Asian Spectator

Men's Weekly

.

Komoditas rumput laut bernilai puluhan triliun. Gen Z bisa meningkatkan potensinya

  • Written by La Ode M.Aslan, Professor/ Dosen dan peneliti Bidang perikanan di Universitas Halu Oleo, Universitas Halu Oleo

● Sektor komoditas rumput laut dihadapkan pada masalah minimnya regenerasi.

● Budi daya rumput laut kerap dianggap kuno, kaum muda lebih memilih pekerjaan lain.

● Padahal ada potensi besar di bisnis rumput laut.

Sebagai negara maritim, potensi rumput laut[1] Indonesia merupakan salah satu yang terbesar dunia. Varian rumput laut seperti Kappaphycus, Eucheuma, dan Gracillaria Indonesia menyumbang porsi besar dalam perdagangan dunia.

Hal ini tak lepas dari tingginya permintaan global untuk memenuhi hilirisasi komoditas rumput laut seperti kosmetik, bioplastik, hingga bioenergi. Wakil Presiden Gibran Rakabuming juga sempat menekankan pentingnya pengolahan rumput laut[2] di Indonesia yang nilai ekonominya amat menjanjikan.

Namun di balik potensi tersebut, terdapat tantangan serius. Layaknya sektor pertanian pada umumnya, pelaku usaha rumput laut juga menghadapi masalah regenerasi[3].

Mayoritas petani rumput laut saat ini sudah memasuki usia senja[4]. Sementara minat generasi muda untuk terjun ke sektor ini relatif rendah. Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia berisiko kehilangan momentum sebagai kekuatan utama dalam industri rumput laut global.

Padahal, ekonomi biru[5] yang menekankan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan rumput laut bisa jadi sektor yang cukup menjanjikan. Terlebih ruang untuk memperkaya sektor ini dengan pendekatan green jobs juga masih terbuka lebar.

Butuh sentuhan modern dari Gen Z

Masyarakat kerap menganggap budi daya rumput laut sebagai pekerjaan kuno[6] yang jauh dari nilai prestise modern.

Padahal rumput laut adalah komoditas strategis untuk meredam perubahan[7] iklim. Rumput laut menyerap karbon dan menjaga keseimbangan nutrisi (eutrofikasi) perairan.

Per 2024, bisnis yang dinilai kuno ini bisa menghasilkan omzet Rp24,2 triliun[8]. Tentunya realisasi tersebut bisa berlipat ganda jika mendapat sentuhan digital dan produksi industri turunan yang modern.

Komoditas rumput laut bernilai puluhan triliun. Gen Z bisa meningkatkan potensinya
Modernisasi dan regenerasi pelaku usaha budidaya rumput laut akan memberikan nilai tambah yang besar. Grafis: Rino Putama (The Conversation Indonesia)

Di sisi produksi, modal untuk membudidayakan rumput laut bisa lebih sedikit dari sektor pertanian karena tidak membutuhkan lahan, pakan, pupuk kimia, maupun air tawar dalam jumlah besar.

Jika peluang ini mendapatkan sentuhan kaum muda yang melek digital, budi daya rumput laut bisa menciptakan nilai lebih besar lagi.

Misalnya, melalui pemaduan budi daya dengan platform pemasaran daring[9], sistem monitoring dan pengawasan (traceability), dan teknologi finansial (financial technology), sektor ini bertransformasi menjadi sebuah industri modern.

Penerapan konsep budi daya pintar (smart aquaculture)[10] yang mencakup penggunaan sensor kualitas air, pemantauan berbasis satelit, aplikasi manajemen produksi, hingga analitik berbasis akal imitasi (AI) bisa meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi risiko kegagalan panen.

Digitalisasi juga terbukti bisa memperpendek rantai distribusi dan memungkinkan petani memperoleh harga lebih adil.

Komoditas rumput laut bernilai puluhan triliun. Gen Z bisa meningkatkan potensinya
Olahan cemilan rumput laut dari Tao Kae Noi membuat Aitthipat Kulapongvanich jadi triliuner di usia muda. TY Lim/Shutterstock.com[11]

Membangun jalur karier dan ekosistem

Untuk menggugah minat generasi muda, budi daya rumput laut harus dilihat sebagai pintu masuk menuju berbagai profesi menarik mulai dari teknik budi daya perairan, analis kualitas, pengusaha pengolahan, hingga inovator produk berbasis laut.

Sebelum itu, perlu ada pembenahan sistem pendidikan[12] sektor perikanan dan kelautan yang belum sepenuhnya terhubung dengan kebutuhan industri di lapangan.

Komoditas rumput laut bernilai puluhan triliun. Gen Z bisa meningkatkan potensinya
Permintaan bahan baku dan hasil hilirisasi rumput laut memiliki ceruk ekonomi yang amat besar. Grafis: Andi Ibnu (The Conversation Indonesia)

Saat ini banyak lulusan sekolah vokasi maupun perguruan tinggi kelautan dan perikanan minim pengalaman praktis dalam manajemen budidaya, pengolahan, atau kewirausahaan berbasis rumput laut[13]. Alhasil, mereka memilih profesi di luar sektornya.

Intensifikasi pendekatan pembelajaran model TEFA[14] (teaching factory), magang industri, serta inkubator bisnis berbasis kampus[15] dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik.

Kita bahkan membutuhkan narasi baru bahwa petani rumput laut bukan sekadar produsen bahan mentah. Mereka adalah aktor penting dalam rantai ekonomi hijau global yang bisa menghasilkan banyak cuan.

