Asian Spectator


The Times

.

Cek Fakta: benarkah 75% lahan di Indonesia pernah dikuasai 1% populasi?

  • Written by Anggi M. Lubis, Business + Economy Editor
Cek Fakta: benarkah 75% lahan di Indonesia pernah dikuasai 1% populasi?

Sisanya 99% masyarakat Indonesia berebut 25% lahan yang tersisa. Ini perlu ditata secara bersama-sama.

Mahfud MD - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan sekaligus kandidat calon wakil presiden saat berbicara di acara dialog Andalas Lawyers Club di Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat pada Senin 18 Desember 2023.

Akademisi menguji visi misi Mahfud MD sebagai cawapres kandidat Ganjar Pranowo.

Dalam lawatannya ke Universitas Andalas, Mahfud membenarkan adanya penguasaan 75% lahan oleh 1% populasi, yang terjadi sebelum era Presiden Joko “Jokowi” Widodo. Kini, penguasaan oleh segelintir orang itu mulai berkurang.

“Memang masih ada (pembelian atau pemberian hak guna tanah untuk segelintir orang), tapi itu sudah sedikit karena melanjutkan MoU (dari pemerintahan) sebelumnya. Setelah itu, habis,” ujarnya seperti dikutip oleh Kompas.com[1]. Mahfud membenarkan adanya mafia tanah yang merebut lahan, namun sulit menerapkan reforma agraria dengan peraturan karena adanya ketidaksepahaman, misalnya dari dan antar akademisi.

The Conversation Indonesia menghubungi Alexander Michael Tjahjadi, peneliti dari Think Policy, untuk memeriksa kebenaran pernyataan Mahfud tersebut.

Analisis: ketimpangan pertanahan masih tinggi

Jika diterjemahkan ke dalam koefisien gini–yang biasa digunakan sebagai parameter kondisi ketimpangan–Mahfud mengindikasikan bahwa Indonesia pernah menyentuh rasio gini pertanahan di angka 0,75.

Data rasio gini pertanahan yang diolah dari Badan Pusat Statistik (BPS)[2] menunjukkan sempat ada peningkatan ketimpangan pemilikan lahan dari 0,55 pada 1973 dan mencapai puncak di level 0,72 pada 2003, sebelum menurun menjadi 0,68 pada 2013. Namun, tidak ditemukan kelanjutan data BPS ini.

Sementara, berdasarkan dokumen yang diterbitkan Badan Pertanahan Nasional[3] pada 2022, level rasio gini pertanahan saat ini berada di kisaran 0,58. Ini menunjukkan bahwa 1% populasi masih menguasai 58% lahan.

Namun, perlu menjadi catatan bahwa BPS dan BPN mempunyai cara perhitungan rasio gini pertanahan yang berbeda secara signifikan[4].

Meski demikian, angka di atas 0,5 menunjukkan ketimpangan yang tinggi, sedangkan ketimpangan sedang ada di antara 0,4-0,5.

Hasil analisis

Kata-kata Mahfud terkait peningkatan rasio lahan yang sempat membuat 99% masyarakat berebut 25% lahan tidak terbukti secara statistik, meski angkanya sempat mendekati pada 2003. Penurunan ketimpangan distribusi lahan juga tidak dapat diverifikasi karena data tidak mencukupi, dan data yang ada menggunakan penghitungan yang berbeda. Meski begitu, data-data yang ada masih mengindikasikan tingginya tingkat ketimpangan kepemilikan tanah di Indonesia.

Pernyataan Mahfud bahwa lahan harus ditata sudah benar, namun ini mesti datang dari pemerintah. Riset yang terbit pada 2022[5] menunjukkan bahwa redistribusi lahan lebih dari 0,5 ha akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada.

Tak hanya itu, reforma agraria juga harus mempertimbangkan lebih dari redistribusi lahan[6] dan melihat konteks pembangunan yang lebih luas, terutama terkait pengaruhnya ke mata pencaharian.

CATATAN EDITOR: Paragraf 9 telah mengalami perbaikan pada 20 Desember 2023 Pukul 13.50 WIB. Perubahan yang diberikan adalah informasi adanya perbedaan cara menghitung rasio gini antara BPS dan BPN. Sehingga, analisis narasumber pada paragraf 11 berubah dari “terjadi penurunan rasio gini” menjadi “penurunan rasio gini tidak dapat diverifikasi”. Kami meminta maaf atas kekeliruan ini.

References

  1. ^ Kompas.com (regional.kompas.com)
  2. ^ Badan Pusat Statistik (BPS) (databoks.katadata.co.id)
  3. ^ Badan Pertanahan Nasional (ditjenpptr.atrbpn.go.id)
  4. ^ berbeda secara signifikan (jurnaltunasagraria.stpn.ac.id)
  5. ^ Riset yang terbit pada 2022 (jurnalbhumi.stpn.ac.id)
  6. ^ lebih dari redistribusi lahan (www.kpa.or.id)

Authors: Anggi M. Lubis, Business + Economy Editor

Read more https://theconversation.com/cek-fakta-benarkah-75-lahan-di-indonesia-pernah-dikuasai-1-populasi-220144

Magazine

How Long Does Botox Really Last? A Realistic Timeline

Someone might notice a line between their eyebrows getting deeper after a stressful week, or catch their forehead creasing in a video call in a way it did not before. It is a small observation, easy...

Compressed Air Pipe and Fittings: What Every Australian Industrial Facility Needs to Know

Compressed air is the fourth utility of modern industry, right alongside electricity, gas, and water. Yet despite its critical role in powering everything from pneumatic tools to automated productio...

Common Risks Hidden in Commercial Lease Agreements

Commercial leases are often longer and more complex than tenants expect, and the fine print can carry significant financial and operational consequences over the years that follow. Many business own...

hacklink hack forum hacklink film izle hacklink z-libraryzlibrary bookscasino en ligneWPS下载IND RUMMYnon gamstop casinosnon gamstop casinos uknon gamstop casinoscasinos not on gamstopcasinos not on gamstopnon gamstop casinoonline gamblinguk casinosuk casinosStreamEastStreamEastcasibom girişmeritkingcashnow.imweb.mejojobetcasibomholiganbetmarsbahismarsbahis girişmarsbahis güncel girişnakitbahis girişnakitbahis girişmatbet girişjojobet