Asian Spectator


The Times

.

Popularitas lagu ‘Gus Dur (Pendekar Rakyat)’: Cap pahlawan tidak harus datang dari negara

  • Written by Anwar Kurniawan, Lecturer, Institut Seni Indonesia Surakarta

● Dangdut koplo merupakan medium ekspresi politik kelas bawah yang egaliter, dan merepresentasikan identitas kaum pinggiran.

● Lagu dangdut ‘Gus Dur (Pendekar Rakyat)’ adalah contoh legitimasi kultural yang lahir dari rakyat, bukan negara.

● Melalui budaya partisipatoris di media sosial, lagu ini berfungsi sebagai kritik politik terselubung.

Selain media hiburan, musik merupakan arena ekspresi politik. Di Indonesia, kita mengenal band (post) punk Sukatani[1]. Liriknya lantang mengungkap betapa korupnya aparatus negara (misal, lagu Bayar, Bayar, Bayar; atau Gelap Gempita), bahkan meledak-ledak jika menyangkut isu ekologi (misal, lagu Alas Wirasaba; Realitas Konsumerisme).

Read more: “Bayar, bayar, bayar”: Bagaimana musik dapat membentuk identitas sosial dan mendorong aksi kolektif[2]

Di pentas global, Indonesia juga punya Voice of Baceprot[3]. Band metal dengan tiga personel perempuan muda ini kental nuansa perlawanan terhadap stereotip dan ketidakadilan yang selama ini merugikan perempuan. Misal, dalam lagu God, Allow Me (Please) to Play Music, School of Revolution atau Rumah Tanah Tak Dijual.

Selain punk dan metal, dangdut koplo sebagai musik kaum pinggiran[4], ternyata juga punya kekuatan serupa. Contohnya adalah lagu Gus Dur (Pendekar Rakyat) karya Dhalang Poer. Lagu ini bukan saja merangkum protes terselubung, tapi juga menjelaskan kiprah seorang presiden yang dekat dengan rakyat.

Dengan kata lain, lagu Gus Dur (Pendekar Rakyat) adalah bentuk representasi politik kelas bawah yang menegaskan bahwa cap pahlawan sebagai legitimasi kultural bisa muncul secara organik tanpa perlu embel-embel surat keterangan dari negara.

Dangdut arus utama vs dangdut koplo

Musik adalah persoalan selera. Menurut sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, selera bukanlah perkara netral[5]. Ia berkaitan dengan habitus[6], atau tindakan naluriah yang menentukan kelas sosial.

Sebagai aliran musik, punk dan metal sangat tersegmentasi. Ia dinikmati oleh kalangan tertentu[7], umumnya anak muda yang melawan status quo.

Sementara dangdut bukan berasal dari rahim budaya adiluhung (high culture). Ia lebih dekat dengan produk budaya populer[8].

Read more: Konser dangdut koplo: Wadah nostalgia kaum urban Jawa[9]

Namun, realitas dangdut tak pernah tunggal. Rhoma Irama, umpamanya, menawarkan dangdut yang ‘naik kelas’ dengan lirik dakwah dan moralitas yang ketat[10]. Kendati dangdut jenis ini cenderung konservatif[11], Rhoma menjadi “raja dangdut” justru ketika ia meregulasi aspek performatif dangdut agar “sopan” dan diterima rezim budaya nasional[12].

Kontras dengan itu, dangdut koplo lahir dari rahim Pantai Utara (Pantura) dan kultur Jawa Timuran. Secara politis, fungsinya lebih sebagai antitesis rezim musik arus utama[13]. Irama koplo[14] dikenal lebih cepat (up-tempo), interaksinya egaliter, dan estetikanya cenderung kasar (raw), bahkan vulgar.

Secara ringkas, dangdut (khususnya varian koplo) adalah strategi politik identitas kelas tertindas.[15]

Jika dangdut ala Rhoma menawarkan wacana moralitas performatif dari atas panggung (top-down), dangdut koplo menyediakan panggung rakyat, tempat masyarakat bisa merasakan kesetaraan.

Selain itu, dangdut koplo bergerak dari bawah lewat panggung kenduri, tasyakuran, hingga tujuh belasan dengan orkes Jawa Timuran yang khas[16]. Inilah mengapa koplo tak ubahnya medan representasi[17] suara akar rumput.

