Asian Spectator

Men's Weekly

.

Bali kian disesaki turis: Wisata desa jadi alternatif menjanjikan

  • Written by Fitriyah Astri, Doctoral Student, Universitas Indonesia

● Banyak desa wisata potensial tapi kurang dilirik wisatawan.

● Padahal desa wisata bisa jadi alternatif bahkan subtitusi titik pariwisata nasional.

● Selain promosi dan akses, pengembangan desa wisata perlu tetap berfokus pada komunitas desa.

Berwisata merupakan salah satu cara healing (menyegarkan diri) yang paling populer. Tapi kita mungkin¸ akan berpikir dua kali jika harus melancong ke pusat kota Yogyakarta atau Bali di penghujung tahun[1] karena sesaknya wisatawan di sana.

Mungkin terdengar klise, tapi Indonesia sudah seharusnya memiliki banyak situs wisata yang tidak melulu mengandalkan nama lama seperti Bali, (kota) Yogyakarta, Bandung, dan sebagainya.

Desa[2] yang dianggap “kampungan” yang jadi tempat orang tua dan pensiunan menghabiskan sisa hidup nyatanya memiliki potensi pariwisata yang tidak kalah menarik.

Ini saya rasakan sendiri ketika berwisata ke Desa Sade (Nusa Tenggara Barat), Desa Pulesari (Yogyakarta), Desa Umbulharjo (Yogyakarta), dan Desa Kanekes (Banten).

Bali kian disesaki turis: Wisata desa jadi alternatif menjanjikan
Penampakan gerbang utama Desa Wisata Pulesari. Author provided/ Universitas Indonesia

Read more: Ngayogjazz: Konser jazz yang menguatkan desa dan komunitas lokal[3]

Selain bisa mendatangkan turis, dengan pendekatan yang tepat, desa pun bisa terhindar dari overtourism[4] dan bisa memprioritaskan porsi manfaat untuk warga setempat terlebih dahulu.

Namun, agar muncul titik desa-desa wisata baru, seluruh pemangku kepentingan perlu terlibat dalam pemerataan promosi dan akses infrastruktur.

Menyulap desa miskin jadi desa maju

Dengan menawarkan panorama alam yang asri dan alami, manfaat pariwisata di desa membuka banyak pintu penghasilan bagi para warga Desa Sade[5] (NTB). Contohnya, wisatawan bisa langsung menginap dan makan ke rumah warga yang menyediakan jasa penginapan dan kuliner.

Tapi yang paling penting, pembukaan desa ini berfungsi jadi ajang promosi kebudayaan lokal setempat seperti kerajinan tangan lokal.

Siti, seorang ibu rumah tangga penenun kain sasak khas Suku Sasak, bisa menambah pundi-pundi tambahan dengan menjual kain tenunnya ke wisatawan. Jumlahnya pun, menurut pengakuan Siti, layak untuk dijadikan sumber penghasilan.

Bali kian disesaki turis: Wisata desa jadi alternatif menjanjikan
Warga desa bernama Siti sedang mengayam kain tenun. Author provided/ Universitas Indonesia

Ilustrasi di atas mencoba menjelaskan keberadaan sebuah desa agraris yang berorientasi pada pertanian bisa mendiversifikasi pendapatannya dari pengembangan sektor baru dari pariwisata.

Bukan hanya itu, ada peluang memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas. Hal ini membuka peluang baru bagi pelaku UMKM lokal untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.

Ada juga Desa Wisata Pulesari yang bisa bangkit usai luluh lantak akibat erupsi Merapi 2010[6] silam. Warga setempat sukses mengemas dampak negatif bencana dengan branding Wisata Alam dan Budaya Tradisi dan berbekal kepercayaan masyarakat, berhasil menarik wisatawan yang tidak hanya menikmati alam pedesaan, tetapi juga untuk merasakan keaslian budaya lokal.

