Melawan taktik baru ‘pre-order’ produk Ramadan-Idulfitri dengan adab belanja khas Islam
- Written by Lusiana Ulfa Hardinawati, Dosen Perilaku Konsumen Muslim, Universitas Jember
● Konsumsi masyarakat di bulan Ramadan 2025 berpotensi terus bertumbuh.
● Sejak awal tahun, para penjual sudah marak menjajakan dagangannya di platform ‘online’.
● Tekanan untuk tampil “sempurna” dan “seragam” di hari raya demi konten media sosial menjadi pemantik.
Kita baru saja memasuki pekan pertama Ramadan 2026. Namun, bagi yang gemar bermedia sosial dan berbelanja online, seperti saya misalnya, sudah terpapar banyak konten promo Idul Fitri bahkan sejak awal tahun.
Tanda-tanda idul fitri yang selama ini diinisiasi kemunculan iklan sirup Marjan[1] di televisi dan sejak tiga pekan lalu sudah berganti. Algoritma Instagram dan TikTok yang gencar menyodorkan iklan pre-order (PO) seragam lebaran keluarga atau “sarimbit” hingga hampers (bingkisan) justru sudah curi start sejak jauh-jauh hari.
Fenomena ini bukan sekadar strategi dagang biasa melainkan bagaimana Marketing 5.0[2] yang menggabungkan kekuatan data dan kecerdasan buatan bekerja mendikte ritme dan pola konsumsi kita.
Ini sekaligus membuktikan bahwa perdagangan di era digital—yang disokong algoritma mutakhir—terus menunjukkan pengaruh disrupsinya, tak terkecuali dalam urusan tradisi sosial-agama di Tanah Air.
Sebagai dosen yang berkecimpung di bidang ekonomi syariah, saya melihat tren ini telah menggeser perilaku konsumen muslim ke titik paradoks—menyiapkan kemenangan spiritual dengan cara konsumerisme yang berlebihan dan melelahkan.
Jebakan algoritma memantik dahaga berbelanja
Platform Muslim Data[3] menunjukkan bahwa Indonesia adalah raksasa pasar fesyen Muslim dunia. Laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE[4]) secara konsisten menempatkan Indonesia di peringkat atas konsumsi modest (sopan) fashion.
Secara keseluruhan, Ramadan memang menawarkan peluang besar khususnya di sektor barang konsumen habis pakai/FMCG (fast moving consumer goods). Pada periode ini, daya beli masyarakat kerap meningkat—salah satunya disokong oleh tunjangan hari raya (THR).
Di era e-commerce seperti sekarang, transaksi di platform belanja daring dan sosial commerce (seperti Tiktok Shop) terbukti moncer[5] dengan pertumbuhan tahunan yang mencapai 57% per tahun 2024 lalu. Realisasi ini diperkuat dengan data perbankan juga mencatat lonjakan transaksi ritel dan sistem pembayaran[6] pada periode Ramadan–Lebaran.
Masalahnya, pemasaran digital tidak perlu lagi kaku terhadap suatu momentum. Platform justru “menciptakan kebutuhan” jauh sebelum waktunya berkat analisis prediktif[7]. Karena itulah, banyak pemasar yang lebih memilih ‘menggoreng’ promo Ramadan dan Idul Fitri sejak jauh hari.
Pilihan opsi transaksi pre-order pun merupakan strategi yang win-win solution bagi pemasar dan pembeli. Bagi pembeli, mereka tak perlu membayar kewajibannya secara penuh sambil menunggu gajian atau THR cair. Sementara bagi pemasar, mereka mendapat kepastian arus modal dengan risiko stok mati yang minim.
Target utamanya adalah perempuan
Titik temu[8] antara pemasar dan pembeli ini menciptakan dorongan pemenuhan “kebutuhan” jauh sebelum waktunya. Dan perempuanlah, khususnya yang sudah berumah tangga, yang menjadi target utamanya.
