Pembabatan hutan picu penyakit: Pemerintah jangan abai
- Written by Robby Jannatan, Lecturer of Biology, Universitas Andalas
Prabowo-Gibran yang pencalonannya sebagai Presiden dan Wakil Presiden memantik kontroversi telah mulai bekerja sejak 20 Oktober 2024.
Untuk mengawal pemerintahan mereka, kami menerbitkan edisi khusus #PantauPrabowo[1] yang memuat isu-isu penting hasil pemetaan kami bersama TCID Author Network. Edisi ini turut mengevaluasi 10 tahun pemerintahan Joko Widodo, sekaligus menjadi bekal Prabowo-Gibran selama menjalankan tugasnya.
Selama 10 tahun terakhir, Indonesia diperkirakan kehilangan 12,5 juta hektare (ha) hutan[2]. Jumlah ini termasuk 1.500 ha hutan[3] yang dibuka untuk proyek food estate “warisan” Jokowi, di desa Tewai Baru, Gunung Mas, Kalimantan Tengah.
Di bawah kepemimpinan Prabowo, deforestasi berisiko makin menggila. Pemerintah, misalnya, berencana membuka 2 juta ha lahan aren[4] demi mengejar program swasembada energi melalui bioetanol.
Masifnya pembabatan hutan di Indonesia disebabkan pula oleh industri penebangan kayu, tekstil, kelapa sawit, dan pertambangan. Berkurangnya luas hutan ini berdampak signifikan terhadap menghilangnya habitat satwa liar.
Banyak hewan yang sumber makanannya bergantung pada hutan, terpaksa mencari makanan di lahan pertanian dan pemukiman warga. Interaksi antara manusia dan satwa liar pun meningkat, beberapa di antaranya berujung konflik[5]—yang sebagian besar terjadi di hutan sekunder, lahan wanatani, maupun pertanian masyarakat.
Lebih dari itu, peningkatan interaksi manusia dengan satwa liar juga memperbesar risiko terjadinya zoonosis, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia.
Pembabatan hutan picu zoonosis
Penyebaran kuman dari satwa ke manusia lebih banyak terjadi di hutan sekunder, lahan pertanian, dan permukiman. Penelitian menunjukkan bahwa pembabatan hutan meningkatkan keberagaman jenis satwa pembawa penyakit[6] sebanyak 18-72%, dengan total jumlah spesies mencapai 144% lebih banyak di ketiga kawasan tersebut. Hal ini jika dibandingkan ketika hewan berada di habitat alaminya, seperti hutan primer yang belum terdampak aktivitas manusia.
Peningkatan ini terjadi karena pembabatan hutan[7] mengurangi jumlah karnivora. Alhasil, jumlah hewan pembawa penyakit yang menjadi mangsa (seperti primata, kelelawar, burung, dan tikus) meningkat. HIV[8], misalnya, merupakan salah satu penyakit zoonosis yang awalnya hanya menular di antara primata.
Adapun penyakit zoonosis yang berasal dari kelelawar[9], seperti virus Nipah[10], virus Hendra, MERS, ebola[11], demam berdarah Marburg, hingga SARS. Penyebaran SARS maupun SARS-CoV merupakan contoh dampak berkelanjutan[12] dari penebangan hutan di Cina, Vietnam, dan Asia Tenggara.
Read more:
Mengatasi deforestasi dan penyebaran penyakit di Indonesia harus dilakukan bersamaan, begini caranya[13]
Penebangan hutan juga meningkatkan distribusi penyakit yang dibawa oleh nyamuk[14], seperti malaria[15], Zika, dan demam berdarah. Sebanyak 75%[16] penyakit yang muncul melalui jalur zoonosis merupakan penyakit infeksi baru maupun penyakit yang timbul kembali setelah lama hilang.
Read more https://theconversation.com/pembabatan-hutan-picu-penyakit-pemerintah-jangan-abai-245566




