Risiko ‘burnout’ ancam bidan di Indonesia: Dibebani tugas administrasi, harus hadapi pasien 24 jam
- Written by Anissa Rizkianti, Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
● Bidan menangani 80% pelayanan kesehatan primer di Indonesia, termasuk ibu dan anak.
● Bidan berisiko tinggi burnout karena dibebani tugas administrasi dan harus menangani ribuan pasien nyaris 24 jam.
● Pemerintah perlu membuat kebijakan untuk kurangi beban administratif dan perkuat dukungan psikososial bagi bidan.
Bidan memegang peran kunci dalam meningkatkan kesehatan ibu, anak, dan keluarga Indonesia.
Sebuah studi di Indonesia[1] (2022) menunjukkan hampir 80% pelayanan kesehatan primer ditangani oleh bidan. Ini termasuk pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) yang mencakup pemeriksaan kehamilan, pendampingan persalinan, perawatan usai melahirkan, serta perawatan bayi baru lahir.
Angka ini mencerminkan posisi strategis bidan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat. Namun di baliknya, tersembunyi kerja keras dan pengabdian yang kerap luput dari perhatian publik.
Antara dedikasi dan beban ganda pekerjaan
Di Desa Uzuzozo[2], Nusa Tenggara Timur, bidan Theresia Dwiaudina Sari Putri (akrab disapa Dinny), memperlihatkan bahwa peran bidan bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati.
Sejak mengabdi di kampung halamannya, ia menghadapi berbagai keterbatasan, seperti minimnya fasilitas, sulitnya akses, serta kepercayaan masyarakat terhadap dukun bersalin.
Meski menghadapi tantangan, Dinny tidak menyerah. Ia membangun kepercayaan warga[3] dengan merangkul para dukun tradisional, dan mendampingi ibu hamil dari awal kehamilan hingga setelah melahirkan. Ia juga mendata gizi balita, promosi keluarga berencana (KB), serta edukasi sanitasi dan kesehatan lingkungan.
Hasilnya, angka stunting di Desa Uzuzozo menurun drastis[4]. Seluruh persalinan kini berlangsung di fasilitas kesehatan.
Dinny merupakan potret bidan di Indonesia yang menghadapi beban sangat kompleks.
Menurut Kementerian Kesehatan[5], idealnya ada 2 bidan untuk menangani 1.000 penduduk. Namun kenyataannya, jumlah bidan di sejumlah provinsi masih jauh dari angka ideal.
Di provinsi-provinsi padat, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, rasionya[6] hanya berkisar antara 1,1 - 1,3 bidan per 1.000 penduduk.
Sementara di daerah terpencil[7] (seperti Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat Daya, dan Papua Pegunungan) rasionya sangat kecil, yaitu kurang dari 1 bidan per 1.000 penduduk.
Dalam kondisi seperti ini, jam kerja bidan nyaris tidak mengenal waktu. Bidan dituntut untuk selalu siap merespons panggilan darurat, membantu persalinan di luar jam kerja, hingga memberikan perawatan berkelanjutan bagi pasien.
Di samping itu, bidan juga disibukkan dengan berbagai tugas administrasi, meliputi pelaporan rutin, pengisian formulir, serta pencatatan indikator program yang harus dilaporkan ke puskesmas atau dinas kesehatan.
Ganggu kesehatan mental dan kualitas layanan
Beban kerja berlebih berpotensi menyebabkan bidan mengalami kelelahan kronis dan stres (burnout)[9].
Sejumlah penelitian mengungkap peningkatan risiko burnout pada bidan[10] paling banyak dipicu oleh faktor administratif dan manajerial[11].
Burnout tidak hanya berdampak pada fisik[12], tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan bidan dalam membuat keputusan klinis yang tepat, serta menjaga relasi yang sehat dengan rekan kerja.
Riset di Indonesia (2024) menunjukkan bahwa kelelahan yang dialami bidan juga bisa mengurangi kualitas pelayanan[13]. Misalnya, bidan jadi melewatkan prosedur penting seperti pencatatan tumbuh kembang bayi dan edukasi menyusui.
Dalam jangka panjang[14], tekanan semacam ini bahkan bisa menurunkan motivasi, meningkatkan angka pengunduran diri bidan, dan menghambat regenerasi tenaga kesehatan di masyarakat.
Sayangnya, banyak bidan tidak memiliki ruang untuk menyuarakan tekanan yang mereka hadapi akibat ketiadaan mekanisme pelaporan yang aman. Layanan konseling di lingkungan kerja juga minim.
Butuh kebijakan yang berpihak
Untuk menjawab tantangan ini, Indonesia perlu membuat kebijakan yang melindungi bidan. Pemerintah pusat dan daerah perlu memastikan ketersediaan dukungan struktural, mulai dari alokasi tenaga pendukung hingga menyediakan fasilitas kerja yang layak.
Beban administrasi berlebihan juga perlu ditinjau ulang agar bidan bisa berfokus pada pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Sudah saatnya pemerintah membuat kebijakan untuk mengurangi beban administratif yang menumpuk, memperkuat dukungan psikososial, dan memberikan insentif yang mencerminkan realitas kerja di lapangan.
Kebijakan insentif perlu disesuaikan dengan beban dan lokasi kerja. Tujuannya agar bidan yang bertugas di daerah sulit mendapat penghargaan yang lebih layak.
Kesehatan mental bidan juga perlu diperhatikan. Langkah awal yang bisa dilakukan, seperti menyediakan konseling, membentuk forum berbagi antarbidan, serta memberikan pelatihan agar mereka bisa mengelola stres dengan baik.
Sudah waktunya bidan mendapatkan dukungan yang layak, agar mereka tak terus menanggung beban berat seorang diri. Bidan layak mendapat fasilitas yang memadai, dukungan emosional yang nyata, dan penghargaan yang setimpal.
Ini sejalan dengan amanat Undang-Undang No. 4 Tahun 2019 tentang Kebidanan, yang menekankan perlunya perlindungan dan penghargaan[16] atas profesionalisme bidan.
Sebab, di balik kerja keras mereka, tersimpan harapan besar bagi masa depan kesehatan ibu dan anak Indonesia.
References
- ^ Sebuah studi di Indonesia (www.sciencedirect.com)
- ^ Desa Uzuzozo (www.radioidola.com)
- ^ membangun kepercayaan warga (kabar24.bisnis.com)
- ^ menurun drastis (kabar24.bisnis.com)
- ^ Menurut Kementerian Kesehatan (eplanning-ditjennakes.kemkes.go.id)
- ^ rasionya (eplanning-ditjennakes.kemkes.go.id)
- ^ daerah terpencil (eplanning-ditjennakes.kemkes.go.id)
- ^ Andaris Bangsawan / Shutterstock (www.shutterstock.com)
- ^ kelelahan kronis dan stres (burnout) (vuir.vu.edu.au)
- ^ risiko burnout pada bidan (vuir.vu.edu.au)
- ^ faktor administratif dan manajerial (ejurnalmalahayati.ac.id)
- ^ tidak hanya berdampak pada fisik (www.cell.com)
- ^ mengurangi kualitas pelayanan (forikes-ejournal.com)
- ^ Dalam jangka panjang (www.sciencedirect.com)
- ^ Ikanoup / Shutterstock (www.shutterstock.com)
- ^ perlunya perlindungan dan penghargaan (peraturan.bpk.go.id)
Authors: Anissa Rizkianti, Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)




