Serangan ke Iran semakin menegaskan betapa mendesak kita beralih dari bahan bakar minyak bumi
- Written by Hussein Dia, Professor of Transport Technology and Sustainability, Swinburne University of Technology
Ketika Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran[1], pasar minyak[2] global terancam.
Harga minyak bumi bergejolak[3] bahkan sebelum terjadi gangguan pasokan. Pasar sudah memperhitungkan kemungkinan Selat Hormuz[4] bakal ditutup[5] imbas serangan tersebut.
Sekitar 20%[6] perdagangan minyak dunia melewati jalur perairan sempit yang diapit Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di selatan.
Sebuah kapal tanker sudah dibom[7] dan lalu lintas hampir terhenti[8].
Dalam pasar energi global, sebuah ancaman gangguan saja[9] sudah cukup untuk mendorong kenaikan harga.
Minyak bukanlah komoditas biasa. Penguasaan atas bahan bakar berenergi tinggi ini turut membentuk tatanan geopolitik dunia[10]. Negara tempat tinggal tiga perempat populasi dunia bergantung pada impor minyak[11] untuk mobil, truk, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Kendali atas arus minyak—dan kini juga gas—sudah lama menjadi alat tekanan politik, mulai dari krisis minyak 1970-an hingga penghentian pasokan gas Rusia ke Eropa pada 2022.
Gangguan serius terhadap lalu lintas tanker di kawasan teluk[12] akan mengguncang[13] pasar minyak dan stabilitas ekonomi global[14].
Antrean panjang[15] pengisian bahan bakar para pengendara sudah terjadi[16] di Australia sebelum harga melonjak.
Seiring meningkatnya tensi global, negara-negara seperti Kuba[17], Ukraina[18], dan Ethiopia[19] mempercepat rencana untuk mengurangi ketergantungan pada minyak bumi dan memperkuat ketahanan energi mereka.
Minyak sebagai alat menekan lawan
Kekuatan minyak terlihat jelas saat embargo minyak 1973, ketika negara produsen minyak[20] di Timur Tengah memangkas pasokan untuk memengaruhi kebijakan luar negeri AS.
Harga melonjak empat kali lipat, ekonomi melambat[21], dan isu keamanan energi mendadak menjadi pusat perhatian politik.
Sejak itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengoordinasi pasokan[22] untuk mengerek harga.
Kini, mekanisme kontrol itu mungkin tampak berbeda[23], tetapi kekuatan yang lahir dari ketergantungan pada minyak tetap ada.
Bahkan sebelum aksi militer AS, sanksi ekonomi bagi negara produsen besar[24] seperti Iran dan Venezuela sudah memangkas suplai minyak dan mengubah arus perdagangan global.
Ketegangan di sekitar titik-titik sempit strategis seperti Selat Hormuz menambah premi risiko dalam harga minyak.
Pasar minyak bersifat forward-looking[25] atau proyeksi ke depan yang artinya harga tidak hanya mencerminkan pasokan dan permintaan saat ini, tetapi juga ekspektasi tentang apa yang mungkin terjadi ke depan.
Setelah serangan ke Iran, harga minyak mentah Brent[26]–patokan global–diperdagangkan di kisaran US$76[27] (sekitar Rp1,28 juta) per barel, naik dari sekitar US$68[28] (Rp1,14 juta) pada beberapa pekan sebelumnya. Harga bersifat global, ketidakstabilan politik di satu tempat bisa berdampak pada ekonomi di seluruh dunia.
Siapa yang mulai mengurangi ketergantungan pada minyak?
Pada 2015, India memblokir impor minyak Nepal, memicu kekacauan. Sebagai respons, otoritas Nepal mendorong pertumbuhan kendaraan listrik[29] dengan sangat cepat. Impor minyak pun turun[30].
Belakangan, perang Rusia–Ukraina serta serangan AS terhadap Venezuela dan Iran kembali menegaskan pentingnya mengurangi impor minyak dan memperkuat keamanan energi domestik.
Di Kuba yang bergantung pada minyak, AS telah memangkas[31] pasokan minyak secara drastis. Pemadaman listrik sering terjadi dan mobil jarang digunakan.
Sebagai respons, pemerintah dan pelaku usaha mengimpor panel surya dari Cina secara signifikan[32] dibanding tahun sebelumnya.
Perubahan ini bukan didorong oleh ideologi, melainkan oleh kebutuhan. Impor kendaraan listrik juga melonjak. “Kuba mungkin mengalami transisi energi tercepat di dunia,” kata seorang ekonom Cuba kepada The Economist[33].
Mengapa energi terbarukan mengubah permainan
Tidak seperti minyak bumi, panel surya dan turbin angin tidak perlu dikirim melalui perairan sempit[34] seperti Selat Hormuz.
Energi terbarukan juga tidak diperdagangkan secara terpusat[35] dalam skala global seperti minyak.
Listrik bisa dihasilkan secara lokal[36] dan semakin tersebar di banyak daerah.
Rusia kerap menargetkan[37] infrastruktur energi dan pembangkit listrik Ukraina selama perang.
Ukraina merespons dengan mempercepat pengembangan energi terbarukan[38] sebisa mungkin, dengan pertimbangan pembangkit listrik yang terdesentralisasi[39] jauh lebih sulit dihancurkan.
Seorang pakar energi Ukraina mengatakan[40], satu rudal bisa melumpuhkan pembangkit listrik batu bara, tetapi untuk menghancurkan satu ladang turbin angin dibutuhkan sekitar 40 rudal.
Pembangkit bersistem desentralisasi lebih tangguh[41], karena kerusakan di satu lokasi tidak bisa serta-merta meruntuhkan seluruh jaringan.
