Restorasi bukan lomba menumbuhkan terumbu karang, pemulihan ekosistem yang harus jadi prioritas
- Written by Dr. Zach Boakes, Postdoctoral research fellow, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Dalam dua dekade terakhir, semangat dan inisiasi restorasi terumbu karang berkembang pesat di seluruh dunia.
Dari Indonesia hingga Karibia, ribuan proyek telah diluncurkan dengan tujuan “menyelamatkan” terumbu karang. Umumnya restorasi dilakukan melalui penanaman potongan karang baru atau membuat terumbu buatan untuk tempat karang tumbuh kembali.
Sebagai ilmuwan yang sudah meneliti terumbu alami maupun terumbu hasil restorasi selama puluhan tahun, kami menyambut upaya ini dengan penuh harap. Namun, kami juga menyadari ada satu hal penting yang kerap terlewatkan.
Dalam riset terbaru[1] yang terbit di jurnal Restoration Ecology, sebagian besar program restorasi terlalu fokus berlomba-lomba meningkatkan jumlah pertumbuhan karang semata.
Kebanyakan kerap melupakan apakah terumbu tersebut benar-benar berfungsi sebagai sebuah ekosistem yang hidup.
Oleh karenanya, seiring meningkatnya perhatian dan kucuran dana restorasi terumbu karang di seluruh dunia yang mencapai jutaan dolar tiap tahun[2], kami menilai perlu perubahan besar dalam cara kita memulihkan terumbu karang.
Sebagian besar program restorasi mengukur kemajuan hanya melalui indikator sederhana, seperti tutupan dan laju pertumbuhan karang.
Pengumpulan data semacam ini memang relatif lebih mudah—tetapi tidak menggambarkan kondisi seutuhnya.
Kehidupan terumbu karang bergantung pada arus energi dan nutrien (zat makanan) yang terus-menerus mengalir di antara semua makhluk yang hidup di laut.
Jadi, arus ini tidak bersumber dari karang itu saja, tetapi juga dari interaksi beragam organisme lain di terumbu[3], seperti ikan, spons, dan alga, yang memberi dan menerima energi serta nutrien kompleks.
Para ilmuwan menyebut proses ini sebagai “fungsi ekosistem”[4], saat makhluk hidup di suatu ekosistem bekerja sama menjaga agar energi dan nutrien terus berputar, sehingga seluruh sistem tetap hidup dan seimbang.
Read more: Riset: Terumbu karang yang rusak akibat bom ikan sulit pulih alami, bahkan setelah puluhan tahun[5]
Namun, riset[6] kami menunjukkan bahwa program restorasi terumbu karang kebanyakan hanya fokus mengejar hasil instan dengan waktu singkat. Caranya yang paling umum biasanya dengan menanam jenis karang bercabang yang tumbuh cepat.
Sekilas, hasilnya tampak mengesankan. Tapi dalam jangka panjang, ekosistem tersebut berisiko tidak stabil karena keanekaragaman spesies menurun. Akibatnya terumbu tidak sekuat dan sefungsional terumbu alami untuk mendukung kehidupan flora dan fauna laut.
Dengan kata lain, mayoritas program restorasi hanya mementingkan tampak luar, bukan memulihkan keseluruhan ekosistem. Upaya-upaya ini justru mengalihkan perhatian dari penyebab utama kerusakan terumbu karang, terutama pemanasan global dan perubahan iklim.
Peningkatan pendanaan dan perhatian untuk pemulihan terumbu karang seharusnya menggeser fokus program restorasi berikutnya ke tujuan utama, yaitu menciptakan terumbu yang mampu berfungsi secara ekologis untuk mendukung keanekaragaman hayati dan ekosistem laut secara keseluruhan.
Kami mengusulkan tiga langkah utama untuk mencapainya:
1. Mengukur fungsi ekosistem
Butuh sistem monitoring jangka panjang untuk tahu apakah terumbu karang benar-benar berfungsi seperti ekosistem alami.
Sayangnya, hal ini jarang menjadi bagian dari proyek restorasi terumbu karang. Lebih dari 60% program hanya melakukan pemantauan kurang dari 18 bulan[7].
Dan itu pun sebagian besar hanya mengukur indikator sederhana, seperti pertumbuhan karang. Sementara data tentang pemulihan fungsi ekosistem secara keseluruhan sangat sedikit, sehingga sulit menilai kemajuannya.
Kabar baiknya, mengukur fungsi ekosistem di terumbu karang sebenarnya tidak sulit.
