Setop bilang ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ ke ChatGPT bisa selamatkan Bumi? Faktanya tak sesederhana itu
- Written by Richard Morris, Postdoctoral Fellow, Faculty of Agriculture and Life Sciences, Lincoln University, New Zealand
Sebagian orang di internet[1] percaya kalau berhenti mengucapkan “tolong” dan “terima kasih” kepada ChatGPT bisa berkontribusi menyelamatkan Bumi.
Gagasan ini memang masuk akal karena sistem AI memproses teks secara bertahap. Singkatnya, semakin panjang prompt, semakin banyak pula energi yang dibutuhkan AI untuk proses komputasi.
CEO OpenAI, Sam Altman mengakui[2] dalam skala miliaran prompt yang terjadi, hal-hal kecil seperti penggunaan kata “tolong” dan “terima kasih” memang menambah biaya operasional perusahaan.
Namun, sepertinya berlebihan jika kita menyebut bahwa bersikap sopan kepada ChatGPT bisa membawa dampak lingkungan yang signifikan. Pengaruh beberapa kata tambahan itu hampir tidak berarti jika dibandingkan dengan energi yang dibutuhkan untuk mengoperasikan infrastruktur pusat data yang menyokongnya.
Dan yang lebih penting sebenarnya bukan apakah idenya benar atau salah, tapi kenapa ide ini terus dipercaya?
Hal ini menunjukkan banyak orang sebenarnya sudah mulai merasakan AI bukan cuma software yang “tak nyata” atau tanpa dampak. Perasaan atau naluri itu patut dianggap serius, karena memang benar adanya.
Kecerdasan buatan (AI) bergantung pada besarnya fasilitas dan kapasitas pusat data (data center) yang dibangun dengan infrastruktur komputasi mutakhir. Fasilitas-fasilitas ini menyedot listrik dalam jumlah besar, membutuhkan pendinginan terus-menerus, dan terhubung dengan sistem suplai energi, air, dan pemanfaatan lahan yang lebih luas.
Seiring meluasnya penggunaan AI, jejak karbonnya pun semakin besar. Maka, topik permasalahan lingkungan yang relevan bukanlah bagaimana satu prompt dirumuskan, melainkan seberapa intens sistem-sistem AI ini digunakan.
Mengapa setiap pertanyaan pada AI menyedot energi
Ada satu perbedaan struktural antara AI dan sebagian besar layanan digital yang kita kenal, yang membantu menjelaskan mengapa hal ini penting.
Ketika sebuah dokumen dibuka atau video tersimpan diputar, biaya energi utamanya sebenarnya sudah dikeluarkan sebelumnya. Sistem pada dasarnya hanya mengambil data yang sudah ada.
Sebaliknya, setiap kali sebuah model AI diberi pertanyaan, ia harus melakukan komputasi baru untuk menghasilkan jawaban. Dalam bahasa teknis, setiap prompt memicu sebuah “inferensi[3]”, yaitu sebuah proses komputasi penuh di dalam model, dan butuh banyak energi setiap kali ini dilakukan.
Inilah sebabnya AI tidak sama seperti perangkat lunak konvensional dan lebih mirip infrastruktur. Penggunaan langsung diterjemahkan menjadi permintaan energi.
Skala permintaan ini kini tidak lagi kecil. Riset di jurnal Science[4] memprediksi bahwa porsi konsumsi energi dari pusat data amat signifikan dari konsumsi listrik global. Permintaan ini meningkat pesat seiring bertambahnya beban kerja AI.
Badan Energi Internasional IEA sudah memperingatkan[5] bahwa permintaan listrik dari pusat data bisa berlipat ganda pada akhir dekade ini jika tren pertumbuhan saat ini berlanjut.
Listrik tentu saja hanyalah salah satu bagian dari gambaran besar. Pusat data juga membutuhkan air dalam jumlah besar untuk pendinginan. Pembangunan serta operasi pusat data juga melibatkan penggunaan lahan, material, dan aset jangka panjang.
Dan mirisnya, walaupun AI dipakai oleh orang di seluruh dunia, mereka yang paling merasakan dampak lingkungan dan infrastrukturnya adalah mereka yang berada di sekitar lokasi pusat data.
