Asian Spectator

.

.

Dari banjir bandang di Pakistan hingga kekeringan di Eropa: Ilmuwan jelaskan bencana serentak yang melanda dunia pecahkan rekor baru

  • Written by Andrew King, Senior Lecturer in Climate Science, The University of Melbourne
Dari banjir bandang di Pakistan hingga kekeringan di Eropa: Ilmuwan jelaskan bencana serentak yang melanda dunia pecahkan rekor baru

Banjir ekstrem yang disebabkan oleh kombinasi hujan lebat dan gletser yang mencair melanda Pakistan. Walaupun banjir yang mematikan sudah tidak lagi asing di Pakistan, peristiwa ini sangat mengejutkan. Lebih dari 1.100 orang menjadi korban jiwa dan jutaan lainnya terkena dampaknya.

Otoritas dari Pakistan terkait iklim mengatakan bahwa sepertiga dari seluruh negara bagian terendam banjir[1]. Area ini lebih luas dari negara bagian Victoria di Australia.

Musim panas di belahan Bumi utara ini telah mengalami peristiwa cuaca ekstrem yang beruntun, dari kekeringan yang tuai rekor baru di Eropa Barat, Amerika Serikat, dan Cina, hingga banjir di Jepang dan Korea Selatan.

Ini menimbulkan sebuah pertanyaan: sebesar apa peran perubahan iklim dalam bencana-bencana ini? Jika demikian, apa yang harus kita antisipasi mulai sekarang?

Musim panas ekstrem

Banjir di Pakistan adalah bencana terbaru dari serangkaian bencana luar biasa lainnya di belahan Bumi utara.

Eropa Barat[2] dan bagian tengah dan timur Cina[3] telah mengalami gelombang panas yang pecahkan rekor baru dan kekeringan yang menyebabkan pembatasan pasokan air. Gelombang panas dan kekeringan ini juga telah mengakibatkan kekurangan panen yang meningkatkan harga pangan di seluruh dunia.

Cina jatuh ke dalam krisis keamanan energi[4], dan sungai terpanjang di Italia mengalir dengan kecepatan sepersepuluh dari kecepatan biasanya[5]. Kekeringan ini dan dampaknya yang signifikan diperkirakan akan berlanjut di masa mendatang.

Hujan deras telah menyebabkan banjir di berbagai daerah, mulai dari Dallas, Amerika Serikat[6] hingga Seoul, Korea Selatan[7] yang mengalami hujan lebat terberat dalam satu abad terakhir.

Cuaca panas ekstrem yang pecahkan rekor baru juga telah dicatat di Jepang[8], Amerika Serikat bagian tengah[9], dan Inggris[10]. Suhu yang melebihi 40℃ telah melanda ketiga negara ini untuk pertama kalinya.

Baru beberapa bulan lalu, temperatur udara mencapai 50℃ sebelum musim hujan di India bagian utara dan Pakistan[11].

Suhu di Britania Raya baru-baru ini naik lebih dari 40℃ untuk pertama kalinya dalam catatan. EPA/ANDY RAIN

Menempatkannya dalam perspektif

Meskipun benar bahwa beberapa peristiwa ekstrem pada musim panas tahun ini luar biasa, kami biasanya melihat lebih banyak peristiwa cuaca ekstrem dengan dampak yang tinggi pada musim panas di belahan Bumi utara daripada musim lainnya. Ini karena suhu panas yang ekstrem, hujan yang sangat deras, dan kekeringan lebih mungkin terjadi pada waktu terpanas.

Dua pertiga dari daratan planet dan lebih dari 85% populasi dunia berada di belahan Bumi utara. Ini berarti ada lebih banyak orang yang terkena dampak cuaca ekstrem daripada di belahan Bumi selatan, menjadikan musim panas belahan Bumi utara sebagai musim yang paling berpotensi mengalami bencana yang berdampak parah.

Selain itu, peristiwa cuaca ekstrem di tempat berbeda dapat terjadi pada waktu yang sama, karena adanya gelombang atmosfer berskala besar yang disebut “gelombang Rossby,” yaitu fenomena yang terjadi secara alami, seperti La Niña dan El Niño.

