Asian Spectator

Men's Weekly

.

Bagaimana planet-planet terbentuk?

  • Written by Daniel Cunnama, Science Engagement Astronomer, South African Astronomical Observatory, South African Astronomical Observatory
Bagaimana planet-planet terbentuk?

Bagaimana planet-planet terbentuk? - (Saba, 6, Kenya)

Terima kasih telah mengajukan pertanyaan yang menarik, Saba. Ketika berbicara tentang planet, kamu mungkin berpikir tentang planet-planet di tata surya kita, yaitu planet yang mengorbit (mengelilingi) matahari. Ada delapan di antaranya[1]. Salah satunya adalah tempat kamu dan saya tinggal: Bumi. Yang lainnya adalah Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Masih banyak lagi planet-planet yang berada di luar tata surya dan galaksi kita, Bimasakti. Para ilmuwan seperti kita, yang dikenal sebagai astronom, telah menemukan lebih dari 5.000 planet[2] di sekitar bintang-bintang lain. Kami memperkirakan ada triliunan planet di alam semesta.

Bagaimana planet-planet itu terbentuk? Semuanya berawal dari awan gas dan debu.

Gas dan debu

Awan gas dan debu ini disebut nebula. Awan ini melayang-layang di angkasa seperti halnya awan di langit. Ada daerah yang memiliki lebih banyak awan dan ada juga yang lebih sedikit, dan para astronom bisa melihatnya dengan menggunakan teleskop.

Nebula mengandung gas seperti hidrogen, helium, dan karbon. Ketika sebuah nebula menjadi cukup padat, gravitasi akan menariknya bersama ke dalam inti yang sangat padat. Ini hampir mirip seperti air di bak mandi yang berputar-putar di sekitar saluran pembuangan sebelum akhirnya tersedot ke bawah. Ketika awan menjadi padat, awan akan memanas. Ketika awan menjadi padat dan cukup panas, atom-atom yang merupakan blok-blok penyusun kecil dari semua materi di dunia mulai menyatu.

Proses ini disebut fusi nuklir dan menghasilkan banyak energi. Dan awan pun menyala seperti kembang api. Beginilah proses kelahiran sebuah bintang baru, seperti halnya Matahari 4,5 miliar tahun yang lalu[3].

Sejumlah kecil gas dan debu tetap berada di sekeliling bintang baru dalam piringan yang berputar. Planet-planet terbentuk dari piringan materi ini.

Protoplanet

Saat piringan berputar, materi di dalamnya berupa potongan-potongan kecil batuan dan es, menyatu dan semakin besar. Hal ini membentuk apa yang kita sebut planetesimal, yang saling bertabrakan satu sama lain seperti mobil bemper dan menciptakan benda yang lebih besar lagi yang dikenal sebagai protoplanet.

Protoplanet terus bertumbuh. Ketika hal ini terjadi, planet-planet tersebut menarik gas dari piringan di sekelilingnya, menciptakan atmosfer yang tebal. Proses ini disebut akresi dan inilah proses terbentuknya planet gas raksasa seperti Jupiter dan Saturnus. Jika sebuah protoplanet terbentuk dari elemen yang lebih berat di bagian luar Tata Surya, maka akan terbentuk planet es raksasa. Planet Neptunus dan Uranus adalah planet es raksasa.

Bahkan setelah planet terbentuk, planet ini bisa terus berubah seiring waktu melalui proses-proses seperti aktivitas vulkanik, pergerakan tektonik, dan erosi. Di Bumi, gunung-gunung seperti Gunung Kilimanjaro di Tanzania - negara yang bersebelahan dengan Kenya - terbentuk dari gunung berapi besar. Dan gunung yang lebih besar lagi seperti Himalaya terbentuk dari lempeng tektonik yang bertabrakan. Lempeng tektonik adalah bagian besar dari lapisan luar Bumi; terkadang lempeng tersebut bertabrakan satu sama lain dan menciptakan benda-benda seperti gunung.

Jutaan tahun

Penjelasan yang saya sampaikan di atas membuat planet-planet terlihat terbentuk dengan cepat. Tapi, proses yang dimulai dari awan gas dan debu itu membutuhkan waktu jutaan tahun untuk bertransformasi menjadi planet-planet yang indah dan beragam seperti yang kita lihat di Tata Surya dan planet-planet lainnya.

Demetrius Adyatma Pangestu dari Universitas Bina Nusantara menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris

References

  1. ^ Ada delapan di antaranya (solarsystem.nasa.gov)
  2. ^ lebih dari 5.000 planet (www.planetary.org)
  3. ^ 4,5 miliar tahun yang lalu (spaceplace.nasa.gov)

Authors: Daniel Cunnama, Science Engagement Astronomer, South African Astronomical Observatory, South African Astronomical Observatory

Read more https://theconversation.com/bagaimana-planet-planet-terbentuk-207821

Magazine

Kebijakan WFH hemat energi: Hanya untuk kaum mampu tanpa keberpihakan kepada pekerja informal

● Pemerintah memastikan rencana WFH bagi ASN dan swasta akan berjalan dalam waktu dekat.● Sayangnya ini hanya kebijakan jangka pendek penghematan neraca konsumsi BBM semata.● Pemerin...

Ratusan ribu artikel ilmiah terbit tiap tahun: Bagaimana menjaga kualitas di tengah lonjakan publikasi?

stoatphoto/shutterstock● Jumlah publikasi ilmiah di Indonesia bertumbuh sangat pesat.● Lonjakan jumlah artikel jurnal berisiko menurunkan kualitas penelaahan dan memicu praktik produksi na...

Transisi energi harus adil, tapi apa makna keadilan bagi masyarakat Indonesia?

● Transisi energi harus berkeadilan, tidak boleh ada kelompok mana pun yang dirugikan.● Kita semua perlu memahami makna ‘adil’ dalam perspektif publik untuk bisa mewujudkan tra...