Diskursus “matinya kepakaran” di media sosial: Bagaimana agar ilmuwan tak kalah pamor dari ‘influencer’
- Written by Arli Aditya Parikesit, Professor of Bioinformatics, Indonesia International Institute for Life Sciences, Indonesia International Institute for Life Sciences
Di era digital ini, orang-orang lebih suka mendengarkan dan mengikuti influencers ketimbang para pakar[1]. Meski kerap tanpa dukungan latar belakang keilmuan yang memadai, para influencer mampu mendominasi percakapan publik dan mempengaruhi perilaku masyarakat[2].
Sebuah survei misalnya menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia lebih mempercayai influencer keuangan[3] ketimbang ekonom profesional dalam persoalan finansial.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara berkembang seperti Indonesia, namun juga di negara maju seperti Amerika Serikat. Masyarakat Amerika cenderung lebih percaya pada influencers kesehatan[4] daripada tenaga kesehatan di komunitas masing-masing. Riset membuktikan bahwa sebanyak 20% orang Amerika mencari saran tentang masalah kesehatan di Tiktok[5] terlebih dahulu, sebelum pergi ke dokter.
Studi lainnya menemukan bahwa 57% Gen Z dan 44% generasi milenial[6] di AS tertarik mencoba suatu produk setelah melihat unggahan influencer.
Fakta-fakta ini memperkuat diskursus tentang “matinya kepakaran”. Orang-orang lebih percaya dengan influencer alih-alih mencari para pakar. Apakah benar kepercayaan terhadap para pakar telah ‘mati’?
Matinya kepakaran
Fenomena “matinya kepakaran” pernah dibahas oleh penulis asal Amerika Serikat, Tom Nichols, dalam bukunya “The Death of Expertise: The Campaign against Established Knowledge and Why it Matters[7]” yang terbit pada 2017 silam.
Nichols menyoroti fenomena banyaknya orang yang merasa berpengetahuan setara dengan para ahli, meskipun mereka mungkin tidak memiliki kualifikasi atau pengetahuan yang sama. Hal ini terjadi berkat akses informasi yang mudah melalui teknologi dan internet. Misalnya hanya dengan mengetik beberapa kata di Google atau menonton video pendek di TikTok, orang-orang sudah merasa tahu segalanya. Influencers pun bermunculan menjadi ‘pakar-pakar dadakan’.
“Teknologi telah menciptakan dunia di mana kita semua seperti Cliff Clavin,” tulis Nichols.
Nichols menggambarkan orang-orang itu seperti Cliff Calvin-karakter fiksi dari sitkom Amerika “Cheers”, yang tayang dari tahun 1982 hingga 1993. Cliff yang diperankan oleh aktor John Ratzenberger, adalah seorang tukang pos yang dikenal sebagai salah satu pelanggan tetap bar Cheers.
Cliff sering duduk di bar itu, membual penuh percaya diri seolah tahu segalanya saat berbincang dengan teman-temannya. Padahal, ia tidak memiliki pengetahuan yang memadai dan sebagian besar informasi yang ia sampaikan hanya bualan belaka. Sialnya, orang-orang terus mendengarkannya.




