Bangkai kapal menjadi bom waktu yang mencemari dasar laut kita
- Written by Fraser Sturt, Professor of Archaeology, University of Southampton
Dasar lautan dan samudra menjadi kuburan bagi 8.500 bangkai kapal dari Perang Dunia I dan II. Kapal-kapal tersebut kemungkinan mengandung hingga enam miliar galon minyak[1], serta amunisi[2], logam berat beracun[3], bahkan senjata kimia.
Selama beberapa dekade, bangkai kapal ini terabaikan. Seiring waktu, strukturnya perlahan rusak[4], meningkatkan risiko pelepasan zat beracun yang mencemari lingkungan laut[5].
Bangkai kapal dari era perang dunia bukan satu-satunya di dasar laut, sehingga membuat masalah kian rumit.
Di beberapa wilayah, perubahan iklim memperburuk situasi ini. Suhu laut yang naik, keasaman air, dan badai yang lebih sering mempercepat kerusakan bangkai kapal.
Pun, biaya untuk menangani isu ini kemungkinan mencapai US$340 miliar (sekitar Rp5.444 triliun)[6].
Seberapa besar ancaman bangkai kapal ini terhadap keselamatan, komunitas pesisir, dan lingkungan? Apa yang bisa kita lakukan, dan mengapa belum dilakukan sebelumnya?
Memetakan masalah
Data angka dan peta yang menunjukkan lokasi bangkai kapal memang memprihatinkan. Penelitian Paul Heersink[7] sudah menggabungkan berbagai dataset untuk menggambarkan tantangan ini. Namun, data ini kerap memicu keyakinan yang salah.
Pemetaan rinci seputar lokasi bangkai kapal baru mencakup sekitar 23% dari lautan dunia. Bahkan, detail ini belum cukup untuk mengidentifikasi bangkai kapal atau menilai risikonya.
Upaya global seperti Proyek Seabed 2030[9] berupaya meningkatkan resolusi peta dasar laut hingga 100x100 meter. Artinya, satu “piksel” informasi setara dengan sekitar dua lapangan sepak bola.
Resolusi ini memang membawa perubahan besar dalam pemahaman kita tentang dasar laut. Namun, sejumlah detail kecil, termasuk banyak bangkai kapal yang tersembunyi di dalam area tersebut, tetap tidak akan terlihat.
Banyak dari bangkai kapal yang paling bermasalah sering ditemukan di perairan dangkal pesisir. Meski peta di area ini lebih rinci, tantangan identifikasinya tetaplah besar.
Bagaimana dengan catatan arsip? Catatan sejarah, seperti yang dimiliki oleh Lloyd’s Register Foundation[10], sangat penting untuk memberikan gambaran lebih pasti terhadap skala dan sifat persoalan ini. Catatan tersebut mencakup rincian struktur kapal, muatan yang dibawa, dan posisi terakhir sebelum hilang.
Akurasi posisi bangkai kapal tersebut bervariasi, sehingga menentukan lokasi tepatnya di dasar laut, bagaimana cara mensurveinya, dan menilai risikonya menjadi tugas yang tidak sederhana.
Hal ini terlihat jelas dari hasil kerja arkeolog maritim Inggris Innes McCartney[11] dan ahli oseanografi Mike Roberts[12]. Investigasi geofisika dan arsip yang mereka lakukan di Laut Irlandia menunjukkan bahwa bangkai kapal bersejarah sering kali salah diidentifikasi atau salah lokasi.
Ini berarti titik-titik pada peta sering kali berada di tempat yang salah, dan hingga 60% bangkai kapal mungkin berada di lokasi yang tidak diketahui di dasar laut.
Selain pertanyaan tanggung jawab yang mendasar, ada pula tantangan teknis. Sulit untuk mengetahui secara pasti berapa banyak bangkai kapal yang menjadi perhatian, serta cara menemukannya. Lalu, bagaimana menilai kondisi bangkai tersebut dan menentukan apakah intervensi perlu dilakukan? Jika ya, bagaimana cara intervensinya?
