Asian Spectator

Men's Weekly

.

‘Gene editing’ di Indonesia: Bisakah bioteknologi baru menjawab masalah klasik pertanian?

  • Written by Emily A. Buddle, Senior Research Fellow, Adelaide University

● Teknologi gene editing menawarkan peluang meningkatkan kualitas tanaman tanpa menambah gen asing.

● Namun, masalah pertanian sesungguhnya adalah ketimpangan akses lahan, modal, benih, dan pasar.

● Penerimaan publik menuntut keterlibatan bermakna dan dialog sejak awal, bukan hanya keunggulan teknis.

Indonesia menghadapi dilema yang sama[1] dengan banyak negara berkembang lainnya: bagaimana memberi makan populasi penduduk yang terus bertambah sambil tetap menjaga kekayaan biodiversitasnya.

Ketahanan pangan saat ini menjadi isu yang sangat mendesak[2] di tengah ancaman kekeringan, serangan hama, dan perubahan iklim. Para ilmuwan terus berupaya mencari jawaban melalui teknologi baru. Bioteknologi—khususnya teknologi penyuntingan gen (gene editing/GE)—muncul sebagai salah satu solusi potensial.

Namun, pandangan masyarakat Indonesia terhadap GE sangat beragam. Sebagian mendukung teknologi ini, sementara yang lain menolaknya[3].

Para ilmuwan adalah kelompok yang melihat teknologi ini sebagai peluang besar[4] untuk meningkatkan kualitas tanaman pangan pokok seperti padi dan memperkuat ketahanan gizi.

Akan tetapi, masih banyak pertanyaan yang mengganjal. Apakah GE benar-benar bisa mendukung petani kecil dan membantu Indonesia mencapai kedaulatan pangan? Ataukah teknologi ini justru akan memunculkan kembali kontroversi lama seputar tanaman hasil rekayasa genetika?

Studi kami pada 2024[5] yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di Indonesia menunjukkan bahwa solusi teknis tidak cukup untuk mengatasi masalah pangan. Agar diterima, teknologi GE harus mampu menjawab persoalan ketimpangan sosial—seperti akses lahan yang tidak merata—yang kerap dihadapi para petani.

Penyuntingan gen vs modifikasi genetik: apa bedanya?

Baik penyuntingan gen (GE) maupun modifikasi genetik (GMO) sama-sama merujuk pada organisme yang materi genetiknya diubah oleh manusia untuk menghadirkan sifat-sifat unggul yang diinginkan, seperti tahan penyakit atau saat kondisi kekeringan.

Perbedaannya, modifikasi genetik umumnya melibatkan penyisipan gen dari spesies lain ke dalam suatu organisme.

Sementara itu, gene editing hanya melakukan perubahan kecil pada DNA organisme yang ditarget[6]. Dengan kata lain, teknologi ini meningkatkan kualitas tanaman tanpa menambahkan gen asing.

Konsep gene editing
Konsep penyuntingan gen dalam pertanian — hasil panen pertanian dibentuk menyerupai untaian DNA. shutterstock[7]

Mereka yang setuju dengan teknologi ini berpendapat bahwa pendekatan ini membuat penyuntingan gen lebih aman dan lebih diterima publik [8] ketimbang GMO.

Namun, mereka yang mengkritik mengingatkan bahwa meskipun metodenya baru, pertanyaan lama tetap sama: siapa yang mengendalikan teknologi ini? Siapa yang diuntungkan? Dan siapa yang bakal tertinggal?

Ketergantungan Indonesia pada impor

Pertanian Indonesia didominasi oleh petani kecil, dengan padi sebagai tanaman pangan pokok utama[9].

Meskipun produksi padi dan sejumlah komoditas pertanian lain meningkat, Indonesia masih perlu mengimpor[10] komoditas penting seperti jagung dan kedelai dari Amerika Serikat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk produksi tempe dan tahu.

Hal serupa juga terjadi pada pakan ternak, yang masih sangat bergantung pada impor kedelai hasil rekayasa genetika dari Argentina and Brasil[11].

Kedelai
Tempe mentah — makanan tradisional Indonesia yang terbuat dari fermentasi kedelai. shutterstock[12]

Pelajaran dari masa lalu: kegagalan lama dalam menghadapi teknologi baru

Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah Indonesia merevisi regulasi terkait tanaman hasil rekayasa genetika[13] untuk memungkinkan produksi dalam negeri.

