‘Mein Kampf’ Hitler dan teknik kambing hitam dalam narasi antek asing
- Written by Martinus Ariya Seta, Dosen, Universitas Sanata Dharma
● Label “antek asing” yang digunakan Presiden Prabowo adalah bentuk teknik ‘othering’ atau mengambinghitamkan kelompok tertentu.
● Pola ini serupa dengan teknik propaganda Adolf Hitler dalam ‘Mein Kampf’ yang mengandalkan sentimen nasionalisme, dan narasi “musuh bersama”.
● Penggunaan label seperti “antek asing” menutup ruang dialog dan kritik dan berisiko meruntuhkan demokrasi.
Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa kali pidatonya menyinggung ungkapan antek asing[1]. Label antek asing ini menyasar suara-suara kritis masyarakat[2] yang diwakili oleh media[3] atau pendemo[4].
Pelabelan ini memang tidak bernuansa rasis, tapi dalam konteks demokrasi, label semacam ini dapat digunakan untuk melemahkan kelompok oposisi.
Read more: Negara tuduh pendemo “antek asing”: Retorika politik Prabowo untuk bungkam suara rakyat[5]
Narasi antek asing dapat kita pahami lebih jauh menggunakan pola propaganda teknik othering[6] (mengkambinghitamkan dan menyingkirkan kelompok tertentu dengan prasangka dan steriotip negatif untuk mempertahankan kekuasaan). Teknik ini salah satunya termuat dalam Mein Kampf[7], manifesto politik dan otobiografi tahun 1925 karya Adolf Hitler, pemimpin Partai Nazi di Jerman.
Tahun 2026 merupakan peringatan 100 tahun penerbitan Mein Kampf[8] edisi kedua. Edisi pertama[9] terbit pada 1925 dan berisi biografi Adolf Hitler. Sementara edisi kedua[10] berisi pemikiran politik Hitler.
Teknik kambing hitam di dalam Mein Kampf merupakan rujukan penting dalam propaganda. Daya pikat dari teknik kambing hitam di dalam Mein Kampf maupun propaganda masa kini adalah [oversimplifikasi] dan [overgeneralisasi][11]. Ia tidak menyajikan fakta obyektif, tetapi memprovokasi dan mensugesti massa lewat sentimen nasionalisme menggunakan narasi keterancaman dan musuh bersama[12].
Inilah mengapa propaganda semacam itu mengancam iklim demokrasi dan membuka jalan bagi otoritarianisme.
Propaganda dalam Mein Kampf
Mein Kampf diterbitkan ketika Hitler menjadi pemimpin partai NAZI dengan jumlah pengikut yang masih sangat sedikit.
Saat itu, Hitler memperjuangkan konsep etnonasionalisme[14], yaitu nasionalisme yang dibangun di atas kesamaan ikatan kategori sosial seperti ras, suku dan agama.
Sifat dari etnonasionalisme adalah mempertentangkan antara ingroup (kelompok kita) melawan outgroup (kelompok mereka). Superioritas dan kemurnian ingroup ditekankan untuk melecut ikatan solidaritas, dan ikatan ini diperkuat dengan menekankan outgroup sebagai musuh bersama.
Ini tampak pada gagasan perluasan ruang hidup[15] (lebensraum) bangsa Jerman yang direalisasikan dengan menginvasi Uni Soviet dalam operasi Barbarosa[16] pada 1941.
Hitler juga menolak gagasan universalisme hak asasi manusia demi mempertahankan kemurnian ras[17]. Tujuan Hitler memperluas kekuasaannya bukan berlandaskan pertimbangan ekonomi, melainkan kepentingan dan kemurnian ras[18].
Holokaus, genosida terhadap kaum Yahudi oleh Nazi Jerman selama Perang Dunia II,[19] merupakan radikalisasi ideologi antisemitisme yang menjadi penciri[20]] dalam gerakan populisme Eropa sampai paruh awal abad 20.
Yahudi di dalam propaganda antisemitisme tidak hanya semata-mata identitas faktual ras, tetapi juga proyeksi musuh bersama[21] yang acap kali dijadikan kambing hitam dari segala persoalan politik, sosial, dan ekonomi di Eropa.
Teknik kambing hitam ala Mein Kampf terlihat dalam jargon-jargon yang disematkan kepada Yahudi, seperti komplotan jahat[22], haus darah, haus uang[23], penyakit pes[24], parasit[25] dan racun.
Mein Kampf adalah buku propaganda dan bukan buku sejarah. Karena itu, informasi yang disampaikan harus disikapi dengan kritis. Isi dari Mein Kampf banyak mengambil dari sumber-sumber referensi yang tidak sahih secara ilmiah seperti Protokol Para Tetua Zion[26] (sebuah buku anonim yang terbit di Uni Soviet pada awal abad 20) dan Fondasi abad 19[27] karya Huston Stuart Chamberlain, dan Bolshevisme: Dari Musa sampai Lenin[28] karya Dietrich Eckart.
Read more: Proyek penulisan sejarah nasional Indonesia: Kembalinya narasi yang tak lengkap[29]
Propaganda masa kini
Hingga saat ini, teknik propaganda kambing hitam terbukti berhasil mengantarkan politikus meraih jabatan presiden atau perdana penteri.
Donald Trump, misalnya, secara terang-terangan mengambinghitamkan etnis Amerika Latin[30], imigran[31] dan Islam[32] untuk memantik sentimen dan dukungan kelompok nasionalis kulit putih.
