Biodiversitas di ambang kritis, PR besar strategi konservasi pemerintahan Prabowo-Gibran
- Written by Ardiantiono, PhD Student, University of Kent
Prabowo-Gibran yang pencalonannya sebagai Presiden dan Wakil Presiden memantik kontroversi akan bekerja mulai 20 Oktober 2024.
Untuk mengawal pemerintahan mereka, kami menerbitkan edisi khusus #PantauPrabowo[1] yang memuat isu-isu penting hasil pemetaan kami bersama TCID Author Network. Edisi ini turut mengevaluasi 10 tahun pemerintahan Joko Widodo, sekaligus menjadi bekal Prabowo-Gibran menjalankan tugasnya.
Keanekaragaman hayati dunia menurun drastis dalam beberapa dekade terakhir. Laporan terbaru Living Planet Index[2] menunjukkan bahwa populasi satwa liar berkurang hingga 69% sepanjang rentang periode 1970 sampai 2018. Kondisi ini membuat pelaksanaan upaya-upaya konservasi semakin mendesak.
Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia menjadi salah satu pusat krisis biodiversitas[3] akibat tingginya tingkat kehilangan spesies dan habitat. Sayangnya, perhatian terhadap isu ini masih belum sebesar isu deforestasi atau perubahan iklim.
Pada akhir 2022, Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework[4] (GBF) disepakati sebagai langkah global melindungi biodiversitas, dengan salah satu target ambius melindungi 30% luas daratan dan laut pada tahun 2030 (30x30). Indonesia yang turut mengadopsi kesepakatan ini perlu segera mengambil langkah konkret untuk mewujudkannya.
Kondisi hari ini – tantangan konservasi biodiversitas
Indonesia berada di peringkat kedua dunia dalam hal nilai biodiversitas[5] dan nomor wahid untuk keanekaragaman spesies endemik.
Sekitar 63% wilayah daratan Indonesia masih berupa hutan[6] (~120 juta hektare), tapi hanya 18% diantaranya (22,1 juta hektare) yang berstatus kawasan konservasi.