Selanjutnya ada Desa Wisata Petingsari[7], yang terletak di Desa Umbulharjo (Yogyakarta). Padahal desa ini pada tahun 1990-an mendapat predikat dusun termiskin nasional.

Sejak 2008, warga memberanikan diri menjadi tuan rumah bagi masyarakat luar dengan membuka desanya menjadi desa wisata, dengan tema desa wisata berbasis alam, budaya dan pertanian yang berwawasan lingkungan.

Hasilnya desa ini mendapat penghargaan Community Best Tourism dari ASEAN Tourism Award 2025[8] dengan pertumbuhan omzet dari Rp3,4 miliar menjadi Rp4,8 miliar pada 2024 (year-on-year) berkat kunjungan wisatawan lebih dari 29 ribu orang.

Read more: Ingin pariwisata lebih berkelanjutan? Ini 5 cara yang bisa dilakukan desa wisata[9]

Pendekatan berbasis komunitas untuk prioritaskan manfaat bagi warga

Idealnya, desa wisata membuka jalan pemerataan ekonomi yang harus diterima oleh masyarakat desa. Pendekatan community based tourism[10] (turisme berbasis komunitas) merupakan pendekatan yang ideal karena menempatkan masyarakat setempat sebagai tangan pertama dalam penerima manfaat.

Pendekatan ini berlawanan dengan teori trickle down effect[11] yang sangat kapitalis dan sumber terjadinya overtourism.

Bali kian disesaki turis: Wisata desa jadi alternatif menjanjikan
Meski sudah terkenal Suku Baduy tetap mempertahankan identitas aslinya. Author provided/ Universitas Indonesia

Dengan mendahulukan warga lokal sebagai pelaku pariwisata berbasis komunitas, masyarakat akan mendapatkan sejumlah manfaat baik ekonomi, sosial dan lingkungan.

Merujuk Undang Undang Desa[12], pengembangan desa berorientasi komunitas desa juga memberi jaminan posisi masyarakat sebagai subjek pembangunan desa yang aktif.

Read more: Ekspansi Scoot ke titik-titik 'Bali baru' mesti menjadi dorongan kompetisi maskapai nasional[13]

Memang seiring perjalanannya, peningkatan arus wisata juga membawa tantangan baru bagi pembangunan berkelanjutan, mulai dari tekanan komersialisasi, degradasi budaya hingga resiko kerusakan alam bagi sebuah desa wisata.

Namun, karena mengedepankan kepentingan komunitas desa, adat istiadat bisa jadi filter efektif terhadap efek negatif dari pariwisata yang disebutkan. Hal ini sudah terbukti sukses di Desa Wisata Kanekes Rumah Suku Baduy, Banten[14].

Penduduk setempat di sana tidak menutup mata terhadap efek positif pariwisata yang datang. Tetapi mereka tetap menyaring dampak buruk dari luar melalui adat istiadat yang dijunjung tinggi.

Alhasil hingga kini desa tersebut tetap ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara tanpa harus tergusur modernisasi pariwisata.

Bisakah pariwisata desa nasional berkembang?

Per kuartal III 2025, sektor pariwisata[15] berkontribusi 3,98% terhadap PDB nasional. Angka ini membuktikan pariwisata dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Seiring dengan tren pariwisata yang semakin berkembang, banyak wisatawan nusantara yang mulai melirik destinasi baru yang menawarkan pengalaman yang berbeda seperti desa wisata[16] yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Bali kian disesaki turis: Wisata desa jadi alternatif menjanjikan
Hidden gems pariwisata nasional tak terhitung jumlahnya Permasalahannya harga transportasi nasional bahkan lebih mahal dibandingkan penerbangan ke luar negeri. A Hie/ Shutterstock.com[17]

Desa wisata menawarkan pengalaman yang autentik yang dimulai dari interaksi dengan warga lokal, ikut dalam kegiatan keseharian masyarakat desa yang melibatkan budaya lokal seperti ikut dalam kegiatan menenun, membatik, bertani yang merupakan hal yang jarang ditemukan pada destinasi wisata perkotaan.

