Asian Spectator

Times Advertising

Penebusan emisi karbon dianggap ‘tak berguna’, berisiko memperparah perubahan iklim

  • Written by Julia P G Jones, Professor of Conservation Science, Bangor University
Bonobo yang memakan tanaman sambil tersenyum

Pada awal 2023, artikel media the Guardian[1] menyatakan ada lebih dari 90% proyek penebusan karbon (ganti rugi emisi karbon) atau carbon offsets dari hutan hujan yang tidak berharga.

Proyek ini pada intinya merupakan sebuah janji sebuah usaha perlindungan hutan di suatu tempat yang dapat dibeli. Tujuannya untuk “menebus” emisi gas rumah kaca yang dilepaskan di tempat lainnya.

Perusahaan sertifikasi terbesar dalam proyek penebusan karbon, Verra, kemudian menyatakan artikel tersebut “sangat tidak benar”[2]“. Namun, artikel Guardian terlanjur mengguncang kepercayaan pasar yang bernilai miliaran dolar ini[3]. Tak lama kemudian, Kepala Eksekutif Verra menyatakan mundur dari jabatannya[4].

Artikel Guardian dibuat berdasarkan analisis yang masih berstatus pracetak alias preprint[5] (belum menjalani proses telaah sejawat). Kini, riset tersebut sudah lulus telaah dan terbit di jurnal Science[6].

Artikel ini secara gamblang menunjukkan begitu banyak karbon hasil tebusan yang telah dijual dalam skema REDD+ (Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan) justru gagal meredam deforestasi.

Proyek REDD+ ditujukan untuk memperlambat deforestasi, misalnya dengan mendukung petani mengubah praktik mereka. Proyek ini menghitung karbon yang terjaga dengan upaya pengurangan deforestasi tersebut, kemudian membandingkannya dengan memperkirakan apa yang akan terjadi (berapa emisi yang terlepas) tanpa upaya tersebut. Emisi yang terjaga inilah yang dapat dijual sebagai "kredit karbon”.

Kredit REDD+ marak digunakan untuk menebus (lebih tepatnya membatalkan) emisi, baik dari korporasi (yang dapat digunakan untuk mengklaim operasi perusahaan mereka netral karbon), maupun orang-orang yang khawatir dengan jejak emisi karbon mereka.

Misalnya, jika kamu berencana menumpang pesawat dari London ke New York, kamu dapat membeli kredit REDD+ dari proyek pelestarian hutan hujan di Cekungan Kongo[7] (plus manfaat tambahan bagi gajah hutan dan bonobos). Biaya penggantian karbon dari penerbangan pulang-pergi kamu akan tampak sangat terjangkau, sekitar £16,44 atau setara Rp269 ribu[8].

Bonobo yang memakan tanaman sambil tersenyum
Proyek penggantian karbon menguntungkan Bonobo? Wirestock Creators / shutterstock

Memang ada analisis sebelumnya yang menunjukkan[9] beberapa proyek REDD+ membantu memperlambat deforestasi dan degradasi hutan. Kendati demikian, temuan utama dari studi baru ini justru menampilkan banyak proyek yang memperlambat deforestasi jauh lebih sedikit dari klaim mereka.

Akhirnya, jumlah karbon terjaga (tersimpan dalam hutan) yang dijanjikan[10] jauh lebih sedikit dari yang benar-benar mereka penuhi. Karena itulah, penerbangan ke New York tadi sebenarnya tidaklah netral karbon.

Temuan banyaknya karbon kredit REDD+ yang tidak memenuhi janji pelestarian hutan ini sangat mengkhawatirkan, terutama bagi mereka yang peduli terhadap masa depan hutan tropis.

