Selamat datang era ‘fitness-entertainment’: Bagaimana peluang cuan hyrox setelah tren padel?
- Written by Dini Dwi Kusumaningrum, Peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
● Selalu saja ada tren olahraga baru yang bermunculan.
● Setelah padel, kini muncul ‘Hyrox’.
● Meski belum pernah digelar resmi di Indonesia, antusiasme masyarakat terhadap ‘Hyrox’ tergolong luar biasa.
Siklus tren olahraga ‘kalcer’ datang silih berganti. Setelah padel, kini ada olahraga baru yang sedang hype bernama Hyrox.[1]
Sorotan publik terhadap hyrox mulai meningkat ketika mantan atlet sepak bola nasional Irfan Bachdim memecahkan rekor Indonesia pada kompetisi HYROX Hongkong tahun 2024. Lalu ini makin populer ketika idol Korea Selatan Choi Minho[2] menjuarai kompetisi HYROX Taipei 2026.
Olahraga ini juga bukan benar-benar baru. Jika padel berkembang dari tenis, hyrox memadukan lari dengan berbagai latihan kekuatan dan fungsional yang selama ini dikenal dalam dunia kebugaran dan gimnastik.
Perlahan tapi pasti, warga semakin antusias terhadap hyrox. Bahkan, untuk mendapatkan slot event HYROXINA[3], calon peserta harus ikut “war tiket[4]” yang harganya lebih mahal daripada tiket Maybank Marathon[5] 42km. Meski berbeda format, perbandingan ini memberi gambaran tingginya biaya partisipasi dalam kompetisi kebugaran seperti hyrox.
Akankah olahraga baru ini menjadi tren yang bakal menggantikan tren olahraga kalcer lainnya seperti padel, lari, tenis, atau bersepeda?
Read more: Masa depan padel: Antara gengsi atau turun kelas agar tren ini langgeng[6]
Tawarkan konsep unik: komunal tapi untuk diri sendiri
Hyrox dikembangkan oleh Moritz Fürste (olimpian dan juara dunia) dan Christian Toetzke[7] agar bisa diikuti oleh siapa saja tanpa kualifikasi, batasan waktu, dan batasan usia sejak 2017.
Formatnya selalu sama di seluruh dunia. Dalam setiap race, peserta harus menyelesaikan delapan kali lari sejauh 1 kilometer, yang diselingi delapan stasiun dengan delapan jenis workout yang menantang di setiap stasiun, seperti SkiErg, burpee, atau rowing.
Karena seluruh peserta (amatir dan profesional) menghadapi format race yang sama, para hyrox racer merasa terhubung melalui kesamaan minat pada kebugaran dan kepuasan menantang diri sendiri dalam payung komunitas global.
Event hyrox[8] mulai menarik perhatian sejak beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan elite gym, komunitas ekspatriat, profesional korporat, dan influencer kebugaran. Bagi kaum urban yang terbiasa hustle, hyrox sesuai dengan prinsip–prinsip seperti kedisiplinan, produktivitas, dan performa[9].
Promosi masif di media sosial membuat Hyrox tampil sebagai lomba yang estetik, sinematik, dan dramatis, sebuah bentuk performative health. Video sled push, foto arena penuh musik, garis finish, dan papan leaderboard membanjiri lini masa dan menjadi bagian dari identitas digital para pesertanya.
Read more: Stigma lari sebagai olah raga yang murah, akankah tinggal kenangan?[10]
Fenomena ini juga dibaca dengan baik oleh para penyedia fitness center di Indonesia sebagai peluang untuk membangun komunitas hyrox. Melalui promosi di Instagram dan TikTok, olahraga ini dipasarkan sebagai pengalaman race yang menarik untuk terus memantik minat calon peserta baru.
Bisnis besar dibalik trend Hyrox
Setiap lomba diselenggarakan terpusat melalui lembaga bernama Hyrox[11] yang didirikan oleh para penggagasnya. Per tahun lalu, omzet bisnis hyrox tembus di sekitar angka $140 juta atau Rp2,34 triliun[12] dengan ekosistem industri[13] yang menjanjikan dan menjangkau 11 negara dengan 85 event.
Jaringan bisnis Hyrox mencakup race-cation[14] berupa akomodasi seperti hotel dan maskapai penerbangan kelas atas[15], ragam produk komersil turunannya seperti ransel hyrox yang menunjukkan status finish[16], hingga merchandise[17].
Potensi pemasukan juga didapat dari lisensi gym[18], dan coaching (pelatihan) dengan rata-rata pemasukan £84 juta per tahun[19] atau senilai Rp1,6 triliun. Ini menunjukkan besarnya ceruk bisnis yang bisa digali.
