Saat negara absen, media sosial jadi ‘guru seks’ yang berisiko bagi remaja
- Written by Paskalia, Lecturer, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
● Remaja Indonesia memiliki literasi seksual yang rendah.
● Ketidakhadiran negara dalam mendukung pendidikan seksual sejak dini, bikin remaja diam-diam menjadikan media sosial sebagai ‘guru seks’.
● Pendidikan seks idealnya mengajarkan anak untuk memahami diri dan relasi secara sehat dan bertanggung jawab.
Diskusi mengenai isu kesehatan seksual dan reproduksi antara orang tua dan anak di Indonesia masih menjadi aktivitas yang canggung dan dianggap tabu[1].
Survei tahun 2023[2] yang melibatkan 325 remaja usia 12-22 tahun di Indonesia menemukan, kebanyakan remaja enggan cerita ke orang tua karena malu dan takut dimarahi saat membahas informasi seksual sebelum menikah.
Penelitian tahun 2021[3] mengungkapkan rendahnya tingkat pengetahuan dan komunikasi kesehatan seksual maupun reproduksi remaja (usia 10–14 tahun) di Indonesia. Riset ini melibatkan 4.309 remaja yang sebagian besar sudah mengalami masa pubertas di Lampung, Denpasar, dan Semarang.
Peneliti menemukan bahwa remaja di Indonesia memiliki pemahaman yang rendah[4] mengenai tubuh mereka sendiri, termasuk perubahan fisik, serta hak dan kesehatan reproduksi. Sayangnya, pemerintah belum mengakomodasi pendidikan seksual untuk remaja sejak dini[5].
Padahal, banjir informasi di era media sosial menyebabkan remaja rentan terpapar konten seksual[6]. Masalahnya, kondisi ini tidak diimbangi dengan kemampuan untuk memahami[7] dan memaknai informasi seksual secara kritis.
Kondisi ini justru mendorong banyak remaja diam-diam berpedoman pada informasi seksual yang tidak tepat di media sosial[8]. Ini berisiko mendorong mereka berperilaku tidak sehat dan tidak bertanggung jawab[9], seperti sexting (mengirim pesan bernada seksual) hingga seks tidak aman.
Informasi berlimpah, literasi rendah
Pendidikan seksual di Indonesia masih kerap mengalami penyempitan makna. Seksualitas sering direduksi menjadi “bahaya”[10].
Alhasil, pendidikan seks lebih banyak berorientasi pada peringatan mengenai risiko[11], seperti kehamilan tidak diinginkan, seks bebas, penyakit menular seksual, ataupun perilaku yang dianggap menyimpang.
Pendekatan semacam ini justru menempatkan seksualitas sebagai sesuatu yang harus dihindari, bukan sebagai aspek substantif kehidupan manusia yang perlu dipahami secara utuh dan bertanggung jawab.
Fenomena ini kami buktikan dengan menelusuri kata kunci seputar kesehatan seksual yang banyak bermunculan di platform X pada Hari Kontrasepsi Sedunia pada 26 September 2021.
Hasilnya cukup mengejutkan, cuitan yang beredar di platform tersebut justru didominasi oleh kata kunci “kondom” dan “video call sex (VCS)”.
Cuitan mengenai kondom kebanyakan berkaitan dengan penyakit menular seksual, alat kesehatan, harga murah, label halal, serta stereotip negatif terhadap penggunanya.
Dari temuan ini, kami melihat pembicaraan masyarakat mengenai kondom kebanyakan sebagai alat pelindung untuk menghindari penyakit menular seksual seperti HIV[12].
Read more: Memecah tabu, melindungi anak dari kekerasan seksual: pentingnya edukasi kesehatan reproduksi sejak dini[13]
Adapun kemunculan kata kunci video call sex (VCS) menunjukkan adanya negosiasi seks di ruang digital yang rentan terhadap ketimpangan relasi, tekanan sosial, dan pengaburan batas persetujuan. Dalam konteks ini, tubuh direduksi menjadi objek yang diperdagangkan.
Alih-alih memperkuat pendidikan seksual, praktik semacam ini berisiko memicu eksploitasi dan penyalahgunaan rekaman digital. Pemahaman aktivitas seks juga berisiko menyempit, karena tidak lagi dipahami sebagai relasi manusia yang memerlukan tanggung jawab, kesadaran, serta penghormatan terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Mengembangkan pendidikan seksual ideal
Pendidikan seks idealnya menempatkan seksualitas bukan sebagai bahaya ataupun komoditas, melainkan sebagai kemampuan untuk memahami diri[14], relasi, dan konteks sosial secara reflektif, kritis, dan bertanggung jawab.