Setiap pertanyaan ini adalah tantangan kompleks yang membutuhkan kontribusi dari sejarawan, arkeolog, insinyur, ahli biologi, geofisikawan, geokimiawan, surveyor hidrografi, analis data geospasial, dan insinyur.
Langkah-langkah sudah dimulai. Ada proyek-proyek regional berhasil mencatat kemajuan penting dan menunjukkan apa yang dapat dicapai. Namun, skala masalah ini sangat besar sehingga jauh melampaui jumlah pencapaian sejauh ini.
Teknologi baru jelas menjadi kunci, begitu pula sikap baru. Inti dari masalah ini adalah pengetahuan dan kepastian: apakah ini benar-benar bangkai kapal yang kita pikirkan? Apakah itu menjadi masalah? Jika ya, dalam rentang waktu seperti apa?
Kemajuan teknologi peranti nirawak bawah laut atau Autonomous Underwater Vehicles (AUV) yang dilengkapi dengan berbagai sensor untuk mengukur dasar laut dan mendeteksi polutan dapat membantu[16] meningkatkan pengetahuan kita tentang lokasi bangkai kapal, apa yang mereka bawa, dan tingkat kerusakannya. AUV dapat menyediakan data resolusi tinggi dengan biaya relatif murah dan menghasilkan lebih sedikit emisi dibandingkan upaya survei serupa dengan kapal penelitian besar.
Namun, kita juga perlu berbagi informasi tersebut dan membandingkannya dengan data dari arsip-arsip untuk membantu menghasilkan pengetahuan dan memperkuat tingkat kepastian. Survei dan investigasi bawah laut terlalu sering dilakukan secara terpisah. Datanya tersebar di lembaga-lembaga atau perusahaan individu, sehingga menghambat peningkatan pemahaman yang cepat dan kumulatif.
Kita belum sepenuhnya mengetahui tingkat keparahan risiko lingkungan dan keselamatan akibat teronggoknya bangkai kapal di dasar laut, serta bagaimana itu berubah seiring waktu. Namun, ini adalah masalah yang dapat kita selesaikan.
Kita membutuhkan tindakan yang berbasis kerangka kerja regulasi dan pendanaan yang kuat, serta standar teknis untuk pemulihan. Kemitraan global—bernama Proyek Tangaroa[17]—telah terbentuk untuk merangsang perumusan kerangka kerja tersebut. Namun, perlu kemauan politik dan pendanaan untuk mewujudkannya.
Melalui pekerjaan arsip dan survei yang terfokus, serta dengan berbagi data dan ide, kita dapat mencapai harapan bersama bahwa laut bukan lagi tempat pembuangan masalah yang terabaikan hari ini—dan sebenarnya bisa lebih berbahaya di masa depan.
References
- ^ enam miliar galon minyak (iucn.org)
- ^ amunisi (www.newscientist.com)
- ^ logam berat beracun (www.newscientist.com)
- ^ rusak (link.springer.com)
- ^ lingkungan laut (www.sciencedirect.com)
- ^ US$340 miliar (sekitar Rp5.444 triliun) (hec.lrfoundation.org.uk)
- ^ Paul Heersink (resources.esri.ca)
- ^ Paul Heersink (klik untuk melihat peta) (mapsterman.maps.arcgis.com)
- ^ Proyek Seabed 2030 (seabed2030.org)
- ^ Lloyd’s Register Foundation (hec.lrfoundation.org.uk)
- ^ Innes McCartney (hec.lrfoundation.org.uk)
- ^ Mike Roberts (www.bangor.ac.uk)
- ^ Naoto Jack Fukushima/Shutterstock (www.shutterstock.com)
- ^ tidak memiliki hubungan dengan pemilik kapal asli (link.springer.com)
- ^ USGS (www.usgs.gov)
- ^ dapat membantu (oceanperception.com)
- ^ Proyek Tangaroa (www.project-tangaroa.org)
Authors: Fraser Sturt, Professor of Archaeology, University of Southampton
Read more https://theconversation.com/bangkai-kapal-menjadi-bom-waktu-yang-mencemari-dasar-laut-kita-246037




