Asian Spectator


The Times

.

Kontroversi penulis dan ‘reviewer’ AI dalam penerbitan karya ilmiah

  • Written by Rohmatulloh, Dosen Universitas Islam An Nur, Universitas Islam An Nur Lampung

● Konferensi Agents4Science 2025 di Amerika Serikat (AS) memicu pro–kontra karena melibatkan AI sebagai penulis dan ‘reviewer’.

● AI boleh dipakai untuk tugas teknis dalam penulisan, tapi harus diungkap jika memengaruhi substansi riset sesuai aturan jurnal.

● Telaah sejawat AI dan manusia dapat meningkatkan efisiensi, tetapi kendalinya harus tetap ada di manusia.

Oktober lalu, kelompok peneliti artificial intelligence (AI) di Stanford University, Amerika Serikat (AS), menyelenggarakan konferensi akademis Agents4Science 2025[1]. Kegiatan ini mempresentasikan 48 naskah terpilih dari para peneliti ilmu komputer dan data, ilmu hayati dan kesehatan, sains alam dan sosial, teknik dan teknologi, dan ilmu lainnya.

Menariknya, konferensi tersebut mengizinkan AI sebagai penulis utama dan reviewer (penelaah) sebuah karya ilmiah. Mereka memadukan tiga peninjau mesin AI dan satu kecerdasan manusia dalam proses peer review (telaah sejawat ahli). Konferensi ini memang dirancang untuk menangkap pergeseran paradigma penggunaan AI dalam sains[2] yang telah terjadi selama setahun terakhir.

Terlepas dari tujuannya, forum ini mendapatkan banyak reaksi pro dan kontra[3] dari para peneliti AI lainnya di berbagai negara.

Read more: Masyarakat mulai lelah terhadap AI: Berpeluang makin masif di masa depan[4]

Dengan kemajuan teknologi AI generatif, penulis dan peninjau artikel ilmiah kini dapat berkolaborasi dengan mesin. Penggunaan AI sah-sah saja, tapi perlu ada panduan etika khusus agar tetap menjunjung integritas yang benar.

Penggunaan dan pengungkapan AI

Kebijakan etika penerbit jurnal bereputasi global, seperti Taylor and Francis[5] dan Springer[6] menekankan secara eksplisit penggunaan AI bagi penulis, editor, dan penelaah. Mereka tegas bersikap bahwa AI tidak dapat dicantumkan sebagai penulis—baik itu penulis utama atau mitra penulis (co-author).

Read more: 5 cara menggunakan AI secara etis dalam publikasi riset[7]

Penyebutan penggunaan AI di artikel ilmiah memang memunculkan berbagai kekhawatiran dengan beberapa pertimbangan di kalangan ilmuwan, akademisi dan mahasiswa, serta penulis sendiri.

Pertama, pengungkapan secara jujur membuat beberapa penulis merasa nilai karya ilmiahnya berkurang[8].

Kedua, pengungkapan dapat menurunkan kemampuan keterampilan menulis[9] yang setara dengan kemampuan berpikir kritis, mensintesis temuan penelitian, dan mengevaluasi wacana ilmiah dalam bidang ilmunya.

Ketiga, pengungkapan memunculkan kekhawatiran terkait akurasi, dan integritas AI ketika digunakan untuk menulis naskah akademis[10].

Namun, penulis memiliki pengalaman lain ketika memasukan naskah tinjauan buku ke Journal of Applied Learning and Teaching[11] awal 2025. Saat itu, penulis mendapatkan saran agar penggunaan AI hanya untuk meningkatkan mutu penulisan kalimat dan paragraf.

Artinya, penggunaan AI tidak menjadi soal selama berada dalam koridor yang wajar. Manusia juga tetap harus memegang kendali dalam memeriksa keluaran akhirnya.

Yang penting adalah mempelajari tata cara dan koridor penggunaan AI secara etis[12], termasuk bagian-bagian yang dapat diterima. Sebagai contoh, pemeriksaan seputar tata bahasa dan ejaan, tingkat keterbacaan, dan terjemahan bahasa.

Ada juga tugas yang perlu dihindari seperti menyusun teks baru dalam kajian literatur, mengembangkan konsep baru, dan interpretasi data.

Penulis artikel juga harus mengetahui kapan penggunaan AI dapat diungkapkan secara wajib maupun tidak[13]. Pengungkapan bersifat wajib terjadi ketika penggunaan AI secara langsung memengaruhi hasil riset semisal menghasilkan konten, data, atau gambar, termasuk dalam menganalisisnya.

Adapun, pengungkapan yang bersifat opsional mencakup penggunaan AI untuk penyuntingan tata bahasa dan ejaan, teman diskusi, asisten digital mengelola alur kerja proyek, dan sejenisnya.

Namun, kedua metode penerapan ini tidak berlaku umum. Sebab, ada jurnal yang meminta deklarasi penggunaan AI di naskah walaupun hanya untuk penyuntingan bahasa dan ejaan.

AI sebagai rekan sejawat

Beberapa jurnal mulai menggunakan AI sebagai 'peer reviewer'.
Beberapa jurnal mulai menggunakan AI sebagai peer reviewer. ImageFlow/shutterstock[14]

Telaah sejawat ahli[15] merupakan bagian penting dari proses publikasi ilmiah. Tahapan ini dilakukan untuk memastikan mutu proses riset dari hulu sampai hilir, kredibilitas, dan integritas ilmiahnya.

Dalam perkembangannya, telaah sejawat terus berinovasi[16] mengikuti dinamika perkembangan sains yang begitu kompleks dan dinamis, sesuai temuan dan model terbaru.

Dari yang awalnya tinjauan tertutup (single/blind peer review), hingga menjadi terbuka (transparent/open peer review) serta kolaboratif (interactive/collaborative peer review).

