Asian Spectator


The Times

.

Merintis pengolahan kopi yang tahan terhadap perubahan iklim di Lampung Barat

  • Written by Hendry Wijayanti, Dosen Biologi, Institut Teknologi Sumatera

● Indonesia merupakan salah satu eksportir kopi terbesar dunia.

● Meski begitu, proses di sektor hulunya masih amat tradisional yang mengandalkan faktor alam

● Petani kopi perlu menerapkan penggunaan teknologi seperti alat pengering untuk menjamin kualitas produksi kopinya.

Indonesia[1] merupakan salah satu negara produsen kopi terbesar dunia.

Sayangnya, mayoritas produksi kopi masih menggunakan cara tradisional yang mengandalkan alam. Ini termasuk di Lampung Barat, kawasan penyumbang ekspor kopi robusta terbesar kedua di Indonesia[2].

Karena bergantung dengan alam, petani kopi di daerah ini harus menghadapi tantangan mendasar, yakni dalam pengeringan biji kopi[3].

Dalam cara tradisional, pengeringan mengandalkan sinar matahari yang dapat memakan waktu berminggu-minggu, bahkan hingga sebulan penuh apabila cuaca tidak menentu.

Akibatnya, selain ancaman gagal panen, petani selalu dihantui risiko kualitas biji kopi menurun karena terlalu lembab dan kontaminasi mikroorganisme.

Read more: Di balik nikmatnya kopi gayo, ada sejumlah tantangan dihadapi petani[4]

Risiko tersebut tidak hanya membuat harga kopi di tingkat petani berfluktuasi liar. Jika anomali cuaca meluas di Lampung Barat, maka ekspor komoditas ini juga akan terganggu.

Adaptasi teknologi pengering untuk menjamin produktivitas

Untuk menjawab isu ini, tim dari Institut Teknologi Sumatra (Itera) berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) merintis pengembangan mesin pengering kopi berbasis polymer super absorbent (PSA) dengan dukungan pendanaan yang telah diberikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Program Skema Kosabangsa tahun anggaran 2025.

Uji teknis alat ini melibatkan Gabungan Kelompok Tani Kopi Mukti Tani yang diketuai Kendro Haryanto di Pagar Dewa, Lampung Barat yang beranggotakan sekitar 30 petani untuk melihat proses uji coba pengeringan biji kopi menggunakan mesin ini.

Sederhananya, mesin pengering bisa menjamin suhu ideal (60°C) yang dibutuhkan untuk proses pengeringan kopi. Alhasil, proses pengeringan yang biasanya menghabiskan waktu berhari-hari[5] bisa tuntas dalam waktu 16-18 jam saja.

Merintis pengolahan kopi yang tahan terhadap perubahan iklim di Lampung Barat
Tim Itera di lapangan memberikan pelatihan pengelolaan kopi modern terhadap petani kopi di Pagar Dewa Lampung Selata. Research team provided/ Institut Teknologi Sumatra

Selain itu, alat ini juga sukses mempertahankan kadar air di bawah 12%. Batas tersebut memenuhi standar komoditas kopi ekspor[6] seperti Cina yang menerima kopi dengan batas kadar air 8-12%.

Karena pasokan gas dan bahan bakar minyak yang tergolong langka di Lampung Barat, mesin ini bisa dimodifikasi untuk menggunakan gas hasil pembakaran sekam padi. Penggunaan sekam padi juga bermanfaat untuk mengurangi limbah sekam padi yang menumpuk di halaman rumah.

Read more: Industri kopi hampir dipanggang perubahan iklim[7]

Sistem monitoring komoditas

Melalui wawancara dengan tim, untuk lebih memudahkan petani kopi melakukan monitoring suhu dan kelembaban, mesin PSA yang dirancang ditambahkan sistem monitoring.

Oleh karena itu, tim juga mengembangkan sistem monitoring berbasis internet of things (IoT) untuk memantau proses pengeringan secara real-time dari jarak jauh.

Merintis pengolahan kopi yang tahan terhadap perubahan iklim di Lampung Barat
Demonstrasi mesin pengering kepada para petani kopi. Research team provided/ Institut Teknologi Sumatra

Sistem yang dinamakan SIMOKO (Sistem Monitoring Pengering Biji Kopi), berfungsi sebagai mata dan otak alat pengering bagi petani. Sistem ini bisa mengukur dan memantau suhu serta kelembaban biji kopi dan alat pengering real-time dari jarak jauh.