Tentara membawa puing-puing dari rumah-rumah yang terendam setelah hujan lebat pasca banjir di Seoul, Korea Selatan. Kiim In-chul/Newsis via AP

Pada tahun 2010 silam, bagian barat Rusia mengalami suhu panas yang parah dan kebakaran hutan, sementara Pakistan mengalami beberapa banjir terburuk yang pernah terjadi di negara ini. Peristiwa-peristiwa ini dipengaruhi oleh gelombang Rossby[12] yang menyebabkan pola tekanan tinggi tertahan di bagian barat Rusia dan tekanan rendah tertahan di Pakistan.

Gelombang Rossby juga dapat menghasilkan gelombang panas yang terjadi pada waktu yang sama meski terpisah jarak ribuan kilometer. Pada awal musim panas di belahan Bumi utara ini, kami melihatgelombang panas simultan[13] menyerang Amerika Serikat bagian barat, Eropa Barat, dan Cina.

Gelombang Rossby mungkin telah memicu bencana-bencana yang terjadi bersamaan di musim panas ini, tetapi masih terlalu dini untuk mengatakan hal itu dengan pasti.

Read more: 'Matter of national destiny': China’s energy crisis sees the world’s top emitter investing in more coal[14]

Perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang tak kunjung usai

Dengan begitu banyak peristiwa cuaca ekstrem yang menyebabkan kematian massal, masalah ekonomi, dan masalah lingkungan yang besar, ada baiknya mempertimbangkan jika perubahan iklim dapat memperburuk hal ini.

Perubahan iklim yang disebabkan manusia telah meningkatkan suhu Bumi sekitar 1,2℃[15] hingga saat ini. Akibatnya, beberapa jenis cuaca ekstrem terjadi lebih sering dengan intensitas yang terus meningkat, khususnya gelombang panas ekstrem[16] dan suhu yang mencapai rekor tertinggi.

Ladang jagung tampak sangat kering di Korchersberg, timur Prancis. AP Photo/Jean-Francois Badias

Setiap gelombang panas saat ini ada hubungannya dengan perubahan iklim yang dihasilkan dari emisi gas rumah kaca kita. Faktanya, analisis cepat telah menunjukkan bahwa pengaruh manusia terhadap iklim sangat meningkatkan kemungkinan suhu panas ekstrem di India dan Pakistan[17] pada bulan Mei, dan rekor suhu tertinggi di Inggris[18] pada bulan Juli.

Penelitian juga menunjukkan perubahan iklim meningkatkan frekuensi terjadinya[19] gelombang panas simultan di belahan Bumi utara, terutama karena pemanasan suhu jangka panjang.

Meski demikian, masih belum dapat dibuktikan dengan pasti jika pola gelombang Rossby adalah penyebab gelombang panas simultan di wilayah yang berbeda menjadi lebih sering.

Perubahan iklim juga mengubah pola curah hujan yang mengakibatkan kekeringan yang semakin parah di beberapa daerah, seperti di sebagian besar Eropa Barat.

Hujan deras serta hujan lebat dengan durasi singkat yang ekstrem, seperti yang terjadi di Seoul dan Dallas dalam beberapa pekan terakhir, juga semakin diperparah oleh perubahan iklim. Ini karena pemanasan global mengakibatkan udara mampu menahan lebih banyak uap air – untuk setiap 1℃ pemanasan, atmosfer dapat menahan 7% lebih banyak uap air.

Hujan lebat di Pakistan mengikuti tren yang diamati menuju peningkatan total curah hujan harian yang ekstrem. Dengan meningkatnya suhu Bumi, Pakistan berpotensi mengalami intensifikasi lanjutan dari peristiwa hujan ekstrem harian atau berhari-hari selama musim panas.

Curah hujan selama maksimum 5 hari pada bulan Juni-Agustus diproyeksikan meningkat di Pakistan ketika suhu meningkat 2°C. IPCC AR6 Interactive Atlas

Read more: The world endured 2 extra heatwave days per decade since 1950 – but the worst is yet to come[20]

Suhu ektrem yang lebih buruk akan terjadi

Kita dapat memprediksi bahwa cuaca akan menjadi lebih ekstrem di tahun-tahun mendatang karena emisi gas rumah kaca global terus berlanjut pada tingkat yang mendekati rekor[21].

Para ilmuwan telah memprediksi bahwa peristiwa cuaca ekstrem akan semakin buruk[22] selama beberapa dekade, terutama gelombang panas. Sekarang, kita benar-benar menyaksikannya.