Penanaman komersial pertama tanaman hasil modifikasi genetik, yaitu kapas Bt[14] pada 2001–2002. Namun, proyek ini akhirnya gagal setelah perusahaan penyedia benih, Monsanto, menarik diri pada 2003 dengan alasan kendala regulasi dan keterbatasan lahan.

Antara 2003 hingga 2021, tidak ada tanaman hasil rekayasa genetika yang dibudidayakan secara komersial, kecuali tebu di area terbatas milik pemerintah[15].

Setelah pengalaman tersebut, pemerintah mulai melirik teknologi penyuntingan gen. Sejak 2021, varietas jagung, kentang, dan tebu telah disetujui untuk dibudidayakan secara komersial[16].

Meski produksi dalam negeri masih terbatas, Indonesia menjadi salah satu pengimpor utama komoditas hasil GE[17]—terutama kedelai dan jagung—baik untuk konsumsi manusia maupun pakan ternak.

Saat ini, para peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)[18] tengah mengembangkan varietas hasil penyuntingan gen, termasuk padi, singkong, dan sorgum.

Pemerintah pun optimistis memandang teknologi ini sebagai cara untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi ketergantungan pada impor pangan[19]. Namun, pertanyaan besar masih tersisa: bagaimana agar teknologi ini akan sampai ke tangan petani—dan dengan aturan main siapa?

Read more: Teknik rekayasa DNA CRISPR/Cas9 jadi inovasi mutakhir bioteknologi, apa saja manfaatnya?[20]

Keadilan yang melampaui solusi teknis

Penyuntingan gen sering dipromosikan sebagai solusi teknis cepat untuk persoalan pertanian yang kompleks. Padahal, keberhasilan dan penerimaan publik terhadap teknologi ini sangat bergantung pada faktor di luar sains[21].

Ia bertumpu pada sistem sosial dan ekonomi yang lebih luas[22]: siapa yang memiliki akses terhadap benih, siapa yang menguasai pengetahuan, dan siapa yang menentukan perubahan genetik macam apa yang dibutuhkan.

Studi[23] kami menunjukkan bahwa banyak pihak masih belum sepenuhnya memahami teknologi ini. Antara April hingga Agustus 2024, kami mewawancarai 11 pemangku kepentingan di Indonesia, termasuk kelompok petani, pejabat pemerintah, peneliti, LSM, dan asosiasi konsumen.

Ringkasan  wawancara partisipan.
Banyak peserta dari masyarakat sipil dan serikat petani menyoroti persoalan “diseminasi"—yakni kurangnya pemahaman bersama tentang peran teknologi gen dalam masa depan pertanian Indonesia. Mereka juga menekankan pentingnya memprioritaskan petani kecil, yang hingga kini masih mendominasi sektor pertanian. Penyuntingan gen memang bisa menghasilkan tanaman yang lebih unggul seperti tahan kekeringan. Namun, teknologi ini tidak mampu menyelesaikan masalah utama petani kecil, yakni ketimpangan akses terhadap lahan, modal, dan pasar[24]. Seorang perwakilan asosiasi konsumen yang kami wawancarai menyoroti risiko "bias modal”. Ia mengingatkan bahwa petani bisa berujung menjadi “karyawan” perusahaan alih-alih produsen mandiri jika mereka didorong mengadopsi teknologi baru tanpa informasi yang transparan. Perwakilan Serikat Petani Indonesia juga menyuarakan kekhawatiran tentang paten benih. Mereka memperingatkan bahwa benih lokal bisa direproduksi di laboratorium, diklasifikasikan ulang, lalu dipatenkan demi keuntungan. Inovasi sering diperlakukan sebagai ranah para ilmuwan, sementara implikasi sosial dan etisnya diserahkan kepada pihak lain untuk dipikirkan belakangan. Semua kelompok kepentingan sepakat bahwa keterlibatan publik sangat penting dalam pengembangan teknologi ini, tetapi sayangnya belum ada yang siap memimpin upaya tersebut. Read more: Mengenal biologi struktur dan mengapa ini penting untuk kemandirian ilmiah di Indonesia[25] Membentuk masa depan bersama Penyuntingan gen berpotensi berperan penting dalam masa depan pangan Indonesia, tetapi itu tidak bisa terjadi jika pendekatannya “teknologi dulu, konsultasi belakangan”. Komunikasi yang baik menuntut pembahasan inovasi di luar lingkaran ilmuwan dan keterlibatan bermakna dari mereka yang turut membentuk sistem pertanian dan pangan, khususnya kaum perempuan. Sebagai penyedia pangan, juru masak, dan pengambil keputusan di tingkat rumah tangga, perempuan petani memiliki posisi strategis untuk berperan dalam menggerakkan dan melibatkan komunitas mereka. Ketangguhan mereka merupakan sumber daya penting bagi kemajuan daerah. Para pembuat kebijakan dan peneliti perlu berinvestasi bukan hanya pada laboratorium, tetapi juga pada pembangunan kepercayaan, dialog, dan kolaborasi yang nyata dengan petani serta masyarakat lokal. Bioteknologi mungkin menawarkan seperangkat alat yang kuat, tetapi bukan solusi ajaib. Kita perlu memahami konteks sosial dan budaya yang spesifik di setiap wilayah untuk menentukan apakah—dan di mana—teknologi ini benar-benar bermanfaat. Langkah Indonesia ke depan akan sangat bergantung pada pengakuan bahwa inovasi ilmiah dan inklusi sosial harus tumbuh seiring. Hanya dengan menyelaraskan keduanya, penyuntingan gen dapat benar-benar berkontribusi pada sistem pangan yang adil, berkelanjutan, dan berakar pada budaya lokal.