Kawasan produksi yang terhubung dengan industri pengolahan, pusat riset, logistik, dan pasar ekspor, akan ekosistem yang memberikan kepastian permintaan dan peluang berkembang.

Keterhubungan ini juga mendorong lahirnya inovasi-inovasi usaha seperti startup maritim dan industri kreatif berbasis rumput laut, memperluas spektrum pekerjaan bagi generasi muda.

Bagi Gen Z yang dikenal memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan[16], framing ini dapat menjadi daya tarik kuat. Cita-cita ini bisa didapatkan jika ekosistem dan penciptaan tenaga ahli yang sesuai kebutuhan di lapangan bisa dipenuhi.

Konsistensi kebijakan pemerintah

Regenerasi pelaku usaha rumput laut berkaitan erat dengan agenda besar bangsa, termasuk pemanfaatan bonus demografi dan visi Indonesia Emas 2045[17]. Negara perlu menempatkan sektor ini sebagai prioritas strategis dalam kebijakan kelautan dan industri hijau.

Namun orasi politis saja takkan bisa mengubah keadaan ini. Pemerintah juga perlu mengurai sederet hambatan struktural yang ada saat ini.

Banyak calon pelaku usaha muda menghadapi kesulitan memperoleh pembiayaan[18], terutama karena lembaga keuangan masih menganggap sektor perikanan berisiko tinggi. Skema kredit sering tidak ramah bagi pemula yang belum memiliki agunan atau rekam jejak usaha.

Langkah konkret lanjutan dapat mencakup integrasi rumput laut dalam strategi bioekonomi nasional, pemberian insentif bagi industri pengolahan, serta perlindungan harga melalui mekanisme stabilisasi pasar.

Negara juga perlu hadir melalui kebijakan pembiayaan inovatif, seperti kredit berbunga rendah, dana bergulir, atau pembiayaan campuran (blended finance) yang melibatkan sektor publik dan swasta.

Kepastian ruang usaha turut menjadi isu krusial. Penataan ruang laut yang transparan dan berbasis data juga penting agar generasi muda memiliki rasa aman untuk berinvestasi jangka panjang. Konflik pemanfaatan pesisir antara budi daya, pariwisata, pertambangan, dan infrastruktur kerap memicu ketidakpastian investasi.

Regenerasi bukan sekadar pergantian usia pelaku usaha, melainkan proses membangun paradigma baru tentang kerja maritim yang modern, berkelanjutan, dan membanggakan.

Jika ekosistem ini berhasil dibangun, maka Gen Z tidak hanya akan menjadi pelaku ekonomi, tetapi juga penjaga laut masa depan menghubungkan tradisi bahari Indonesia dengan inovasi global, serta memastikan bahwa kekayaan biru bangsa tetap memberi manfaat bagi generasi yang akan datang.

References

  1. ^ potensi rumput laut (lestari.kompas.com)
  2. ^ pengolahan rumput laut (www.antaranews.com)
  3. ^ regenerasi (agridigi.fkp.unesa.ac.id)
  4. ^ sudah memasuki usia senja (iopscience.iop.org)
  5. ^ ekonomi biru (pslh.ugm.ac.id)
  6. ^ pekerjaan kuno (iopscience.iop.org)
  7. ^ meredam perubahan (www.nature.org)
  8. ^ Rp24,2 triliun (portaldata.kkp.go.id)
  9. ^ pemasaran daring (scholar.google.com)
  10. ^ budi daya pintar (smart aquaculture) (www.researchgate.net)
  11. ^ TY Lim/Shutterstock.com (www.shutterstock.com)
  12. ^ pembenahan sistem pendidikan (www.researchgate.net)
  13. ^ pengalaman praktis dalam manajemen budidaya, pengolahan, atau kewirausahaan berbasis rumput laut (www.researchgate.net)
  14. ^ model TEFA (itjen.kemendikdasmen.go.id)
  15. ^ inkubator bisnis berbasis kampus (theconversation.com)
  16. ^ kepedulian terhadap isu lingkungan (theconversation.com)
  17. ^ visi Indonesia Emas 2045 (indonesia2045.go.id)
  18. ^ pembiayaan (ojk.go.id)

Authors: La Ode M.Aslan, Professor/ Dosen dan peneliti Bidang perikanan di Universitas Halu Oleo, Universitas Halu Oleo

Read more https://theconversation.com/komoditas-rumput-laut-bernilai-puluhan-triliun-gen-z-bisa-meningkatkan-potensinya-276032

Magazine

Komoditas rumput laut bernilai puluhan triliun. Gen Z bisa meningkatkan potensinya

● Sektor komoditas rumput laut dihadapkan pada masalah minimnya regenerasi.● Budi daya rumput laut kerap dianggap kuno, kaum muda lebih memilih pekerjaan lain.● Padahal ada potensi b...

Mencegah tumpang tindih Polisi dan TNI dalam terorisme melalui pembagian level ancaman

(Wulandari/Shutterstock)● Negara kini melihat terorisme sebagai ancaman keamanan, bukan semata tindak pidana.● Perlu batas jelas peran TNI-Polri agar penanganan terorisme tak langgar HAM.&...

The Role of Family Lawyers in Protecting Children’s Interests

When family relationships break down, decisions about children can become tense quickly. In these matters, the focus is meant to stay on what supports a child’s wellbeing, even when adults feel hurt...