Pelajaran dari Sukatani: Ketika punk ditekan, masihkah musik mampu melawan?
- Written by Sari Kistiana, Researcher at Reseach Centre for Population of National Research and Innovation Agency (BRIN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
● Sejarah menunjukkan bahwa subkultur punk selalu identik dengan perlawanan sosial.
● Punk merambah ke seluruh dunia, dari Amerika Serikat hingga Cina.
● Kasus Sukatani menunjukkan dilema komunitas punk di Indonesia: terus bersuara atau dilemahkan lewat sensor.
Lagu “Bayar Bayar Bayar[1]” milik band punk Sukatani mendapat perhatian publik setelah ditarik dari berbagai platform seperti Spotify dan YouTube. Pada 20 Februari 2025, dua personel band tersebut menyampaikan permintaan maaf di media sosial kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan institusinya atas lirik yang menyerukan frasa “bayar polisi”.
Ramai mendapat dukungan publik, band ini akhirnya manggung lagi. Dalam unggahan di medsos[2], mereka menjelaskan penarikan lagu itu dilakukan karena mendapat tekanan dan intimidasi akibat keberanian mereka menyuarakan ketidakadilan.
Kejadian ini mencerminkan pola yang sering terjadi dalam sejarah punk: kritik terhadap sistem berujung pada tekanan, sensor, dan pembatasan.
Bukan yang pertama–dan terakhir
Contohnya, The Clash[3] di Inggris awalnya vokal terhadap isu politik seperti kekerasan polisi, kurangnya kesempatan ekonomi bagi pemuda kelas pekerja, dominasi budaya hiburan komersil Amerika, dukungan terhadap Front Pembebasan Nasional Sandinista (FSLN) di Nikaragua, dan menentang intervensi Amerika Serikat (AS) di Amerika Tengah.
Namun, penyensoran lagu ‘White Riot[4]’—sulit disiarkan di BBC karena liriknya kontroversial—membuat mereka akhirnya mengambil pendekatan lebih moderat.
Di negara otoriter seperti Uni Soviet[5] dan Cina[6], band punk juga kerap ditekan dan dipaksa untuk menyensor musik mereka.
Kasus Sukatani memunculkan kekhawatiran bahwa musisi punk kini menghadapi lebih banyak batasan, terutama ketika kritik mereka menyentuh institusi yang berkuasa. Jika musisi semakin terpaksa menyensor diri sendiri atau meminta maaf atas kritik yang mereka sampaikan, esensi punk sebagai gerakan sosial bisa semakin melemah.
References
- ^ Bayar Bayar Bayar (www.youtube.com)
- ^ Dalam unggahan di medsos (www.instagram.com)
- ^ The Clash (www.researchgate.net)
- ^ White Riot (faroutmagazine.co.uk)
- ^ Uni Soviet (knightscholar.geneseo.edu)
- ^ Cina (intellectdiscover.com)
- ^ krisis minyak 1973 (academic.oup.com)
- ^ neoliberal (www.jstor.org)
- ^ Inggris (westcollections.wcsu.edu)
- ^ Sex Pistols (www.tandfonline.com)
- ^ The Clash (www.researchgate.net)
- ^ Dead Kennedys (www.researchgate.net)
- ^ Minor Threat (www.researchgate.net)
- ^ Riot Grrrls (www.tandfonline.com)
- ^ Penelitian tentang punk dan pergerakan sosial (www.researchgate.net)
- ^ riset tentang subkultur punk di Meksiko (www.researchgate.net)
- ^ perjuangan Zapatista di Chiapas, gerakan okupasi rumah kosong di Eropa, hak perempuan di Meksiko, serta gerakan sosial Eropa seperti Provos dan Situationists (www.researchgate.net)
- ^ Dag Nasty dan Soulside (www.tandfonline.com)
- ^ Marjinal (www.cnnindonesia.com)
- ^ Endank Soekamti (journal.trunojoyo.ac.id)
- ^ Punk for me was a social movement (www.researchgate.net)
- ^ dipengaruhi oleh sikap antiotoritarianisme dan kecurigaan terhadap kekuasaan korporasi serta negara (www.researchgate.net)
Authors: Sari Kistiana, Researcher at Reseach Centre for Population of National Research and Innovation Agency (BRIN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)




