Bukan ‘malas’, penampilan Justin Bieber di Coachella menunjukkan cara kita menikmati musik daring
- Written by Mike Callander, Lecturer in Music Industry, RMIT University
Setelah empat tahun absen dari tur, Justin Bieber tampil sebagai penampil utama di panggung Coachella. Namun, aksinya memicu kontroversi saat ia bernyanyi diiringi klip YouTube. Bahkan di beberapa bagian, ia tidak bernyanyi sama sekali.
Hampir 125 ribu pengunjung[1] memadati Coachella setiap akhir pekan. Festival ini juga disiarkan secara langsung kepada 5,89 juta audiens internasional yang berlangganan saluran Youtube resminya[2].
Penonton dan kritikus pun berdebat: apakah penampilan Bieber merupakan sebuah pernyataan cerdas mengenai nostalgia[3], atau sekadar pertunjukan malas yang tidak menghargai penggemar[4].
Jika diletakkan dalam konteks historis, aksi panggung Bieber sebenarnya dapat dibaca sebagai kontribusi menarik bagi definisi pertunjukan “langsung” (live).
Apa yang sebenarnya terjadi?
Bagian kontroversial dari penampilan Justin Bieber berlangsung sekitar 20 menit dari total pertunjukan selama 90 menit.
Coachella memang dikenal dengan kejutan tamu spesial. Di bagian lain pertunjukannya, Bieber memboyong Dijon[5], Tems[6], Wizkid[7], Mk.gee[8] dan The Kid Laroi[9]. Sebagian besar set tersebut berjalan layaknya pertunjukan festival pada umumnya.
Meski begitu, sejak awal sudah ada tanda-tanda bahwa pertunjukan ini akan tampil berbeda. Usai membawakan Speed Demon, Bieber menatap langsung ke arah kamera untuk menyapa audiens yang menyaksikan dari Youtube. Sementara layar raksasa di panggung Coachella menampilkan kolom komentar siaran langsung pertunjukan tersebut.
Saat pertunjukan memasuki menit ke-50, Bieber kembali menyapa audiens: “Malam ini sangat spesial, tapi aku merasa kita harus membawa kalian dalam sebuah perjalanan. Kalian ingat lagu ini?”
Sambil duduk di depan laptop, ia mengetik kata “baby” pada kolom pencarian Youtube yang terpampang di layar. Video klip[10] dari lagu hitnya tahun 2010 itu pun muncul. Bieber kemudian bernyanyi mengiringi video tersebut, tapi ia sengaja melewatkan lirik tertentu dan di beberapa bagian hanya menggerakkan bibir tanpa suara.
Pertunjukan modern saat ini semakin bergantung pada dukungan backing track (rekaman vokal pendukung), meski sering kali para musisi mencoba menyembunyikan fakta tersebut. Namun, Bieber versi hari ini—sebagai penyanyi latar—terdengar jauh lebih dewasa dibandingkan suaranya yang melengking di masa lalu. Alhasil, pertunjukan ini seolah menjadi semacam duet lintas waktu.
Setelah bagian hook utama selesai, Bieber menghentikan lagu secara tiba-tiba dan kembali pada tema “masa lalu”: “Seberapa jauh kalian ingin kembali?” Ia memutar lagu Favorite Girl (2009) dan kembali bernyanyi di bagian chorus sebelum lagu kembali berakhir mendadak.
Saat menyisir deretan lagu hit Youtube miliknya dengan cepat, Bieber hanya meminta maaf satu kali. Menariknya, permohonan maaf itu bukan karena penggunaan backing track, melainkan karena ia memotong lagu Confident (2013) terlalu cepat: “Maaf aku terpaksa memotongnya, tapi ini hanyalah cuplikan-cuplikan pendek.”
Ia memutar video cover awal kariernya di Youtube saat membawakan lagu-lagu Chris Brown[11] dan Ne-Yo[12], disusul dengan deretan hit komersialnya, seperti Sorry dan Where Are You Now.
Setelah sempat berpura-pura mengalami gangguan koneksi Wi-Fi, fokus beralih ke berbagai referensi budaya populer: sebuah video kompilasi kegagalan (blooper) ditampilkan, termasuk cuplikan ikonik Bieber muda menabrak pintu kaca[13] dan terperosok di panggung[14], hingga kemarahan terbarunya mengenai privasi dan paparazi[15].
Sebagai seorang produser pertunjukan langsung dan peneliti teknologi pertunjukan, saya merasa terpesona sekaligus terhibur. Saya bukanlah seorang Belieber[16], tapi saya menyukai bagaimana penampilan ini mendobrak ekspektasi seputar makna “keaslian” dari sebuah pertunjukan langsung.
Saya bertanya-tanya, apakah para kritikus yang menyebut aksi ini “malas” menyadari bahwa setiap jeda dan lelucon di bagian ini kemungkinan besar telah disiapkan sebelumnya, termasuk adegan mengetik di layar tersebut?
Bagaimanapun, terlalu banyak risiko dalam pertunjukan sebesar ini untuk membiarkan segalanya terjadi begitu saja secara kebetulan.