Hal yang sama juga digunakan [Boris Johnson], Perdana Menteri Inggris (2016-2021), yang mengambinghitamkan imigran dan Uni Eropa[33].
Bagaimana dengan Indonesia? Berkaca dari pemerintahan Jokowi dan Prabowo, ada dua model kambing hitam yang digunakan.
Pada era Jokowi, teknik othering tampak dalam pelabelan kadrun (kadal gurun)[34], Islam fundamentalis dan taliban[35] untuk menyingkirkan dan membungkam suara-suara kritis.
Kadrun adalah stereotipe yang berkonotasi rasis[36] dan menyiratkan makna antek dari Timur Tengah. Konotasi yang sama juga terdapat dalam pelabelan Islam fundamentalis.
Pelabelan kadrun muncul dalam polemik KPK dengan tujuan untuk melemahkan upaya pemberantasan korupsi[37]. Pelabelan-pelabelan tersebut bernuansa rasis dan dapat disalahgunakan sebagai instrumen untuk melemahkan kelompok oposisi.
Read more: “Cebong” versus “Kampret”: Polarisasi politik pascapilpres 2019 semakin tajam[38]
Sementara Prabowo[39], beberapa kali mengambinghitamkan pihak oposisi dengan label antek asing.
Misalnya, Prabowo menuding para aktivis yang memprotes RUU TNI sebagai antek asing. Pada peringatan Hari Ulang Tahun Gerindra, 15 Februari 2025, Prabowo menuding kekuatan asing berada di balik LSM-LSM yang kritis terhadap pemerintah.
Tudingan yang sama juga dilontarkan kepada sebuah media masa kritis[40]. Prabowo juga mengklaim memiliki bukti[41] keterlibatan asing di dalam demonstrasi-demonstrasi di Indonesia.
Terlepas dari siapa yang dikambinghitamkan, teknik othering akan menutup ruang kritik terhadap kebijakan pemerintah dan ruang dialog. Terlebih jika teknik kambing hitam ini dibalut narasi cinta tanah air.
Padahal, rasa cinta terhadap tanah air[42] tidak menafikan sikap kritis. Cinta tanah air dengan ketaatan buta hanya akan menciptakan rezim otoritarian.
Watak otoritarian adalah antikritik. Ini terlihat jelas dalam propaganda kambing hitam, baik dalam Mein Kampf maupun di masa sekarang.
References
- ^ antek asing (www.tempo.co)
- ^ suara-suara kritis masyarakat (theconversation.com)
- ^ media (www.tempo.co)
- ^ pendemo (www.kompas.id)
- ^ Negara tuduh pendemo “antek asing”: Retorika politik Prabowo untuk bungkam suara rakyat (theconversation.com)
- ^ othering (rpb-journal.de)
- ^ Mein Kampf (www.bbc.com)
- ^ 100 tahun penerbitan Mein Kampf (www.dw.com)
- ^ Edisi pertama (archive.org)
- ^ edisi kedua (germanhistorydocs.org)
- ^ [oversimplifikasi] dan [overgeneralisasi] (doi.org)
- ^ narasi keterancaman dan musuh bersama (www.amazon.de)
- ^ Ajdin Kamber/shutterstock (www.shutterstock.com)
- ^ etnonasionalisme (onlinelibrary.wiley.com)
- ^ ruang hidup (www.ifz-muenchen.de)
- ^ operasi Barbarosa (www.worldhistory.org)
- ^ mempertahankan kemurnian ras (www.mein-kampf-edition.de)
- ^ bukan berlandaskan pertimbangan ekonomi, melainkan kepentingan dan kemurnian ras (www.bpb.de)
- ^ Holokaus, genosida terhadap kaum Yahudi oleh Nazi Jerman selama Perang Dunia II, (www.dw.com)
- ^ penciri (doi.org)
- ^ proyeksi musuh bersama (www.ifz-muenchen.de)
- ^ komplotan jahat (www.mein-kampf-edition.de)
- ^ haus darah, haus uang (www.mein-kampf-edition.de)
- ^ penyakit pes (www.mein-kampf-edition.de)
- ^ parasit (www.mein-kampf-edition.de)
- ^ Protokol Para Tetua Zion (www.wallstein-verlag.de)
- ^ Fondasi abad 19 (archive.org)
- ^ Bolshevisme: Dari Musa sampai Lenin (www.booklooker.de)
- ^ Proyek penulisan sejarah nasional Indonesia: Kembalinya narasi yang tak lengkap (theconversation.com)
- ^ etnis Amerika Latin (lulac.org)
- ^ imigran (fordhampoliticalreview.org)
- ^ Islam (journals.sagepub.com)
- ^ imigran dan Uni Eropa (theconversation.com)
- ^ kadrun (kadal gurun) (tirto.id)
- ^ taliban (www.tempo.co)
- ^ berkonotasi rasis (www.thejakartapost.com)
- ^ melemahkan upaya pemberantasan korupsi (www.kompas.id)
- ^ “Cebong” versus “Kampret”: Polarisasi politik pascapilpres 2019 semakin tajam (theconversation.com)
- ^ Prabowo (www.tempo.co)
- ^ media masa kritis (www.tempo.co)
- ^ bukti (www.tempo.co)
- ^ rasa cinta terhadap tanah air (www.kompas.id)
Authors: Martinus Ariya Seta, Dosen, Universitas Sanata Dharma