Dangdut koplo sebagai suara rakyat pinggiran

Sosok Gus Dur yang nyentrik, egaliter, dan anti-protokoler menemukan jodoh kulturalnya pada dangdut koplo yang nakal dan bebas di lagu Gus Dur (Pendekar Rakyat).

Dalam konteks ini, dangdut koplo bekerja sebagai medium resistensi yang subtle: tegas, lugas, sekaligus tangkas. Ia mampu menyusup ke ruang-ruang yang luput dari sensor negara justru karena dianggap musik pinggiran.

Layaknya dangdut koplo pada umumnya, lagu Gus Dur (Pendekar Rakyat) berbeda orbit dengan lirik lagu ala Rhoma Irama. Ia tidak beredar untuk menggurui masyarakat, tetapi justru merawat ingatan publik tentang pemimpin yang tidak berjarak dengan rakyatnya.

Aransemen kendang jaipong-koplonya berpadu dengan lirik bahasa sehari-hari:

Dadi lawan politik orde baru (Jadi oposisi Orde Baru)

Dadi korban ambisi reformis palsu (Jadi korban ambisi reformis palsu)

Nadyan cacat netramu nanging ngerti batinmu (Meski cacat pengelihatanmu tapi mata batinmu mengerti)

Ngendi kucing ngendi asu ( Mana kucing mana anjing)

Lirik ini jelas sangat politis. Pilihan katanya bahkan menggambarkan realitas elite politik secara vulgar. Seperti koplo yang menawarkan otentisitas, publik merindukan Gus Dur karena sosoknya yang apa adanya, kadang semrawut, tapi jujur dan menghibur.

Budaya partisipatoris dalam dangdut

Kekuatan lagu Gus Dur (Pendekar Rakyat) memuncak karena adanya participatory culture[18]. Dalam skema tradisional, audiens hanya mendengarkan musik secara pasif. Namun, budaya partisipatoris memungkinkan publik menjadi prosumer (produsen sekaligus konsumen).

Di platform Tiktok[19], misalnya, lagu ini lebih dikenal dengan kata kunci lagu “Agomo Ngayomi Jagat Royo”, yang membuatnya masuk dalam kategori FYP[20].

Penggemar membuat video, melakukan remix, atau bahkan mengkreasi lagu secara sporadis dengan daya jelajah yang sering kali lebih viral daripada rilisan resminya.

Di YouTube, ceritanya sedikit berbeda. Gus Dur (Pendekar Rakyat) secara lebih serius dinyanyikan ulang (cover) oleh banyak musisi, biduan, hingga seniman dangdut (koplo) Jawa Timuran. Tiga yang paling mencolok adalah Eny Sagita[21], Abah Lala[22], dan Denny Caknan[23].

Menariknya, kolom komentar di YouTube bermetamorfosis menjadi bilik suara alternatif. Pembacaan etnografi digital pada video Gus Dur (Pendekar Rakyat) menunjukkan pola komentar yang seragam. Ribuan netizen tidak hanya menyanjung aspek musikalitasnya, tetapi melontarkan kerinduan sosok pemimpin ideal di tengah krisis keteladanan elite politik.

Misalnya: “Alfatihah untuk Gus Dur”; “Moga-moga Indonesia punya pemimpin seperti Gus Dur yang mikirin rakyatnya”; “Tragedi Gus Dur adalah bukti nyata bahwa Indonesia tidak butuh orang jujur”; dan sebagainya.

Komentar-komentar netizen adalah kritik komparatif[24]. Rakyat mungkin takut mengkritik penguasa hari ini secara terbuka karena ancaman pasal karet UU ITE atau serangan buzzer istana[25].

Popularitas lagu ‘Gus Dur (Pendekar Rakyat)’: Cap pahlawan tidak harus datang dari negara
Kumpulan potongan layar kolom komentar di YouTube. Author provided.

Sebaliknya, dengan memuji Gus Dur setinggi langit di kolom komentar, mereka pada dasarnya sedang meluapkan sindiran halus terhadap kondisi politik nasional yang saat ini terjadi.