Beberapa suhu panas ekstrem dalam beberapa tahun terakhir telah jauh melampaui[23] prediksi yang kami pikir akan terjadi setelah lebih dari 1℃ pemanasan global, seperti rekor panas Amerika Utara bagian barat musim panas lalu. Tetapi sulit untuk mengetahui jika proyeksi kami ini terlalu rendah dalam memperkirakan suhu panas yang ekstrem.

Bagaimanapun, dunia harus bersiap untuk kemungkinan mencapai suhu tinggi yang mememecahkan rekor[24] lebih lanjut di bulan, tahun, dan dekade mendatang. Kita perlu melakukan dekarbonisasi dengan cepat untuk membatasi kerusakan yang disebabkan oleh peristiwa ekstrem di masa depan.

Read more: The UK just hit 40℃ for the first time. It's a stark reminder of the deadly heat awaiting Australia[25]

Zalfa Imani Trijatna dari Universitas Indonesia menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

References

  1. ^ sepertiga dari seluruh negara bagian terendam banjir (www.washingtonpost.com)
  2. ^ Eropa Barat (www.abc.net.au)
  3. ^ bagian tengah dan timur Cina (www.newscientist.com)
  4. ^ krisis keamanan energi (theconversation.com)
  5. ^ sepersepuluh dari kecepatan biasanya (www.theguardian.com)
  6. ^ Dallas, Amerika Serikat (edition.cnn.com)
  7. ^ Seoul, Korea Selatan (edition.cnn.com)
  8. ^ Jepang (www.bbc.com)
  9. ^ Amerika Serikat bagian tengah (earthobservatory.nasa.gov)
  10. ^ Inggris (www.scientificamerican.com)
  11. ^ India bagian utara dan Pakistan (theconversation.com)
  12. ^ dipengaruhi oleh gelombang Rossby (www.nasa.gov)
  13. ^ gelombang panas simultan (www.nature.com)
  14. ^ 'Matter of national destiny': China’s energy crisis sees the world’s top emitter investing in more coal (theconversation.com)
  15. ^ sekitar 1,2℃ (www.globalwarmingindex.org)
  16. ^ gelombang panas ekstrem (theconversation.com)
  17. ^ suhu panas ekstrem di India dan Pakistan (www.bloomberg.com)
  18. ^ rekor suhu tertinggi di Inggris (www.bbc.com)
  19. ^ meningkatkan frekuensi terjadinya (journals.ametsoc.org)
  20. ^ The world endured 2 extra heatwave days per decade since 1950 – but the worst is yet to come (theconversation.com)
  21. ^ tingkat yang mendekati rekor (www.iea.org)
  22. ^ memprediksi bahwa peristiwa cuaca ekstrem akan semakin buruk (www.pbs.org)
  23. ^ jauh melampaui (www.ft.com)
  24. ^ kemungkinan mencapai suhu tinggi yang mememecahkan rekor (www.carbonbrief.org)
  25. ^ The UK just hit 40℃ for the first time. It's a stark reminder of the deadly heat awaiting Australia (theconversation.com)

Authors: Andrew King, Senior Lecturer in Climate Science, The University of Melbourne

Read more https://theconversation.com/dari-banjir-bandang-di-pakistan-hingga-kekeringan-di-eropa-ilmuwan-jelaskan-bencana-serentak-yang-melanda-dunia-pecahkan-rekor-baru-189805

Magazine

Twitter mencabut larangan misinformasi COVID: ini risiko besar bagi kesehatan masyarakat

Pembatasan misinformasi COVID-19 di Twitter telah dinonaktifkan. Foto AP/Jeff ChiuPara peneliti dan pakar kesehatan masyarakat sangat prihatin tentang kemungkinan dampak dari keputusan Twitter untuk t...

Lessons from Cianjur: earthquake-prone Indonesia does not have seismic mitigation plan

The SAR team is looking for victims buried in an earthquake landslide in Cianjur Regency, West Java, Indonesia, November 24, 2022. BETWEEN PHOTOS/Yulius Satria Wijaya/hpMore than 340 people are dead o...

Upah minimum 2023 naik maksimal 10%: baik untuk pengusaha dan pekerja?

Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan upah minimum tahun 2023 naik maksimal 10%. Pengumuman ini tercantum dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) nomor 18 tahun 2022 tentang penetapan u...



NewsServices.com

Content & Technology Connecting Global Audiences

More Information - Less Opinion