Paradoks pendidikan guru: Cemas soal kesejahteraan, mahasiswa enggan mengajar setelah lulus
- Written by A. MUH. ALI, Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Makassar
● Banyak mahasiswa PGSD enggan menjadi guru karena gaji rendah, prospek karier, dan status sosial profesi.
● Motivasi mengajar melemah akibat kesejahteraan yang buruk, beban administratif tinggi, dan kondisi kerja yang kompleks.
● Diperlukan seleksi ketat, peningkatan kesejahteraan, dan jalur karier yang jelas agar profesi guru kembali diminati.
Sebagai dosen sekaligus alumni Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Negeri Makassar, saya meyakini bahwa menjadi guru adalah jalan pengabdian. Namun hari ini, di ruang-ruang kuliah, saya sering mendengar dari mahasiswa: “Pak, kalau ada pilihan lain, saya tidak ingin jadi guru.”
Ini bukan sekadar ekspresi personal, tapi cermin kecemasan rasional terhadap masa depan profesi guru—khususnya guru sekolah dasar—yang dipengaruhi oleh status sosial di masyarakat.
Gaji relatif rendah dan proyeksi karier yang kurang pasti membuat banyak lulusan fakultas pendidikan beralih ke pekerjaan lain setelah lulus. Selain itu, hanya sebagian kecil tenaga pengajar yang masih muda (berusia <30 tahun), sehingga regenerasi guru menghadapi tantangan besar.[2][3]
Di Indonesia, studi[4] menemukan bahwa kurikulum pendidikan tinggi perlu disesuaikan dengan tuntutan kompetensi di dunia industri guna meningkatkan keterserapan tenaga kerja lulusan.
Studi tahun 2024 ini[5] mengungkap bahwa banyak lulusan pendidikan beralih menjadi pegawai swasta, tutor, bahkan profesi lain yang bukan sebagai guru misalnya pegawai bank. Sebab, mereka mempertimbangkan kebutuhan ekonomi dan peluang kerja yang lebih menjanjikan.
Jika persoalan ini terus dibiarkan, sekolah khususnya di tingkat SD di Indonesia akan kekurangan guru yang benar-benar fokus dan gembira mengajar di depan kelas.
Hilangnya motivasi
Persoalan terkait guru ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Menurut laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) terbaru[6], kesejahteraan kerja dan niat guru untuk bertahan menjadi isu utama dalam kebijakan pendidikan global.
Motivasi memilih profesi mengajar dipengaruhi oleh kombinasi faktor intrinsik dan ekstrinsik.[7] Secara intrinsik, motivasi menjadi guru bersumber dari dorongan internal yang tidak bergantung pada imbalan materi.
Banyak calon guru merasakan kepuasan batin ketika melihat siswa mengalami perkembangan akademis maupun karakter, sehingga aktivitas mengajar dianggap sebagai pekerjaan yang bermakna.
Namun, apabila dorongan intrinsik tersebut tidak diimbangi dengan sistem kesejahteraan dan kondisi kerja yang memadai, motivasi perlahan melemah. Inilah mengapa sebagian mahasiswa pendidikan mulai kehilangan minat untuk benar-benar berkarier sebagai guru.
Sementara secara eksternal, turunnya motivasi menjadi guru diperburuk oleh dinamika sistem rekrutmen dan kesejahteraan profesi guru.
Data OECD Education at a Glance 2019[8] menunjukkan bahwa gaji guru, khususnya di jenjang sekolah dasar, cenderung berada di bawah rata-rata pendapatan lulusan perguruan tinggi lain.
Realitas di lapangan juga menunjukkan bahwa kondisi kerja guru semakin kompleks. Banyak guru mengalami tekanan tugas administratif yang tinggi[9] karena tuntutan digitalisasi dan kurikulum yang hampir setiap tahun berubah, jam kerja yang panjang, serta tantangan dalam mengelola kelas yang beragam .
Tak heran, banyak calon guru yang mengalami penurunan motivasi setelah beberapa semester/periode melakukan praktikum di lapangan.
Apa yang harus dilakukan
Ini adalah paradoks besar bagi dunia pendidikan guru: kami mencetak lulusan PGSD, tetapi semakin sedikit yang benar-benar ingin mengajar.
Untuk mengatasinya, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu mempertimbangkan beberapa kebijakan:
1. Perketat seleksi masuk pendidikan guru
Menjadikan proses masuk program studi PGSD dan program profesi guru lebih kompetitif bisa meningkatkan kualitas awal calon guru. Pendekatan berbasis kompetensi dan motivasi karier yang jelas harus diprioritaskan agar profesi guru menjadi pilihan yang terhormat dan diinginkan, bukan sekadar jalur pilihan pragmatis semata.
2. Reformasi kesejahteraan guru
Kesejahteraan guru, terutama pada tahap awal karier, perlu ditingkatkan untuk mengurangi anggapan bahwa profesi ini kurang menjanjikan dibandingkan profesi lain. Ini akan membantu meningkatkan retensi dan motivasi bertahan dalam profesi.
Read more: Upaya hukum yang bisa dilakukan untuk memperjuangkan hak guru dan dosen[10]
3. Kembangkan jalur karier guru yang jelas
Menyediakan jalur karier yang transparan, termasuk promosi, pengembangan profesional, dan pengakuan sosial yang lebih kuat, dapat meningkatkan daya tarik profesi guru dan mendorong lulusan untuk tetap berada di sektor pendidikan.
Meskipun ini sudah diterapkan melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG), tapi output-nya masih belum sesuai harapan. Evaluasi pelaksanaan PPG[11] menunjukkan adanya kesenjangan antara penguasaan teori dan keterampilan praktis lulusan.
Banyak peserta masih merasa kurang siap dalam manajemen kelas dan pemanfaatan teknologi pembelajaran karena pengalaman praktik lapangan yang terbatas. Alhasil, PPG belum sepenuhnya efektif mempersiapkan guru menghadapi realitas kelas.
Kampus PGSD bukan pabrik ijazah. Negara harus melakukan tindakan nyata agar generasi muda kembali mau dan serius berkomitmen menjadi guru.
Read more: Kualitas guru di Indonesia berisiko tertinggal tanpa perbaikan Pendidikan Guru Awal[13]
References
- ^ Data 'OECD Education at a Glance' (2019). Author provided. (www.oecd.org)
- ^ beralih ke pekerjaan lain setelah lulus (doaj.org)
- ^ sehingga regenerasi guru menghadapi tantangan besar. (databoks.katadata.co.id)
- ^ studi (journal.umg.ac.id)
- ^ Studi tahun 2024 ini (journal.umg.ac.id)
- ^ laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) terbaru (www.oecd.org)
- ^ kombinasi faktor intrinsik dan ekstrinsik. (www.researchgate.net)
- ^ Data OECD Education at a Glance 2019 (www.oecd.org)
- ^ tekanan tugas administratif yang tinggi (ejurnal.man4kotapekanbaru.sch.id)
- ^ Upaya hukum yang bisa dilakukan untuk memperjuangkan hak guru dan dosen (theconversation.com)
- ^ Evaluasi pelaksanaan PPG (www.jer.or.id)
- ^ masrob/shutterstock (www.shutterstock.com)
- ^ Kualitas guru di Indonesia berisiko tertinggal tanpa perbaikan Pendidikan Guru Awal (theconversation.com)
Authors: A. MUH. ALI, Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Makassar