Karena itu, pendidikan seksual yang tepat perlu diberikan sejak dini. Panduan Perserikatan Bangsa-bangsa[15] (PBB) bahkan merekomendasikan pendidikan seks komprehensif diberikan sejak anak berusia 5 tahun. Tujuannya untuk membantu mencegah mereka tumbuh dengan rasa kebingungan, rasa bersalah, serta ketidakpastian terhadap tubuh dan relasi mereka.
Pendidikan seksual yang komprehensif[16] bekerja melalui tiga pilar utama, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Pengetahuan dalam pendidikan seksual mencakup pemahaman tentang perubahan tubuh[17], kesehatan reproduksi, serta hak seksual, dan reproduksi. Keterampilan berkaitan dengan kemampuan membangun relasi yang sehat, berkomunikasi secara terbuka, dan mengambil keputusan secara sadar[18] serta bertanggung jawab.
Sementara, sikap mencerminkan nilai dan orientasi individu, seperti pemahaman mengenai kesetaraan gender, rasa aman terhadap tubuh dan identitas diri, serta penghargaan terhadap otonomi.
Read more: Bahaya patriarki dan misogini: Akar penyebab femisida marak di Indonesia[19]
Berbagai penelitian[20] secara konsisten menunjukkan bahwa ketiga aspek tersebut berinteraksi secara dinamis dan berkontribusi dalam membentuk pemahaman seksualitas yang lebih inklusif dan bebas stigma.
Pilar-pilar itu juga mendorong perilaku seksual individu yang lebih sehat, aman, dan bertanggung jawab. Ini termasuk keberanian untuk menjaga kesehatan seksual dan mengakses layanan kesehatan tanpa takut dihakimi.
Pendidikan seks butuh peran semua pihak
Pendidikan seksual perlu dimulai sejak dini, dilakukan secara bertahap, dan disesuaikan dengan konteks budaya. Bukan dengan pendekatan menakut-nakuti, tetapi dengan pendekatan yang manusiawi, terbuka, dan berbasis empati.
Pendidikan seksual pun tidak bisa dilakukan sendirian. Proses ini harus melibatkan kerja sama banyak pihak, mulai dari keluarga, sekolah, petugas kesehatan, masyarakat, hingga pemerintah.
Pemerintah berperan strategis melalui penyusunan kurikulum pendidikan dan regulasi, termasuk perlindungan hukum bagi korban kekerasan seksual.
Jadi, meningkatkan literasi seksual bukan cuma tanggung jawab pribadi. Untuk bisa merasa aman dan sehat secara seksual, kita butuh dukungan dari lingkungan sosial yang peduli serta aturan pemerintah yang kuat.
References
- ^ dianggap tabu (www.taylorfrancis.com)
- ^ Survei tahun 2023 (www.taylorfrancis.com)
- ^ Penelitian tahun 2021 (link.springer.com)
- ^ remaja di Indonesia memiliki pemahaman yang rendah (link.springer.com)
- ^ belum mengakomodasi pendidikan seksual untuk remaja sejak dini (www.kompas.id)
- ^ rentan terpapar konten seksual (www.scielo.br)
- ^ kemampuan untuk memahami (www.scielo.br)
- ^ informasi seksual yang tidak tepat di media sosial (www.scielo.br)
- ^ berperilaku tidak sehat dan tidak bertanggung jawab (www.scielo.br)
- ^ Seksualitas sering direduksi menjadi “bahaya” (link.springer.com)
- ^ peringatan mengenai risiko (link.springer.com)
- ^ penyakit menular seksual seperti HIV (theconversation.com)
- ^ Memecah tabu, melindungi anak dari kekerasan seksual: pentingnya edukasi kesehatan reproduksi sejak dini (theconversation.com)
- ^ kemampuan untuk memahami diri (www.frontiersin.org)
- ^ Panduan Perserikatan Bangsa-bangsa (www.who.int)
- ^ Pendidikan seksual yang komprehensif (www.who.int)
- ^ pemahaman tentang perubahan tubuh (www.who.int)
- ^ mengambil keputusan secara sadar (www.who.int)
- ^ Bahaya patriarki dan misogini: Akar penyebab femisida marak di Indonesia (theconversation.com)
- ^ Berbagai penelitian (www.sciencedirect.com)
Authors: Paskalia, Lecturer, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya




