Akankah Prabowo membawa kebijakan luar negeri Indonesia jadi lebih asertif?
- Written by Aniello Iannone, Indonesianists | Researcher Kajian Kawasan dan Politik Internasional di Lingkar Kajian Kolaboratif (LKK) | Lecturer, Universitas Diponegoro
Prabowo-Gibran yang pencalonannya sebagai Presiden dan Wakil Presiden memantik kontroversi telah mulai bekerja sejak 20 Oktober 2024.
Untuk mengawal pemerintahan mereka, kami menerbitkan edisi khusus #PantauPrabowo[1] yang memuat isu-isu penting hasil pemetaan kami bersama TCID Author Network. Edisi ini turut mengevaluasi 10 tahun pemerintahan Joko Widodo, sekaligus menjadi bekal Prabowo-Gibran selama menjalankan tugasnya.
Dimulainya rezim Presiden Prabowo Subianto membuka peluang perubahan dalam arah kebijakan negara, khususnya kebijakan luar negeri. Di bawah pemerintahan Joko “Jokowi” Widodo, kebijakan luar negeri Indonesia cenderung lebih “pasif”[2], berfokus pada pembangunan ekonomi domestik dengan delegasi diplomasi internasional[3] yang sebagian besar diserahkan kepada mantan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Namun, di bawah kepemimpinan Prabowo, mungkin akan muncul pendekatan yang lebih aktif dan asertif dalam kebijakan luar negeri Indonesia.
Menjabat Menteri Pertahanan sejak 2019, Prabowo telah menunjukkan minat besar dalam urusan internasional. Ia aktif menghadiri forum-forum global seperti Shangri-La Dialogue[4] dan menjalin hubungan bilateral dengan para pemimpin dunia, termasuk dengan Presiden Cina Xi Jinping[5].
Alih-alih akan mengulang gaya Jokowi yang pragmatis, Prabowo kemungkinan besar akan membawa Indonesia memainkan peran yang lebih besar dalam urusan internasional, terutama dalam sejumlah area strategis, seperti sikap Indonesia terhadap sengketa Laut Cina Selatan (LCS), posisi di antara the great powers dan, yang kelihatannya akan diutamakan, peran Indonesia dalam ASEAN.
Pragmatisme ala Jokowi
Kebijakan luar negeri Jokowi mempertahankan sikap hati-hati, sesuai dengan haluan “bebas-aktif”[6], pendekatan yang diperkenalkan oleh Bung Hatta pada 1948[7] dan kemudian menjadi ciri khas Indonesia sejak era Suharto[8]. Strategi ini bertujuan menyeimbangkan hubungan diplomatik dengan Cina, sebagai ekonomi terbesar di Asia, dan negara-negara ASEAN tanpa mengorbankan perdamaian dan stabilitas kawasan. Prinsip “bebas-aktif”, yang didasarkan pada non-intervensi dan kemandirian politik, memungkinkan Indonesia untuk tetap netral–setidaknya untuk tak berpihak secara terbuka.



