Tidur siang selama puasa Ramadan bantu otak lebih fokus dan berpikir cepat
- Written by Timothy Hearn, Lecturer, University of Cambridge; Anglia Ruskin University
Selama Ramadan[1], umat Islam berpuasa dari makan dan minum sebelum subuh hingga waktu berbuka setelah magrib. Ritme unik ini sering kali menyebabkan perubahan[2] pola tidur.
Karena durasi tidur di malam hari lebih singkat dan siangnya harus berpuasa, banyak umat Muslim merasa lelah[3] dan susah fokus saat beraktivitas. Melakukan tidur siang yang tepat bisa jadi solusinya.
Penelitian tahun 2024[4] mengungkapkan bahwa atlet yang berpuasa selama Ramadan dan menjalani tidur siang selama 40 menit usai latihan malam yang berat, mengalami peningkatan kinerja fisik dan kognitif secara signifikan.
Studi lain, yang melibatkan pemain sepak bola[5], menunjukkan bahwa tidur siang membantu atlet memiliki kinerja yang lebih baik dalam lari bolak-balik jarak pendek dan tes perhatian, daripada mereka yang tidak tidur siang.
Pertanyaannya, mengapa tidur siang bisa membantu memulihkan energi kita?
Manfaat tidur siang menurut sains
Tidur siang bermanfaat memberikan otak dan tubuh kesempatan untuk beristirahat sejenak untuk mengatur ulang fungsinya. Ketika kita terjaga dalam waktu lama—akibat perubahan waktu makan dan berkurangnya waktu tidur di malam hari—tekanan di otak akan menumpuk, sehingga membuat kita mudah mengantuk.
Tidur siang—terutama di awal siang hari ketika banyak orang mengalami penurunan fokus secara alami—bisa mengurangi tekanan tersebut. Aktivitas ini juga bermanfaat dalam meningkatkan suasana hati, kecepatan berpikir, dan daya tahan fisik.
Sebuah riset tahun 2024[6], menunjukkan bahwa tidur siang selama 40 menit tidak hanya mengurangi rasa kantuk, tapi juga meningkatkan kinerja dalam melakukan tugas yang membutuhkan fokus dan berpikir cepat.
Sementara itu, penelitian tahun 2025[7] terhadap atlet perempuan menemukan bahwa tidur siang selama 40-90 menit dapat meningkatkan kinerja fisik dan suasana hati, setelah kurang tidur semalaman.
Meskipun tidur siang lebih lama menunjukkan manfaat yang lebih besar, aktivitas ini juga bisa menyebabkan rasa kantuk sementara—yang dikenal sebagai sleep inertia[8]. Jika tidak dikelola dengan benar, kondisi ini dapat mengganggu efek positif tidur.
Untuk mengatasinya, riset mengungkapkan[9] bahwa paparan cahaya terang dan mencuci muka dapat membantu orang yang tidur siang mengatasi rasa kantuk berlebih. Meski begitu, bagi sebagian orang, rasa kantuk ini dapat bertahan cukup lama hingga memengaruhi produktivitas, suasana hati, dan kinerja secara keseluruhan.
Soal durasi dan waktu tidur siang, kuncinya adalah menemukan “titik ideal”. Tidur siang singkat—sekitar 20 hingga 30 menit—dapat meningkatkan fokus[10] tanpa menyebabkan kantuk.
Di sisi lain, tidur siang lebih lama (seperti 40 menit atau lebih) terbukti meningkatkan kinerja mental dan fisik. Namun, penerapannya harus dijadwalkan dengan hati-hati agar tidak mengganggu[11] tidur malam kita.
Lebih baik tidur siang atau tidak?
Ketika tubuh sudah beradaptasi dengan jadwal tidur yang bergeser[12] selama Ramadan, tidur siang mungkin akan sangat bermanfaat asalkan kita lebih cermat mengatur durasinya. Aktivitas ini dapat menyeimbangkan penurunan kualitas dan kuantitas tidur[13] yang terjadi selama puasa.
Akan tetapi, sebaiknya kita jangan tidur kesorean. Sebab, aktivitas ini justru bisa menunda dimulainya siklus tidur reguler di malam hari, sehingga mengganggu pola tidur kita.
Lakukan tidur siang dengan durasi waktu yang tepat agar bisa bermanfaat dalam meningkatkan fokus, suasana hati, serta kinerja fisik—yang sangat diperlukan selama menjalani puasa Ramadan.
Pada akhirnya, keputusan untuk rutin tidur siang sebaiknya menyesuaikan dengan gaya hidup, kualitas tidur malam, serta tujuan kesehatan kita.
Bagi banyak orang, tidur siang dengan durasi yang tepat bukan sekadar kebiasaan sehat, melainkan strategi jitu untuk menjalani keseharian sebaik mungkin—baik selama berpuasa di bulan Ramadan maupun menghadapi padatnya rutinitas harian.
References
- ^ Selama Ramadan (theconversation.com)
- ^ perubahan (www.sciencedirect.com)
- ^ lelah (theconversation.com)
- ^ Penelitian tahun 2024 (www.tandfonline.com)
- ^ Studi lain, yang melibatkan pemain sepak bola (www.jssm.org)
- ^ Sebuah riset tahun 2024 (www.sciencedirect.com)
- ^ penelitian tahun 2025 (www.tandfonline.com)
- ^ sleep inertia (pmc.ncbi.nlm.nih.gov)
- ^ riset mengungkapkan (www.sciencedirect.com)
- ^ dapat meningkatkan fokus (theconversation.com)
- ^ agar tidak mengganggu (www.sciencedirect.com)
- ^ jadwal tidur yang bergeser (pmc.ncbi.nlm.nih.gov)
- ^ penurunan kualitas dan kuantitas tidur (www.sciencedirect.com)
Authors: Timothy Hearn, Lecturer, University of Cambridge; Anglia Ruskin University