Kami berbincang dengan Sven Wunder, ahli ekonomi kehutanan dan juga salah satu penulis studi baru ini. Dia mengatakan “Untuk mengatasi perubahan iklim, deforestasi hutan tropis harus berhenti. Hutan juga penting karena alasan lain: kehilangan hutan akan menyebabkan kehilangan spesies dan akan berdampak pada pola curah hujan di suatu daerah. Meskipun ada bukti yang menyatakan REDD+ belum memenuhi tujuan konservasi tambahan mereka, kita masih belum boleh menyerah.”

Deforestasi gampang berpindah tempat

Karbon kredit juga menghadapi tantangan lainnya. Salah satu yang terbesar adalah “kebocoran” atau perpindahan deforestasi. Ini mungkin terjadi karena orang-orang yang membabat hutan bisa dengan mudah berpindah ke tempat lainnya. Permintaan pangan ataupun hasil kayu–yang memicu deforestasi di suatu tempat–dapat dipenuhi oleh deforestasi di lokasi lainnya. Mungkin di sisi dunia yang lain.

Masalah lainnya adalah memastikan hutan terus terlindungi agar pengurangan deforestasi benar-benar mewakili usaha penyerapan emisi karbon[11] dari atmosfer.

Pohon yang ambruk di area terdeforestasi Kegunaan kredit karbon mungkin hanya sementara, tapi hutan harus dilindungi selamanya. Eleanor Warren-Thomas

Usaha mengatasi tantangan ini sangatlah penting. Sebab, karbon kredit adalah sumber pendanaan yang vital bagi perlindungan hutan. Tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa kredit REDD+ yang tak terpercaya justru secara langsung mengancam kelangsungan hutan[12].

Kendati demikian, topik riset ini masih aktif dan pendekatan baru terus muncul. Misalnya, Andrew Balmford adalah profesor ilmu konservasi dari University of Cambridge yang secara aktif mengembangkan metode peningkatan kredibilitas pasar karbon dari hutan. Dia mengatakan, studi baru ini memang memunculkan isu penting, tapi sejumlah metode (penggantian karbon) yang lebih kokoh dan transparan[13] sedang dirumuskan. Peluncuran metode baru ini, kata dia kepada kami, adalah “prioritas mendesak.”

Pasar karbon juga membutuhkan perubahan proses sertifikasi. Saat ini, ada insentif bagi lembaga verifikasi proyek penebusan karbon untuk menggelembungkan perkiraan angka deforestasi yang dapat terjadi jika proyek tidak terlaksana. Ini berimbas pada jumlah kredit karbon yang diterbitkan. Sven Wunder menjelaskan: “Kita perlu beralih dari kepentingan pribadi ke tata kelola independen dengan metode mutakhir yang berlandaskan sains.”

Alasan untuk waspada

Meskipun masalah-masalah di atas bisa diatasi, kita masih memiliki beberapa alasan untuk waspada terhadap peran penggantian karbon dalam mengatasi perubahan iklim.

Pertama, ada risiko bahwa penggantian karbon justru meningkatkan emisi karena orang-orang ataupun perusahaan dapat merasa lebih nyaman[14] melepaskan emisi karbon jika mereka percaya setiap kerusakan yang dilakukan dapat digantikan hanya dengan membeli kredit karbon.

Untuk alasan ini, beberapa orang berargumen[15] bahwa penggantian karbon seharusnya hanya menjadi pilihan terakhir, saat seluruh emisi nonesensial sudah dipangkas (meski ada perkara lainnya: siapa yang memutuskan emisi mana yang tergolong esensial?).

Kedua, usaha menahan pemanasan global di angka 2°C mengharuskan kita menghentikan sebagian besar deforestasi, sekaligus mengurangi emisi bahan bakar fosil yang sangat besar. Ada batasan sektor mana yang dapat digunakan[16] untuk menggantikan emisi dari sektor yang lain.