Dalam riset ini[8], kami menjelaskan langkah demi langkah delapan proses utama untuk mengukur fungsi ekosistem terumbu karang (tercantum dalam infografis).
Menerapkan langkah-langkah pemantauan ini sangat penting untuk menilai apakah, dan sejauh mana, upaya restorasi tersebut benar-benar berkontribusi untuk mendukung fungsi ekosistem sebagaimana terumbu alami.
2. Jangan lupakan perubahan iklim
Banyak proyek restorasi hanya fokus menanam karang bercabang yang tumbuh cepat seperti Acroporidae, agar terlihat sukses dalam waktu singkat[9].
Masalahnya, jenis karang ini termasuk yang paling rentan terhadap stres panas. Jadi, kalau suhu laut naik akibat perubahan iklim, karang-karang di seluruh lokasi restorasi bisa mati karena peristiwa pemutihan karang di masa depan[10].
Oleh karenanya, kami menyarankan agar program restorasi menanam campuran karang yang lebih beragam, termasuk spesies yang lebih tahan panas seperti Platygyra daedalea[11].
Namun, jika pemanasan global terus berlanjut seperti sekarang, tentu spesies karang yang paling tahan[12] sekalipun mungkin saja tidak akan mampu bertahan.
Karena itu, kami mengusulkan agar upaya restorasi lebih berfokus pada pemeliharaan fungsi ekosistem. Dengan cara ini, meski karang tidak bisa pulih sepenuhnya, terumbu hasil restorasi masih bisa menjalankan fungsi-fungsi pentingnya dan tetap bernilai secara ekologis maupun ekonomi.
3. Identifikasi dan lindungi “pahlawan-pahlawan terlupakan”
Ada beragam flora dan fauna terumbu (seperti terlihat pada gambar 1) yang diam-diam menjaga kelangsungan terumbu karang dan menjalankan fungsi-fungsi penting. Misalnya, alga koralin berkerak yang membantu pengapuran kerangka karang sehingga memperkuat struktur terumbu.
Adapula ikan kakatua (parrotfish), dengan mulutnya yang seperti paruh menggerus permukaan karang atau ikan baronang yang memakan berbagai jenis alga, sehingga mencegah pertumbuhan alga berlebihan yang bisa menghambat pertumbuhan karang.
Sayangnya, spesies-spesies ini jarang menjadi bagian dari rencana restorasi, padahal tanpa mereka, terumbu tidak akan berfungsi dengan baik.
Kami mendorong program restorasi dan pengelolaan terumbu karang mulai mengidentifikasi serta melindungi “pahlawan-pahlawan terlupakan” ini.
Studi kami bukan bermaksud untuk mengkritik pekerjaan restorasi. Kami hanya ingin memastikan bahwa upaya restorasi ekosistem berharga ini benar-benar efektif dalam jangka panjang.
Restorasi terumbu sering dianggap sebagai ajang perlombaan untuk menutupi dasar laut dengan karang secepat mungkin. Padahal kenyataannya, upaya ini adalah maraton panjang untuk membangun kembali jaringan hubungan kompleks yang menopang seluruh kehidupan terumbu.
Upaya restorasi harus mempertimbangkan perspektif jangka panjang ini, memastikan bahwa setiap tahap perencanaan dan pelaksanaannya benar-benar memaksimalkan nilai ekologis.
References
- ^ riset terbaru (onlinelibrary.wiley.com)
- ^ tiap tahun (www.cell.com)
- ^ beragam organisme lain di terumbu (esajournals.onlinelibrary.wiley.com)
- ^ “fungsi ekosistem” (besjournals.onlinelibrary.wiley.com)
- ^ Riset: Terumbu karang yang rusak akibat bom ikan sulit pulih alami, bahkan setelah puluhan tahun (theconversation.com)
- ^ riset (onlinelibrary.wiley.com)
- ^ kurang dari 18 bulan (journals.plos.org)
- ^ riset ini (onlinelibrary.wiley.com)
- ^ terlihat sukses dalam waktu singkat (www.cell.com)
- ^ pemutihan karang di masa depan (doi.org)
- ^ Platygyra daedalea (onlinelibrary.wiley.com)
- ^ yang paling tahan (www.pnas.org)
- ^ https://earthwatch.org/expeditions/restoring-coral-reefs-bali (theconversation.com)
Authors: Dr. Zach Boakes, Postdoctoral research fellow, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)