Melihat perkembangannya, hyrox memenuhi syarat-syarat untuk diarahkan menjadi sport capitalism[20] atau komersialisasi olahraga. Pengalaman dan emosi yang dirasakan peserta, seperti kelelahan, kebanggaan, dan adrenalin saat menyelesaikan race, kemudian menjadi komoditas[21] yang digunakan untuk memengaruhi orang lain agar mencobanya.
Proses komodifikasi[22] Hyrox dilakukan dengan cara memposisikan kebugaran sebagai produk konsumsi berorientasi performa dan estetika, dengan mempertontonkan tubuh sebagai simbol status baru di media sosial.
Read more: Bagaimana ‘booming’ tren bersepeda pecah lalu meredup[23]
Alhasil, masyarakat yang terpapar sajian konten mengenai Hyrox tidak hanya memperoleh informasi tentang kompetisi kebugaran, tapi juga secara tidak sadar sedang dipengaruhi untuk menjajalnya.
Sebelum Hyrox viral, animo masyarakat untuk latihan beban (ngegym) sudah menunjukkan tren positif. Per tahun 2020, jumlah gym dan fitness center baru di Indonesia mencapai 8.156 tempat atau 67,75% dari total gym di Indonesia[24]. Ini menjadi basis potensial untuk dikembangkan.
Ke mana arah perkembangan hyrox di Indonesia?
Fenomena Hyrox menunjukkan bahwa kebugaran tidak lagi netral, melainkan terhubung dengan produksi status, identitas, dan tekanan performa di ruang urban. Ini merupakan warisan pandemi Covid-19[25] yang meningkatkan animo masyarakat dalam memaknai kesehatan.
Kemunculan hyrox di Indonesia merupakan bagian dari fase baru dalam evolusi budaya kebugaran kaum urban yang membentuk segmentasi kelasnya sendiri. Keberlanjutan hyrox di dalam negeri memang masih terlalu dini untuk dinilai.
Hingga kini, banyak peserta dari Indonesia rela mengikuti kompetisi hyrox di luar negeri karena belum ada event resminya di dalam negeri. Karena itu, antusiasme terhadap AirAsia Hyrox Jakarta[26] pada 6 – 7 Juni 2026 akan menjadi salah satu penentu apakah tren Hyrox dapat berkembang di Indonesia.
Tantangan selanjutnya adalah bagaimana menggeser narasi dari sekadar performa, menuju kesehatan yang lebih inklusif[27] dan berkeadilan sosial. Sebab, bagi mayoritas masyarakat, mengakses gym dengan peralatan yang lengkap dan estetik adalah persoalan sulit, terutama dalam urusan fulus.
Read more: FOMO berpotensi menyeret kelas menengah jatuh ke lubang kemiskinan[28]
References
- ^ Hyrox. (www.redbull.com)
- ^ Choi Minho (www.instagram.com)
- ^ HYROXINA (hyrox.com)
- ^ war tiket (www.threads.com)
- ^ Maybank Marathon (www.maybank.co.id)
- ^ Masa depan padel: Antara gengsi atau turun kelas agar tren ini langgeng (theconversation.com)
- ^ Moritz Fürste (olimpian dan juara dunia) dan Christian Toetzke (hyrox.com)
- ^ Event hyrox (www.instagram.com)
- ^ produktivitas, dan performa (theconversation.com)
- ^ Stigma lari sebagai olah raga yang murah, akankah tinggal kenangan? (theconversation.com)
- ^ Hyrox (hyrox.com)
- ^ hyrox tembus di sekitar angka $140 juta atau Rp2,34 triliun (sbo.financial)
- ^ ekosistem industri (fitnessmarketing.agency)
- ^ race-cation (www.instagram.com)
- ^ akomodasi seperti hotel dan maskapai penerbangan kelas atas (hyrox.com)
- ^ ransel hyrox yang menunjukkan status finish (www.instagram.com)
- ^ merchandise (eu.hyrox-shop.com)
- ^ lisensi gym (www.hyrox365.com)
- ^ £84 juta per tahun (www.thetimes.com)
- ^ sport capitalism (www.researchgate.net)
- ^ komoditas (www.researchgate.net)
- ^ komodifikasi (www.researchgate.net)
- ^ Bagaimana ‘booming’ tren bersepeda pecah lalu meredup (theconversation.com)
- ^ 8.156 tempat atau 67,75% dari total gym di Indonesia (rentechdigital.com)
- ^ pandemi Covid-19 (theconversation.com)
- ^ AirAsia Hyrox Jakarta (hyrox.com)
- ^ inklusif (theconversation.com)
- ^ FOMO berpotensi menyeret kelas menengah jatuh ke lubang kemiskinan (theconversation.com)
Authors: Dini Dwi Kusumaningrum, Peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)