Apa makna pertunjukan musik ‘live’?
Dalam sejarah pertunjukan musik langsung, sudah banyak para musisi yang berinteraksi dengan rekaman diri mereka sendiri dan memicu kebingungan audiens.
Pada tahun 1967, The Doors membawa televisi ke atas panggung[17] untuk menonton penampilan mereka sendiri dalam sebuah acara varietas yang telah direkam sebelumnya.
Dekade berikutnya, Kraftwerk merepresentasikan diri mereka sebagai robot[18] alih-alih virtuoso (seseorang yang memiliki kemahiran, teknik, dan bakat luar biasa dalam bermusik).
Memasuki abad ke-21, Deadmau5 membongkar kebiasaan dengan menampilkan set pertunjukan pra-rekaman (yang sudah direkam sebelumnya)[19] dalam kancah musik dansa elektronik (EDM).
Dengan menggunakan audio prarekaman atau sequencer sebagai pengganti instrumen yang dimainkan secara langsung, para artis ini mempermainkan ekspektasi penonton tentang apa yang mereka lihat dan bagaimana hal itu terhubung dengan apa yang mereka dengar.
Saat kecil, saya menyaksikan penampilan duet Natalie Cole dengan mendiang ayahnya, Nat King Cole di ajang Grammy 1992[20]. Orang tua saya menganggapnya mengharukan, tapi bagi saya itu tampak menyeramkan.
Duet lain dengan musisi yang telah tiada mencakup hologram Tupac Shakur[21] yang “tampil” di Coachella tahun 2012, serta hologram Maria Callas yang “bernyanyi”[22] bersama Melbourne Symphony Orchestra pada 2023.
Hologram-hologram ini menawarkan akses terhadap pertunjukan yang mustahil dilakukan dan berupaya menghidupkan kembali masa lalu.
Di satu sisi, penampilan Bieber mencoba melakukan hal serupa saat ia berinteraksi langsung dengan rekaman penampilannya di masa lalu.
Ia tidak hanya mengandalkan materi pra-rekaman, tetapi juga sejarah viralitasnya sendiri. Penampilan yang bersifat referensi diri (self-referential) ini terinspirasi langsung oleh konsumsi budaya secara daring. Interaksinya dengan Youtube terasa relevan dan manusiawi, alih-alih berjarak dan malas.
Youtube dan pertunjukan
Sebagai seorang DJ, saya pertama kali menyadari dampak Youtube terhadap cara penyajian sebuah pertunjukan melalui kemunculan kanal Boiler Room[23]—yang menampilkan video para DJ beraksi di tengah kerumunan pengunjung.
Lambat laun, estetika dari video-video tersebut memengaruhi bagaimana sebuah pesta klub malam seharusnya terlihat: kelab malam dan festival mulai mengadopsi “set pertunjukan Boiler Room”[24]. Dalam hal ini, DJ dikelilingi oleh audiens yang menari, alih-alih ditempatkan di panggung tinggi yang terpisah.
Meski tren ini melahirkan generasi yang gemar berpose berlebihan, fenomena tersebut menunjukkan bahwa apa yang kita lihat secara daring memengaruhi apa yang disajikan di atas panggung.
Bieber membawa pemikiran ini ke hadapan audiens yang jauh lebih besar, menunjukkan keterlibatan nyata dengan eksistensi dirinya dalam budaya populer daring. Pada gilirannya, bagaimana kita bereaksi terhadap penampilan ini mungkin akan memengaruhi format pertunjukan langsung di masa depan.
References
- ^ 125 ribu pengunjung (www.aol.com)
- ^ saluran Youtube resminya (www.youtube.com)
- ^ nostalgia (www.bbc.com)
- ^ malas yang tidak menghargai penggemar (celebrity.nine.com.au)
- ^ Dijon (www.youtube.com)
- ^ Tems (www.youtube.com)
- ^ Wizkid (www.youtube.com)
- ^ Mk.gee (www.instagram.com)
- ^ The Kid Laroi (www.youtube.com)
- ^ Video klip (www.youtube.com)
- ^ Chris Brown (www.facebook.com)
- ^ Ne-Yo (www.instagram.com)
- ^ menabrak pintu kaca (www.instagram.com)
- ^ terperosok di panggung (www.youtube.com)
- ^ mengenai privasi dan paparazi (www.youtube.com)
- ^ Belieber (justinbieber.fandom.com)
- ^ membawa televisi ke atas panggung (doi.org)
- ^ sebagai robot (www.instagram.com)
- ^ set pertunjukan pra-rekaman (yang sudah direkam sebelumnya) (www.musicradar.com)
- ^ Grammy 1992 (www.youtube.com)
- ^ hologram Tupac Shakur (www.youtube.com)
- ^ “bernyanyi” (theconversation.com)
- ^ Boiler Room (www.youtube.com)
- ^ “set pertunjukan Boiler Room” (www.facebook.com)
Authors: Mike Callander, Lecturer in Music Industry, RMIT University



