Bagaimana program pemeriksaan kesehatan gratis dapat percepat pengentasan TB di Indonesia?
- Written by Ronny Soviandhi, Assistant researcher, Center for Tropical Medicine, Universitas Gadjah Mada
Prabowo-Gibran yang pencalonannya sebagai Presiden dan Wakil Presiden memantik kontroversi telah mulai bekerja sejak 20 Oktober 2024.
Untuk mengawal pemerintahan mereka, kami menerbitkan edisi khusus #PantauPrabowo[1] yang memuat isu-isu penting hasil pemetaan kami bersama TCID Author Network. Edisi ini turut mengevaluasi 10 tahun pemerintahan Joko Widodo, sekaligus menjadi bekal Prabowo-Gibran selama menjalankan tugasnya.
Data terbaru Kementerian Kesehatan (Kemenkes)[2] memperkirakan terdapat lebih dari 1 juta kasus tuberkulosis (TB) di Indonesia dengan total kematian per tahun mencapai 134.000 jiwa. Artinya, ada 17 orang yang meninggal akibat TB setiap jamnya.
Kendati Indonesia berhasil mencapai rekor deteksi TB terbanyak hingga 809.000[3] kasus pada 2023, pemerintah perlu terus bekerja keras menanggulangi salah satu penyakit penyebab kematian terbesar[4] di negara ini.
Presiden Prabowo Subianto memasukkan pengentasan TB dan pemeriksaan kesehatan (MCU) gratis ke dalam tujuh program prioritas[5] (quick win) di 100 hari pemerintahannya. Pemerintahan Prabowo menganggarkan Rp8 triliun untuk pengentasan TB dan Rp3,2 triliun untuk MCU gratis.
MCU gratis ditujukan untuk 52,2 juta orang dan mencakup pemeriksaan tekanan darah, gula darah, foto rontgen chest x-ray (CXR) untuk skrining penyakit yang menelan biaya pengobatan besar (katastropik), serta pemeriksaan tuberkulosis. Fokusnya adalah untuk deteksi dini dan mencegah penyakit sesuai kategori usia.
Skrining TB gratis berpotensi untuk mempercepat pengentasan tuberkulosis[6] di Indonesia, setidaknya untuk membantu memenuhi target pemerintah dalam mengurangi kasus TB sebesar 50%[7] dalam lima tahun ke depan.
Skrining TB gratis untuk populasi rentan
Salah satu cara paling efektif[8] untuk mencegah penyebaran infeksi menular TB[9] adalah dengan melakukan deteksi dini disertai investigasi kontak dan active case finding (ACF) yang lebih masif. Tujuannya agar orang yang terinfeksi dan berisiko terinfeksi segera memperoleh terapi pencegahan TB.
Skrining TB gratis bisa menggunakan alat deteksi tuberkulosis yang telah digunakan beberapa tahun belakangan, seperti sinar-x portabel[10] dan tes TB CXR[11]. Namun, pemeriksaan perlu dipadukan dengan investigasi kontak, terutama untuk ODHIV yang tidak terdiagnosis TB, anak usia di bawah 5 tahun yang kontak erat dengan pasien TB aktif, dan populasi rentan lainnya.
Read more:
Penemuan kasus TB di Indonesia meningkat drastis: pemerintah harus segera lakukan ini[12]
Agar pemeriksaan tuberkulosis lebih efektif, pemerintah perlu meningkatkan ACF[13], yaitu rangkaian pemeriksaan riwayat penyakit dan gejala TB yang dilakukan dengan menentukan populasi kunci dan rentan di wilayah prioritas dengan kasus tuberkulosis terbanyak. Kegiatan ini juga meliputi pemeriksaan dahak dan protein tuberkulin[14] yang dihasilkan bakteri penyebab TB.
Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa strategi skrining TB dengan pendekatan ACF terbukti lebih hemat biaya[15] dan bisa meningkatkan hasil penemuan kasus[16] dalam jumlah besar pada populasi berisiko tinggi, dibandingkan pemeriksaan pada individu yang bergejala.