Read more: AI generatif membahayakan lingkungan: bagaimana cara mengatasinya?[6]
Jejak lingkungan AI yang tersembunyi
Kita ambil contoh Selandia Baru. Pangsa energi terbarukan yang tinggi membuat negara ini menarik bagi operator pusat data, tetapi tidak berarti bahwa permintaan ini bebas dampak.
Pusat data berukuran besar memberi tekanan signifikan pada jaringan listrik lokal[7]. Klaim pasokan energi terbarukan tidak selalu berarti penambahan sumber energi baru.
Listrik yang digunakan untuk menjalankan server berarti mengurangi ketersediaan listrik untuk kebutuhan lain—terutama pada tahun-tahun kering ketika pembangkit tenaga air berada di periode krisisnya.
Jika dilihat sebagai sebuah sistem, AI menambahkan beban baru kepada wilayah-wilayah yang sudah tertekan oleh perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, dan persaingan kebutuhan sumber daya.
Energi, air, lahan, dan infrastruktur saling terkait erat. Perubahan di satu bagian sistem akan merambat ke bagian lainnya.
Hal ini penting diperhatikan untuk adaptasi iklim dan perencanaan jangka panjang. Banyak upaya adaptasi berfokus pada lahan dan infrastruktur: mengelola risiko banjir, melindungi kualitas air, menjaga pasokan energi yang andal, dan merancang permukiman yang tangguh.
Namun, infrastruktur AI sering kali direncanakan dan dinilai secara terpisah. AI seolah-olah hanya layanan digital, bukan infrastuktur fisik yang terus-menerus membutuhkan sumber daya.
Mengapa mitos ini penting
Dari sudut pandang sistem, tekanan baru tidak sekadar menumpuk. Tekanan tersebut bisa mendorong penataan ulang.
Dalam beberapa kasus, penataan ulang ini menghasilkan sistem yang lebih koheren dan tangguh. Dalam kasus lain, ia justru memperbesar kerentanan yang sudah ada.
Hasil akhirnya sangat bergantung pada apakah kita bisa mendeteksi tekanan sejak dini dan mengantisipasinya dalam desain sistem, atau membiarkannya berkembang tanpa batas.
Di sinilah diskusi tentang jejak lingkungan AI perlu menjadi lebih matang. Terlalu fokus pada perubahan perilaku kecil—seperti cara merumuskan prompt—justru mengalihkan perhatian kita dari persoalan struktural yang sesungguhnya.
Pertanyaan lebih penting adalah bagaimana infrastruktur AI masuk ke dalam perencanaan energi, bagaimana pengelolaan kebutuhan airnya, di mana lokasinya berkaitan tata guna lahan, dan bagaimana kebutuhannya bersaing dengan kebutuhan sosial masyarakat sekitar.
Semua fakta di atas bukan berarti mengajak kita menolak AI. Teknologi AI sudah memberikan manfaat nyata di bidang riset, kesehatan, logistik, dan banyak sektor lainnya.
Namun, seperti infrastruktur lainnya pula, AI membawa biaya sekaligus manfaat. Menganggap AI sebagai perangkat lunak yang tak berwujud menutupi biaya-biaya tersebut.
Jadi, kita harus memperlakukan AI selayaknya bagian dari sistem fisik yang sudah kita kelola, sehingga kita bisa menghitung biaya pemakaiannya dengan jelas.
Popularitas mitos “kata tolong” ini bukankah kesalahan, melainkan sebuah sinyal bahwa orang-orang mulai sadar bahwa AI memiliki jejak lingkungan, meskipun perlu bahasa yang lebih awam untuk menjelaskannya.
Menanggapi sinyal ini dengan serius berarti membuka jalan menuju percakapan yang lebih membumi tentang bagaimana AI berperan dalam lanskap, sistem energi, dan masyarakat yang sudah bergulat dengan adaptasi iklim.
References
- ^ internet (shivammore.medium.com)
- ^ mengakui (x.com)
- ^ inferensi (www.ibm.com)
- ^ jurnal Science (www.science.org)
- ^ IEA sudah memperingatkan (www.iea.org)
- ^ AI generatif membahayakan lingkungan: bagaimana cara mengatasinya? (theconversation.com)
- ^ tekanan signifikan pada jaringan listrik lokal (www.rnz.co.nz)
Authors: Richard Morris, Postdoctoral Fellow, Faculty of Agriculture and Life Sciences, Lincoln University, New Zealand