References

  1. ^ dilema yang sama (doi.org)
  2. ^ Ketahanan pangan saat ini menjadi isu yang sangat mendesak (doi.org)
  3. ^ Sebagian mendukung teknologi ini, sementara yang lain menolaknya (doi.org)
  4. ^ sebagai peluang besar (doi.org)
  5. ^ pada 2024 (link.springer.com)
  6. ^ perubahan kecil pada DNA organisme yang ditarget (doi.org)
  7. ^ shutterstock (www.shutterstock.com)
  8. ^ lebih diterima publik (doi.org)
  9. ^ tanaman pangan pokok utama (openknowledge.fao.org)
  10. ^ mengimpor (www.grainbrokers.com.au)
  11. ^ Argentina and Brasil (apps.fas.usda.gov)
  12. ^ shutterstock (www.shutterstock.com)
  13. ^ hasil rekayasa genetika (apps.fas.usda.gov)
  14. ^ kapas Bt (www.isaaa.org)
  15. ^ area terbatas milik pemerintah (doi.org)
  16. ^ dibudidayakan secara komersial (www.trade.gov)
  17. ^ pengimpor utama komoditas hasil GE (apps.fas.usda.gov)
  18. ^ (BRIN) (www.brin.go.id)
  19. ^ mengurangi ketergantungan pada impor pangan (apps.fas.usda.gov)
  20. ^ Teknik rekayasa DNA CRISPR/Cas9 jadi inovasi mutakhir bioteknologi, apa saja manfaatnya? (theconversation.com)
  21. ^ faktor di luar sains (doi.org)
  22. ^ sistem sosial dan ekonomi yang lebih luas (doi.org)
  23. ^ Studi (link.springer.com)
  24. ^ ketimpangan akses terhadap lahan, modal, dan pasar (doi.org)
  25. ^ Mengenal biologi struktur dan mengapa ini penting untuk kemandirian ilmiah di Indonesia (theconversation.com)

Authors: Emily A. Buddle, Senior Research Fellow, Adelaide University

Read more https://theconversation.com/gene-editing-di-indonesia-bisakah-bioteknologi-baru-menjawab-masalah-klasik-pertanian-272339

Magazine

Memahami tren populisme dan otoritarianisme melalui pemikiran Hannah Arendt

● Menurut Hannah Arendt, populisme dan otoritarianisme berakar pada ‘worldlessness’: runtuhnya ruang publik dan ikatan kolektif. ● Arendt menekankan bahwa hakikat politik adala...

Paradoks geotermal: Antara ditolak dan dibutuhkan

● Energi geotermal yang stabil menjanjikan sebagai pembangkit baseload pengganti batu bara.● Di lapangan, banyak proyek geotermal mendapat penolakan warga karena memicu konflik lahan hingg...

Negara minta guru jadi konselor: Tak adil bagi guru, tak aman buat siswa

● Menjadikan guru sebagai konselor berisiko membebani guru, mengaburkan peran profesional, dan mengancam keselamatan siswa.● Peran konseling memerlukan keahlian khusus.● Deteksi dini...