Kini, telaah sejawat tidak lagi hanya dilakukan antar sesama peninjau manusia (human reviewer), tetapi juga melibatkan AI sebagai rekan kolaboratif dalam bidang akademis[17]. Tapi AI bukanlah pengganti manusia.

Untuk menjembatani peran AI, para ahli melihat potensi model telaah sejawat hibrida—AI plus manusia[18]. Metode ini diharapkan menjadi solusi untuk menyatukan keunggulan mesin yang mampu menyederhanakan tugas-tugas yang berulang dan rutin sehingga menjadi efisien dan konsisten.

Namun idealnya, kolaborasi ini tetap dipimpin oleh manusia yang memiliki pemahaman substansi yang kontekstual mendalam, pengambilan keputusan, dan penilaian dimensi etikanya. Prasyarat ini perlu dituangkan dalam aturan penggunaan AI agar tidak menjadi potensi masalah baru.

Baik penulis maupun peninjau perlu memahami dengan baik pedoman etis[19] terkait apa yang dapat dan tidak dapat diterima sebagai alat bantu dalam proses penulisan dan publikasi artikel ilmiah.

Contohnya, seorang peneliti pernah tidak mau menerima dua laporan telaah anonim karena diyakini menggunakan AI[20]. Masalah ini memunculkan perdebatan antara penulis dan editor sehingga penulis menarik kembali naskahnya.

Read more: Penggunaan ChatGPT tak perlu dilarang: layanan AI bisa mendukung riset dan pendidikan[21]

Karena itu, integrasi AI dan manusia harus berpijak pada manusia sebagai pengendali teknologi. Ini penting untuk mendapatkan publikasi ilmiah yang bermutu dan berintegritas.

Sebab pada akhirnya, keunggulan AI dapat kita manfaatkan, tapi dampak negatifnya harus dimitigasi dengan baik[22] untuk menghindari hal-hal yang dapat mencoreng pekerjaan ilmiah.

References

  1. ^ Agents4Science 2025 (agents4science.stanford.edu)
  2. ^ pergeseran paradigma penggunaan AI dalam sains (doi.org)
  3. ^ mendapatkan banyak reaksi pro dan kontra (sciencemediacentre.es)
  4. ^ Masyarakat mulai lelah terhadap AI: Berpeluang makin masif di masa depan (theconversation.com)
  5. ^ Taylor and Francis (taylorandfrancis.com)
  6. ^ Springer (www.springernature.com)
  7. ^ 5 cara menggunakan AI secara etis dalam publikasi riset (theconversation.com)
  8. ^ pengungkapan secara jujur membuat beberapa penulis merasa nilai karya ilmiahnya berkurang (doi.org)
  9. ^ pengungkapan dapat menurunkan kemampuan keterampilan menulis (doi.org)
  10. ^ akurasi, dan integritas AI ketika digunakan untuk menulis naskah akademis (doi.org)
  11. ^ Journal of Applied Learning and Teaching (journals.sfu.ca)
  12. ^ tata cara dan koridor penggunaan AI secara etis (doi.org)
  13. ^ kapan penggunaan AI dapat diungkapkan secara wajib maupun tidak (doi.org)
  14. ^ ImageFlow/shutterstock (www.shutterstock.com)
  15. ^ Telaah sejawat ahli (courses.masterclasses.nature.com)
  16. ^ telaah sejawat terus berinovasi (courses.masterclasses.nature.com)
  17. ^ rekan kolaboratif dalam bidang akademis (doi.org)
  18. ^ para ahli melihat potensi model telaah sejawat hibrida—AI plus manusia (doi.org)
  19. ^ memahami dengan baik pedoman etis (doi.org)
  20. ^ seorang peneliti pernah tidak mau menerima dua laporan telaah anonim karena diyakini menggunakan AI (doi.org)
  21. ^ Penggunaan ChatGPT tak perlu dilarang: layanan AI bisa mendukung riset dan pendidikan (theconversation.com)
  22. ^ keunggulan AI dapat kita manfaatkan, tapi dampak negatifnya harus dimitigasi dengan baik (doi.org)

Authors: Rohmatulloh, Dosen Universitas Islam An Nur, Universitas Islam An Nur Lampung

Read more https://theconversation.com/kontroversi-penulis-dan-reviewer-ai-dalam-penerbitan-karya-ilmiah-270166

Magazine

Corporate Secretarial Services in Singapore: Annual Compliance, Key Filings, and Common Mistake

Annual compliance in Singapore should not be treated as a once-a-year administrative event. It is an ongoing governance system that depends on accurate records, timely filings, disciplined approvals...

Why Early Protection of Intellectual Assets is Critical

For many businesses, intellectual assets are among the most valuable things they own, yet they're often the last to receive formal legal protection. A brand name or a proprietary process can represe...

Konservasi gaya lama tak efektif: Pemulihan Aceh perlu warga dengan ekonomi yang merawat hutan

shutterstock(Manthofana/Shutterstock)● Peminggiran warga dari konservasi hutan Lingga Isaq menjadi salah satu faktor yang memperparah dampak bencana.● Pertanian monokultur dan tambang emas...

hacklink hack forum hacklink film izle hacklink z-libraryGrandpashabetdeneme bonusu veren sitelerDeneme bonusu veren siteler 2026Deneme bonusu veren siteler 2026Grandpashabetjojobet giriş爱思助手下载telegram下载jojobet girişgrandpashabetgrandpashabet twiter xmarsbahistelegram webbetasus girişcasibomjojobetcratosroyalbettürk pornograndpashabetjojobettarafbetcasibomgrandpashabetlunabetmeritkingkavbetholiganbetjojobetjojobetagen bola