Separuh jawaban kesehatan menyesatkan, meski terdengar meyakinkan

Ilustrasi AI.Who is Danny/Shutterstock.comBayangkan kamu baru saja didiagnosis kanker stadium awal. Sebelum janji temu berikutnya dengan dokter, kamu bertanya ke chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI...

Why Contractors Suction Hose Solutions Are Essential For Heavy-Duty Fluid Handling

In industries where materials move as relentlessly as time itself, equipment must match that intensity. Whether on construction sites, agricultural operations, or large-scale industrial setups, flui...

Skenario terburuk El Niño 2026: Puncak ‘neraka’ panas yang mengancam

Tahun ini Indonesia diprediksi bakal menghadapi musim kemarau yang tidak biasa. Bukan hanya sekadar panas, musim kemarau juga diperkirakan akan datang lebih cepat, lebih kering, dan masanya lebih lama...