Ketahanan melalui transportasi listrik
Elektrifikasi transportasi[42] menjadi pilar utama dalam pendekatan baru keamanan energi.
Kendaraan listrik yang ditenagai listrik produksi lokal[43] mengurangi paparan terhadap pasar minyak global.
Pemikiran ini terlihat dalam keputusan[44] Ethiopia melarang mobil baru berbahan bakar bensin dan diesel.
Cina juga mengimpor sebagian besar minyak untuk kebutuhan negaranya–sebagian besar dari Iran[45].
Tapi Beijing kemudian mempercepat peralihan besar-besara[46] ke kendaraan listrik (EV).
Tahun lalu, kendaraan listrik sudah mencakup 50% dari penjualan mobil baru[47] di Cina dan 12% dari total armada kendaraan di sana.
Minyak di Cina kini semakin banyak digunakan untuk produksi plastik[48], bukan untuk transportasi.
Kenaikan impor tahun lalu lebih disebabkan oleh penimbunan dalam jumlah besar[49] untuk mengantisipasi ketidakpastian global.
Kebijakan energi adalah kebijakan keamanan
Energi terbarukan tentu tidak sepenuhnya menghapus risiko geopolitik. Jaringan listrik pun bisa menghadapi ancaman siber rantai pasok mineral kritis[50] menciptakan ketergantungan baru—dan sebagian besar produksi panel surya, baterai, serta kendaraan listrik saat ini terkonsentrasi di Cina[51].
Namun, ada perbedaan struktural yang jelas. Sistem terdesentralisasi lebih sulit dimanipulasi[52] melalui penyumbatan pasokan.
Panel surya, setelah terpasang, bisa menghasilkan energi secara lokal. Kerentanan bergeser dari ketergantungan impor bahan bakar berkelanjutan menjadi ketergantungan awal pada manufaktur.
Selama puluhan tahun, minyak membentuk politik dunia karena mudah diangkut, diperdagangkan secara global[53] dan hanya sedikit negara yang memiliki cadangan besar.
Mengurangi ketergantungan pada minyak sering dipandang sebagai kebijakan iklim. Namun, ini juga krusial bagi keamanan energi dan keamanan nasional[54].
Mengurangi penggunaan minyak berarti meningkatkan ketahanan[55] terhadap guncangan dan tekanan[56] dari negara lain.
Krisis Iran mungkin tidak berujung pada lonjakan harga berkepanjangan. Pasokan bisa menyesuaikan. Pasar bisa stabil kembali. Namun, para pemimpin dunia kemungkinan akan kembali menimbang risiko bergantung pada minyak yang diperdagangkan secara global di dunia yang semakin bergejolak[57].
References
- ^ menyerang Iran (theconversation.com)
- ^ pasar minyak (www.reuters.com)
- ^ bergejolak (www.youtube.com)
- ^ Selat Hormuz (www.bloomberg.com)
- ^ ditutup (www.globalbankingandfinance.com)
- ^ Sekitar 20% (www.eia.gov)
- ^ sudah dibom (www.reuters.com)
- ^ hampir terhenti (www.lloydslist.com)
- ^ ancaman gangguan saja (theconversation.com)
- ^ geopolitik dunia (theconversation.com)
- ^ bergantung pada impor minyak (ember-energy.org)
- ^ teluk (www.theguardian.com)
- ^ mengguncang (www.csis.org)
- ^ ekonomi global (www.ft.com)
- ^ Antrean panjang (au.news.yahoo.com)
- ^ terjadi (www.abc.net.au)
- ^ Kuba (www.economist.com)
- ^ Ukraina (visitukraine.today)
- ^ Ethiopia (www.theguardian.com)
- ^ negara produsen minyak (www.bakerinstitute.org)
- ^ ekonomi melambat (history.state.gov)
- ^ mengoordinasi pasokan (blogs.worldbank.org)
- ^ tampak berbeda (www.csis.org)
- ^ produsen besar (www.spglobal.com)
- ^ forward-looking (tradingeconomics.com)
- ^ minyak mentah Brent (tradingeconomics.com)
- ^ US$76 (oilprice.com)
- ^ US$68 (www.livecharts.co.uk)
- ^ kendaraan listrik (theconversation.com)
- ^ turun (nepsetrading.com)
- ^ telah memangkas (www.wired.com)
- ^ secara signifikan (www.economist.com)
- ^ The Economist (www.economist.com)
- ^ perairan sempit (maritime-executive.com)
- ^ secara terpusat (www.weforum.org)
- ^ secara lokal (www.iea.org)
- ^ kerap menargetkan (www.bbc.com)
- ^ mempercepat pengembangan energi terbarukan (www.iea.org)
- ^ pembangkit listrik yang terdesentralisasi (www.weforum.org)
- ^ mengatakan (e360.yale.edu)
- ^ lebih tangguh (www.weforum.org)
- ^ Elektrifikasi transportasi (www.iea.org)
- ^ listrik produksi lokal (ember-energy.org)
- ^ keputusan (www.bloomberg.com)
- ^ dari Iran (www.fdd.org)
- ^ peralihan besar-besara (www.theguardian.com)
- ^ 50% dari penjualan mobil baru (www.eiu.com)
- ^ plastik (www.iea.org)
- ^ dalam jumlah besar (oilprice.com)
- ^ mineral kritis (www.iea.org)
- ^ terkonsentrasi di Cina (www.theguardian.com)
- ^ sulit dimanipulasi (www.weforum.org)
- ^ diperdagangkan secara global (doi.org)
- ^ keamanan nasional (www.iea.org)
- ^ ketahanan (www.iea.org)
- ^ tekanan (www.americanprogress.org)
- ^ bergejolak (www.iea.org)
Authors: Hussein Dia, Professor of Transport Technology and Sustainability, Swinburne University of Technology