Sampai artikel ini ditulis, belum ada Presiden Indonesia kecuali Gus Dur yang sosoknya terus dirayakan hingga ke panggung dangdut paling pinggiran, bahkan jauh sebelum negara memberinya gelar Pahlawan Nasional[26]. Ini bukti kalau cap pahlawan tidak selalu memerlukan SK Presiden.

Resistensi politik juga tidak melulu harus berwajah garang ala punk. Terkadang, ia datang lewat senggakan koplo yang jenaka tapi tetap menohok: Icik, icik, asolole!![27]

References

  1. ^ Sukatani (www.instagram.com)
  2. ^ “Bayar, bayar, bayar”: Bagaimana musik dapat membentuk identitas sosial dan mendorong aksi kolektif (theconversation.com)
  3. ^ Voice of Baceprot (voiceofbaceprot.com)
  4. ^ musik kaum pinggiran (dangdutstudies.com)
  5. ^ selera bukanlah perkara netral (www.mit.edu)
  6. ^ habitus (monoskop.org)
  7. ^ dinikmati oleh kalangan tertentu (gigsplay.com)
  8. ^ produk budaya populer (ecommons.cornell.edu)
  9. ^ Konser dangdut koplo: Wadah nostalgia kaum urban Jawa (theconversation.com)
  10. ^ lirik dakwah dan moralitas yang ketat (books.google.co.id)
  11. ^ cenderung konservatif (ecommons.cornell.edu)
  12. ^ rezim budaya nasional (books.google.co.id)
  13. ^ antitesis rezim musik arus utama (www.kompas.id)
  14. ^ Irama koplo (etd.repository.ugm.ac.id)
  15. ^ strategi politik identitas kelas tertindas. (mojokstore.com)
  16. ^ panggung kenduri, tasyakuran, hingga tujuh belasan dengan orkes Jawa Timuran yang khas (www.youtube.com)
  17. ^ medan representasi (www.youtube.com)
  18. ^ participatory culture (direct.mit.edu)
  19. ^ platform Tiktok (www.tiktok.com)
  20. ^ FYP (tekno.kompas.com)
  21. ^ Eny Sagita (www.youtube.com)
  22. ^ Abah Lala (www.youtube.com)
  23. ^ Denny Caknan (www.youtube.com)
  24. ^ kritik komparatif (monoskop.org)
  25. ^ buzzer istana (www.kompas.id)
  26. ^ gelar Pahlawan Nasional (www.kompas.id)
  27. ^ senggakan koplo (dangdutstudies.com)

Authors: Anwar Kurniawan, Lecturer, Institut Seni Indonesia Surakarta

Read more https://theconversation.com/popularitas-lagu-gus-dur-pendekar-rakyat-cap-pahlawan-tidak-harus-datang-dari-negara-272182

Magazine

Corporate Secretarial Services in Singapore: Annual Compliance, Key Filings, and Common Mistake

Annual compliance in Singapore should not be treated as a once-a-year administrative event. It is an ongoing governance system that depends on accurate records, timely filings, disciplined approvals...

Why Early Protection of Intellectual Assets is Critical

For many businesses, intellectual assets are among the most valuable things they own, yet they're often the last to receive formal legal protection. A brand name or a proprietary process can represe...

Konservasi gaya lama tak efektif: Pemulihan Aceh perlu warga dengan ekonomi yang merawat hutan

shutterstock(Manthofana/Shutterstock)● Peminggiran warga dari konservasi hutan Lingga Isaq menjadi salah satu faktor yang memperparah dampak bencana.● Pertanian monokultur dan tambang emas...

hacklink hack forum hacklink film izle hacklink z-libraryGrandpashabetgrandpashabetgrandpashabetgrandpashabetDeneme bonusu veren siteler 2026Deneme bonusu veren siteler 2026Grandpashabetmarsbahis giriş爱思助手下载bahiscasinobetparkaresbetmarsbahisbahiscasinoroyalbetmarsbahisbetnanoperabettelegram下载jojobet girişgrandpashabetgrandpashabet twiter xmarsbahistelegram webpashagaming girişcasibomjojobetjojobetcasino siteleriGrandpashabetgrandpashabetjojobetjojobetjojobetholiganbetcasibomgrandpashabetmeritking