Kemudahan dan giringan algoritma di platform e-commerce dan social commerce akan merangsang penggunanya untuk berbelanja. Tantangan akan bertitik berat pada perempuan yang memikul beban sebagai chief household officer (CHO) atau biasa disebut menteri keuangan keluarga[9].
Tantangan ini tak lepas dari tekanan sosial yang tak tertulis untuk tampil “sempurna” dan “seragam” di hari raya demi konten media sosial yang estetik. Pemasar kemudian memanfaatkan perilaku takut ketinggalan alias fear of missing out (FOMO[10]) masyarakat untuk meraih transaksi.
Akibatnya, narasi “kuota terbatas” atau ancaman “tidak akan restock” memaksa perempuan melakukan transaksi di bulan Januari, saat kebutuhan pasca-liburan tahun baru sebenarnya masih menumpuk.
Hal ini tak lepas dari pesatnya perkembangan learning machine atau mesin pembelajaran. Selain piawai mengolah log jutaan hingga miliaran variabel data, learning machine saat ini juga semakin akurat menangkap pola psikis manusia[12], termasuk dalam hal berbelanja.
Read more: FOMO berpotensi menyeret kelas menengah jatuh ke lubang kemiskinan[13]
Ini adalah bentuk pekerjaan emosional (emotional labor) yang melelahkan. Rangkaian inilah yang membuat masyarakat khususnya perempuan dipaksa memikirkan detail visual keluarga sejak 90 hari sebelum hari H, yang sebenarnya menambah beban kognitif di tengah rutinitas harian mereka.
Makna konsumsi dalam Islam
Dalam perspektif ekonomi syariah, perilaku konsumen Muslim seharusnya berlandaskan pada prinsip maqasid syariah (tujuan syariat), salah satunya adalah perlindungan harta (hifdz al-mal[14]).
Islam sangat melarang perilaku israf (berlebih-lebihan). Bahkan Al-Quran (sebagai acuan utama kajian ekonomi islami) melalui Surah Al-A'raf ayat 31[15] melarang umat Islam berlebih-lebihan dalam berpakaian.
Namun, ketika “tekanan tren” mengalahkan “kebutuhan fungsi”, kita terjebak pada konsumerisme yang menjauhkan diri dari esensi Ramadan.
Tidak ada yang salah jika ingin merayakan Idul Fitri dengan semarak. Yang salah adalah menjadikan hari raya keagamaan sebagai ajang pamer status sosial melalui kemewahan yang dipaksakan—lewat utang atau pengeluaran yang tidak terencana.
Karenanya, penting untuk senantiasa menyadari adanya bias algoritma yang berasal dari hasil pengolahan data untuk merangsang impuls belanja kita. Skala prioritas belanja perlu ditegakkan agar pos krusial seperti tabungan pendidikan atau dana darurat tidak terganggu.
Memasuki era Marketing 6.0[16] dengan pengalaman yang lebih imersif, kita perlu terus wawas diri dari arus pemasaran yang mendorong konsumen untuk selalu impulsif berbelanja.
References
- ^ kemunculan iklan sirup Marjan (www.youtube.com)
- ^ Marketing 5.0 (www.scirp.org)
- ^ Muslim Data (salaamgateway.com)
- ^ SGIE (salaamgateway.com)
- ^ moncer (goodstats.id)
- ^ ritel dan sistem pembayaran (money.kompas.com)
- ^ analisis prediktif (www.scirp.org)
- ^ Titik temu (www.scirp.org)
- ^ menteri keuangan keluarga (www.researchgate.net)
- ^ FOMO (theconversation.com)
- ^ sysarmando/Shutterstock.com (www.shutterstock.com)
- ^ menangkap pola psikis manusia (www.pnas.org)
- ^ FOMO berpotensi menyeret kelas menengah jatuh ke lubang kemiskinan (theconversation.com)
- ^ hifdz al-mal (www.researchgate.net)
- ^ Surah Al-A'raf ayat 31 (quran.nu.or.id)
- ^ Marketing 6.0 (www.researchgate.net)
Authors: Lusiana Ulfa Hardinawati, Dosen Perilaku Konsumen Muslim, Universitas Jember