Read more: Ini 2 dampak jebakan 'tourist gaze' dalam membangun desa wisata dan solusinya[18]

Badan Pusat Statistik (BPS[19]) mencatat, pada September 2025 kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) ke Indonesia mencatat 1.39 juta, tumbuh positif 9,04% dibanding tahun sebelumnya.

Peningkatan serupa juga terjadi pada wisatawan lokal yang turut bertumbuh 13,19% dari 83,36 juta menjadi 94,36 juta perjalanan.

Desa-desa memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan sektor pariwisata dalam hal pemerataan promosi dan akses infrastruktur untuk bisa menciptakan titik pariwisata baru.

Tak kalah penting, keseimbangan antara manfaaat ekonomi dan upaya menjaga kelestarian desa perlu dijaga agar desa wisata dapat menjamin dampak positif yang ditimbulkan terhadap perekonomian lokal, pelestarian budaya, dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

References

  1. ^ pusat kota Yogyakarta atau Bali di penghujung tahun (rejogja.republika.co.id)
  2. ^ Desa (brin.go.id)
  3. ^ Ngayogjazz: Konser jazz yang menguatkan desa dan komunitas lokal (theconversation.com)
  4. ^ overtourism (theconversation.com)
  5. ^ Desa Sade (denpasar.kompas.com)
  6. ^ erupsi Merapi 2010 (bnpb.go.id)
  7. ^ Desa Wisata Petingsari (desawisatapentingsari.com)
  8. ^ Community Best Tourism dari ASEAN Tourism Award 2025 (travel.kompas.com)
  9. ^ Ingin pariwisata lebih berkelanjutan? Ini 5 cara yang bisa dilakukan desa wisata (theconversation.com)
  10. ^ community based tourism (www.asean.org)
  11. ^ trickle down effect (pajak.go.id)
  12. ^ Undang Undang Desa (peraturan.bpk.go.id)
  13. ^ Ekspansi Scoot ke titik-titik 'Bali baru' mesti menjadi dorongan kompetisi maskapai nasional (theconversation.com)
  14. ^ Desa Wisata Kanekes Rumah Suku Baduy, Banten (desamind.id)
  15. ^ sektor pariwisata (kemenpar.go.id)
  16. ^ desa wisata (www.kompas.id)
  17. ^ A Hie/ Shutterstock.com (www.shutterstock.com)
  18. ^ Ini 2 dampak jebakan 'tourist gaze' dalam membangun desa wisata dan solusinya (theconversation.com)
  19. ^ BPS (www.bps.go.id)

Authors: Fitriyah Astri, Doctoral Student, Universitas Indonesia

Read more https://theconversation.com/bali-kian-disesaki-turis-wisata-desa-jadi-alternatif-menjanjikan-272692

Magazine

Bali kian disesaki turis: Wisata desa jadi alternatif menjanjikan

● Banyak desa wisata potensial tapi kurang dilirik wisatawan.● Padahal desa wisata bisa jadi alternatif bahkan subtitusi titik pariwisata nasional.● Selain promosi dan akses, pengemb...

Lumpur sisa banjir tidak boleh dibuang sembarangan, bisa dimanfaatkan atau dijual

● Lumpur sisa banjir yang dibuang kembali ke sungai, bisa memperbesar risiko banjir di masa depan. ● Perlu penanganan khusus agar lumpur tidak membahayakan lingkungan dan kesehatan.●...

Ketika publik tak lagi percaya ahli, bagaimana memulihkan Indonesia dari krisis kepakaran?

● Cina mewajibkan kualifikasi akademis bagi ‘content creator’ untuk menegaskan nilai kepakaran.● Di Indonesia, krisis kepakaran dipicu lemahnya ekosistem pengetahuan, budaya ri...