Read more: Usai bergulat dengan pandemi, petani kopi kehilangan produksi akibat perubahan iklim[8]

Data yang terekam selama sistem aktif bisa memudahkan petani dalam pengambilan keputusan berbasis data yang akurat. Alhasil, petani bisa memastikan biji kopi dikeringkan pada kondisi ideal, yang secara langsung meningkatkan kualitas dan konsistensi produk.

Pengembangan selanjutnya

Pengembangan mesin pengering kopi dan sistem monitoring ini memang masih perlu pengembangan lanjutan. Sistem monitoring misalnya, masih terkendala kestabilan jaringan internet di kawasan Lampung Barat.

Yang paling mendasar ada pada permohonan paten yang masih dalam tahap proses penyelesaian atas teknologi yang diciptakan oleh Akhmad Zainal Abidin dari ITB. Paten berguna untuk memastikan teknologi ini tidak diklaim pihak lain.

Kapasitas pengeringan juga perlu diuji coba dalam skala yang lebih besar, yaitu tonase (ton). Meskipun dalam uji coba terakhir tidak ada masalah, kapasitas pengeringan yang dilakukan hanya sebanyak 80 kilogram.

Merintis pengolahan kopi yang tahan terhadap perubahan iklim di Lampung Barat
Tim proyek ITERA ITB. Infografis: Rino Putama/The Conversation Indonesia | Sumber: Reseach team provided/ ITERA

Untuk memastikan proses pengeringan kopi makin optimal, rancangan sistem juga akan ditingkatkan kompleksitasnya. Nantinya mesin pengering akan diletakan di fasilitas green house[9] atau rumah kaca.

Meletakkan mesin pengering di dalam green house bisa meningkatkan utilitas mesin karena manajemen pembuangan hawa panas yang dihasilkan bisa disirkulasikan langsung kembali ke mesin menggunakan metode sirkulasi pembuangan internal.

Setidaknya dampak strategis program ini sudah bisa memastikan kualitas produksi kopi yang lebih baik. Pun, para petani setempat juga bisa menerima adanya inovasi produksi seperti ini.

Yang tidak kalah penting, edukasi juga akan terus ditingkatkan untuk meningkatkan literasi penerapan teknologi produksi para petani kopi di Pagar Dewa.

Read more: Kopi bisa jadi komoditas mahal dan langka akibat perubahan iklim: riset[10]

Authors: Hendry Wijayanti, Dosen Biologi, Institut Teknologi Sumatera

Read more https://theconversation.com/merintis-pengolahan-kopi-yang-tahan-terhadap-perubahan-iklim-di-lampung-barat-272206

Magazine

Corporate Secretarial Services in Singapore: Annual Compliance, Key Filings, and Common Mistake

Annual compliance in Singapore should not be treated as a once-a-year administrative event. It is an ongoing governance system that depends on accurate records, timely filings, disciplined approvals...

Why Early Protection of Intellectual Assets is Critical

For many businesses, intellectual assets are among the most valuable things they own, yet they're often the last to receive formal legal protection. A brand name or a proprietary process can represe...

Konservasi gaya lama tak efektif: Pemulihan Aceh perlu warga dengan ekonomi yang merawat hutan

shutterstock(Manthofana/Shutterstock)● Peminggiran warga dari konservasi hutan Lingga Isaq menjadi salah satu faktor yang memperparah dampak bencana.● Pertanian monokultur dan tambang emas...

hacklink hack forum hacklink film izle hacklink z-libraryGrandpashabetjojobetjojobetgrandpashabetDeneme bonusu veren siteler 2026Deneme bonusu veren siteler 2026Grandpashabetmarsbahis giriş爱思助手下载betparkaresbetroyalbetbetnanoperabettelegram下载jojobet girişgrandpashabetgrandpashabet twiter xmarsbahistelegram webmaxwin girişcasibomjojobetjojobetcasino siteleriGrandpashabetcratosroyalbetjojobetjojobetjojobetholiganbetcasibomgrandpashabetjojobet