Nasib kesetaraan gender di era Prabowo: Makin pesimis, namun masih ada harapan
- Written by Muhammad Ammar Hidayahtulloh, PhD Candidate, The University of Queensland
Prabowo-Gibran, yang pencalonannya sebagai Presiden dan Wakil Presiden memantik kontroversi, mulai bekerja sejak 20 Oktober 2024.
Untuk mengawal pemerintahan mereka, kami menerbitkan edisi khusus #PantauPrabowo[1] yang memuat isu-isu penting hasil pemetaan kami bersama TCID Author Network. Edisi ini turut mengevaluasi 10 tahun pemerintahan Joko Widodo, sekaligus menjadi bekal Prabowo-Gibran menjalankan tugasnya.
Pemerintahan Joko “Jokowi” Widodo meninggalkan sejumlah pekerjaan untuk Presiden Prabowo Subianto dalam mengentaskan kesenjangan gender. Berdasarkan Indeks Global Gender Gap yang dikeluarkan oleh World Economic Forum[2], skor kesenjangan gender di Indonesia hanya berkurang 0,013 sejak 10 tahun yang lalu. Indonesia tahun ini berada di posisi ke-100 dari 146 negara, turun dari posisi ke-97 dari 142 negara pada 2014.
Sulitnya menutup kesenjangan gender di Indonesia merefleksikan ketidakseriusan negara dalam menyusun dan mengimplementasikan kebijakan yang adil gender.
Prabowo telah menetapkan penguatan kesetaraan gender dan perlindungan hak perempuan menjadi 1 dari 17 program prioritas[3] pemerintahannya. Namun, tampaknya agenda kebijakan kesetaraan gender tidak akan banyak berubah, bahkan ada indikasi semakin memburuk.




