Serangan siber mengintai: peta ancaman yang harus diwaspadai Prabowo-Gibran
- Written by Arif Perdana, Associate Professor in Digital Strategy and Data Science, Monash University
Prabowo-Gibran yang pencalonannya sebagai Presiden dan Wakil Presiden memantik kontroversi akan bekerja mulai 20 Oktober 2024.
Untuk mengawal pemerintahan mereka, kami menerbitkan edisi khusus #PantauPrabowo[1] yang memuat isu-isu penting hasil pemetaan kami bersama TCID Author Network. Edisi ini turut mengevaluasi 10 tahun pemerintahan Joko Widodo, sekaligus menjadi bekal Prabowo-Gibran menjalankan tugasnya.
Indonesia adalah salah satu negara yang paling rentan terhadap serangan siber[2]. Selama masa pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo, serangkaian serangan siber[3] telah terjadi. Ancaman serupa diperkirakan akan terus berlanjut di masa pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Transformasi digital yang pesat telah menciptakan lanskap ancaman yang kompleks dan dinamis. Metode serangan terus berkembang, seperti balapan antara peretas dan sistem keamanan: setiap kali sebuah pagar dibangun, para peretas segera mencari celah baru untuk ditembus.
Ancaman ini berlaku secara global, termasuk di Indonesia, yang ekonomi digitalnya kini berkembang pesat[4]. Dengan jumlah pengguna internet yang besar[5] mencapai 221 juta orang, Indonesia menjadi target empuk bagi para pelaku kejahatan siber.
Untuk itu, rezim baru perlu memahami peta ancaman yang ada saat ini dan di masa depan sebelum merumuskan strategi antisipasi. Di era digital yang saling terkoneksi, keamanan siber bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mutlak untuk menjaga stabilitas dan keamanan nasional.
Peningkatan serangan siber global
Menurut laporan terbaru Global Threat Report[6], serangan siber secara global meningkat signifikan, terutama serangan ransomware dan serangan terhadap infrastruktur cloud.
Ransomware adalah jenis perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk mengunci akses ke sistem komputer. Pelaku serangan ini biasanya memeras korban agar membayar tebusan untuk memulihkan akses. Pada 2023, total jumlah korban ransomware yang dilaporkan pada situs kebocoran khusus Dedicated Leak Sites atau DLS[7] mencapai 4.615 kasus[8].
Peningkatan serangan pada infrastruktur cloud juga melonjak. Pada 2023, serangan yang menargetkan sistem cloud (layanan berbasis internet yang digunakan untuk penyimpanan data, komputasi, dan jaringan) naik 75% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.



