Tiga alasan mengapa Coldplay akhirnya memilih manggung di Indonesia
- Written by Roswita Oktavianti, PhD Student at the Department of Communication, University of Vienna & Lecturer in the Communication Studies Programme, Universitas Tarumanagara
Grup band asal Inggris, Coldplay, dijadwalkan tampil di Indonesia untuk pertama kalinya pada 15 November 2023[1].
Masih jelas di ingatan, bagaimana band rock yang dibentuk tahun 1997 ini, terang-terangan melewati Indonesia dan memilih tampil di negara-negara tetangga seperti Singapura, Thailand, Filipina, dan Australia pada tur tahun 2017.
Mengapa melewati Indonesia? Saat itu, Indonesia dianggap negara yang tidak ramah terhadap lingkungan, dan abai memanfaatkan energi berkelanjutan. Prinsip yang dipegang teguh oleh Coldplay[2].
Coldplay terlihat masih memegang kuat prinsip tersebut ketika penulis menyaksikan konser mereka di Gothenburg, bulan lalu. Ini kota terbesar kedua di Swedia setelah ibu kota negara, Stockholm.
Sebelum konser dimulai, layar di panggung menampilkan sejumlah program kerja sama dengan organisasi lingkungan di berbagai negara yang didanai dari penjualan tiket. Aliran listrik selama pertunjukan bersumber dari energi terbarukan. Penonton diimbau membawa botol air isi ulang; wajib mengembalikan gelang (wristband) LED berbahan nabati; hingga menggunakan transportasi publik, bersepeda dan berjalan kaki menuju lokasi konser.
Syarat terakhir tentu mudah diterapkan oleh Gothenburg. Enam kali berturut-turut, kota ini menjadi destinasi paling berkelanjutan di dunia menurut the Global Destination Sustainability Index[3].
Tidak hanya isu lingkungan, Coldplay juga mengusung topik LGBTQ+ di konsernya.
Menariknya, meskipun Indonesia sama sekali tidak memiliki komitmen serius di kedua topik tersebut, Coldplay tetap memutuskan menggelar konser di sini.
Sebagai ilmuwan di bidang Ilmu Komunikasi yang fokus meneliti industri media, penulis mengkaji keputusan Coldplay untuk tetap manggung di Jakarta dengan menggunakan konsep “industri budaya” dan “konsumsi budaya” yang diciptakan oleh dua filsuf terkenal Jerman Theodor Adorno dan Max Horkheimer[4].
Industri budaya menggambarkan produksi budaya massa dan hubungan kekuasaan antara produsen kapitalis dan konsumen massa. Budaya dan industri seharusnya dua hal yang bertentangan. Budaya mempunyai fungsi menghibur, solidaritas, mewariskan nilai.
Menurut antropolog Indonesia, Koentjaraningrat[5], kebudayaan melahirkan cipta, rasa, karsa. Hal-hal mendasar dalam hidup manusia seperti ideologi dan identitas. Sementara industri, melibatkan banyak kepentingan di dalamnya, bersifat komersial dan berorientasi pada keuntungan.
Dalam demokrasi kapitalis modern, batasan keduanya menjadi kabur atau bahkan runtuh. Kebudayaan yang merupakan gagasan dan sistem nilai manusia dan masyarakat, kemudian diuangkan, dieksploitasi, dikomodifikasi sedemikian rupa untuk kepentingan pihak-pihak tertentu.
Dari pemahaman di atas, kita melihat bahwa ada tiga alasan mengapa Coldplay akhirnya memilih Indonesia.
Pertama, adanya alasan ekonomis di balik keputusan ini.
Pertumbuhan ekonomi di industri musik meningkat luar biasa pasca pandemi COVID-19. Industri musik merupakan salah satu sektor yang terpukul saat terjadi pembatasan sosial di seluruh dunia.
Pada awal penguncian wilayah (lockdown) pada 2020, semua tur dibatalkan. Ratusan kru dirumahkan. Sebagai gantinya, para musisi menggelar konser virtual[6] dari rumah, termasuk Chris Martin.
Nyatanya, platform streaming belum bisa menggantikan pemasukan dari penampilan langsung (live performances) yang biasanya diikuti dengan penjualan merchandise dan iklan. Fakta ini tidak hanya terjadi di Tanah Air[7] tetapi juga industri musik global[8].
Berkaca dari pengalaman mati surinya industri musik global selama pandemi, membuat musisi dan produser ‘melonggarkan’ aturan mainnya.
References
- ^ 15 November 2023 (www.coldplay.com)
- ^ Prinsip yang dipegang teguh oleh Coldplay (www.bbc.com)
- ^ the Global Destination Sustainability Index (www.goteborg.com)
- ^ Theodor Adorno dan Max Horkheimer (www.marxists.org)
- ^ Koentjaraningrat (www.kompas.com)
- ^ konser virtual (unctad.org)
- ^ Tanah Air (www.theindonesianinstitute.com)
- ^ industri musik global (unctad.org)
- ^ menurut Adorno (www.marxists.org)
- ^ “Music of the Spheres” tahun 2022-2024 (www.coldplay.com)
- ^ isu lingkungan hidup (assets.researchsquare.com)
- ^ LGBTQ+ (www.benarnews.org)
- ^ Romania (www.romania-insider.com)
- ^ Yunani (greekcitytimes.com)
- ^ Hungaria (dailynewshungary.com)
- ^ fetish-consciousness (www.secretintelligenceservice.org)
Authors: Roswita Oktavianti, PhD Student at the Department of Communication, University of Vienna & Lecturer in the Communication Studies Programme, Universitas Tarumanagara