Sapi di padang rumput tanpa latar belakang pegunungan berhutan Sapi di Kongo: Proyek REDD+ tidak boleh merugikan petani lokal. Kiki Dohmeier / shutterstock

Terakhir, ada persoalan keadilan serius dalam sejumlah proyek penggantian karbon. Apabila konservasi hutan tercapai dengan menghentikan petani di negara berpendapatan rendah membabat lahan untuk pertanian, maka REDD+ justru dapat memperparah kemiskinan[17]. Penerbangan panjangmu justru dapat memengaruhi kemampuan seseorang menafkahi keluarganya.

Kita tidak mengetahui seberapa besar ongkos yang dikeluarkan untuk mencapai penggantian karbon yang mampu mencegah kebocoran dan menjamin keadilan. Namun, kemungkinan besar hal itu akan jauh lebih mahal daripada kredit karbon yang saat ini dijual. Harga yang lebih tinggi akan meredam persepsi bahwa penggantian karbon adalah pilihan gampang, plus merangsang fokus kita untuk langsung memangkas emisi.

Jadi, haruskah kamu membeli kredit karbon saat ingin menumpang pesawat terbang? Sayangnya, masih sangat sedikit bukti bahwa langkah tersebut bisa membantumu mencapai netral karbon. Jika kamu ingin berkontribusi meredam perubahan iklim, mungkin opsi yang sebenarnya hanyalah tidak membeli tiket pesawat.

References

  1. ^ artikel media the Guardian (www.theguardian.com)
  2. ^ “sangat tidak benar” (www.theguardian.com)
  3. ^ pasar yang bernilai miliaran dolar ini (www.ecosystemmarketplace.com)
  4. ^ menyatakan mundur dari jabatannya (www.theguardian.com)
  5. ^ pracetak alias preprint (arxiv.org)
  6. ^ Science (www.science.org)
  7. ^ pelestarian hutan hujan di Cekungan Kongo (www.5dnetzero.co.uk)
  8. ^ sekitar £16,44 atau setara Rp269 ribu (www.5dnetzero.co.uk)
  9. ^ analisis sebelumnya yang menunjukkan (conbio.onlinelibrary.wiley.com)
  10. ^ jumlah karbon terjaga (tersimpan dalam hutan) yang dijanjikan (www.science.org)
  11. ^ usaha penyerapan emisi karbon (www.cambridge.org)
  12. ^ tak terpercaya justru secara langsung mengancam kelangsungan hutan (www.science.org)
  13. ^ kokoh dan transparan (www.cambridge.org)
  14. ^ dapat merasa lebih nyaman (onlinelibrary.wiley.com)
  15. ^ beberapa orang berargumen (vcmintegrity.org)
  16. ^ yang dapat digunakan (www.ipcc.ch)
  17. ^ memperparah kemiskinan (peerj.com)

Authors: Julia P G Jones, Professor of Conservation Science, Bangor University

Read more https://theconversation.com/penebusan-emisi-karbon-dianggap-tak-berguna-berisiko-memperparah-perubahan-iklim-214416

Magazine

Cuma ‘nyuci-ngepel’: Bagaimana bias gender melanggengkan eksploitasi PRT di Indonesia

Aksi protes mendukung pengesahan UU PPRT di depan gedung DPR RI(Bagus upc/Shutterstock)● Kelas menengah Indonesia amat tergantung pada pekerja rumah tangga untuk mendukung produktivitas.● ...

Apakah gambar ‘Yesus’ Trump termasuk penistaan agama? Begini penjelasan ahli religi

Belum lama ini, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengunggah sebuah gambar hasil kecerdasan imitasi (AI). Gambar ini menampilkan dirinya mengenakan jubah putih, sembari meletakkan tangan yang...

Menguji kepemimpinan Prabowo: Kenapa mental sipil cendekia lebih dibutuhkan dibandingkan militer

Foto Presiden Prabowo Subianto dipajang dalam pigura foto di pasar tradisional di Bandung.SR_foto/Shutterstock● Memimpin negara butuh kapasitas intelektual dan moral yang kuat.● Mentalitas...