Mengapa manusia tidak memiliki ekor?
- Written by Mark Grabowski, Senior Lecturer of Biological and Environmental Sciences, Liverpool John Moores University
Mengapa manusia tidak lagi memiliki ekor?
Olivia, 12 tahun, asal Belanda.
Pertanyaan bagus, dan ini menyentuh inti tentang siapa kita sebenarnya sebagai manusia.
Coba pikirkan tentang keluargamu, apakah kamu memiliki sepupu? Jika ya, maka kamu dan sepupumu memiliki kakek dan nenek yang sama. Merekalah leluhur kalian berdua.
Nah, sekarang bayangkan kalau kita mundur lebih jauh lagi ke masa lalu. Kamu dan kerabat jauhmu juga sebenarnya memiliki nenek moyang yang sama dalam silsilah keluarga besar kalian.
Bahkan, kalau kita melihat semua makhluk hidup di Bumi, kita semua sebenarnya memiliki satu nenek moyang yang sama[1], yang hidup sekitar 3 sampai 4 miliar tahun yang lalu.
Namun, semua kera, termasuk kita, masih disatukan oleh sejumlah ciri khas. Misalnya, semua kera memiliki otak yang relatif besar, meskipun otak manusia merupakan otak yang paling besar[9].
Selain itu, seluruh kera juga memiliki bentuk tubuh yang memungkinkan postur tegak[10]. Dada kita jauh lebih vertikal dibandingkan anjing, bahkan dari monyet. Struktur tubuh inilah yang menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan evolusi kita.
Kita juga memiliki pola alur yang khas pada gigi geraham bawah. Jika diraba, lima tonjolan kecil di permukaannya tersusun membentuk huruf Y, yang dikenal sebagai pola Y-5. Pola ini sendiri hanya ditemukan pada kelompok kera[11].
Terakhir, semua kera memiliki kemampuan memanjat pohon dan bergelantungan di dahan. Struktur lengan dan bahu kita pun masih mempertahankan ciri-ciri tersebut, hal ini memungkinkan kita[12] melakukan gerakan memanjat pohon dengan aman.
Ciri-ciri itu kita miliki karena kita berasal dari satu leluhur kera yang sama dengan kera, yang diperkirakan hidup sekitar 20 hingga 30 juta tahun lalu[13].
Kalau kembali memakai analogi bola golf tadi, satu juta bola golf bisa memenuhi sebuah kamar tidur besar. Sekarang bayangkan ada 30 kamar sebesar itu, semuanya dipenuhi bola golf. Dari situ, kita bisa membayangkan[14] betapa jauhnya rentang waktu yang sedang kita bicarakan.
Bukti terbaik yang kita miliki tentang seperti apa rupa leluhur para kera berasal dari fosil, yaitu sisa-sisa makhluk hidup purba yang telah mengalami proses panjang hingga berubah menjadi batu.
Misalnya spesies kera yang telah punah bernama Ekembo heseloni asal Afrika. Kera ini secara tampilan sebenarnya lebih mirip monyet[15]. Spesies ini diketahui memanjat pohon, tetapi kemungkinan tidak bergelantungan di bawah dahan seperti kera modern. Alih-alih berayun, mereka lebih sering berjalan di atas cabang.
Temuan ini tentunya cukup mengejutkan, karena semua kera yang hidup saat ini memiliki ciri tubuh yang memungkinkan mereka bergelantungan di dahan.
Namun, para ilmuwan mengetahui bahwa spesies Ekembo heseloni merupakan kera karena karena dua ciri utamanya. Pertama, spesies ini memiliki pola Y-5 yang khas pada geraham bawahnya, sama seperti yang kita miliki. Kedua, ia tidak memiliki ekor. Ketiadaan ekor merupakan salah satu ciri pembeda paling jelas[16] yang dimiliki semua kera.
Sejauh ini, kita baru memiliki hipotesis, dengan dugaan yang didasarkan pada bukti ilmiah, tentang mengapa leluhur kita bersama kera tidak memiliki ekor.
Hal ini menarik karena sebagian besar kelompok primata lainnya, baik yang masih hidup maupun yang sudah punah, justru memiliki ekor.
Salah satu dugaan menyebutkan bahwa ketika kera-kera paling awal mulai beralih ke postur yang lebih tegak dan mengubah cara mereka bergerak di pepohonan, ekor menjadi semakin kurang berguna.
Oleh karena itu, ada kemungkinan evolusi “mengalihkan” fungsi otot-otot yang sebelumnya digunakan untuk menyangga ekor, lalu berubah fungsi dan menjadi bagian dasar panggul.
Dasar panggul[18] adalah kumpulan otot di bagian bawah tulang belakang yang membantu organ-organ dalam tubuh melawan gaya gravitasi, sehingga tetap berada di tempatnya dan tidak “turun” ke bawah. Fungsinya sangat penting, seperti yang bisa kita bayangkan.
Hipotesis lain menduga bahwa hilangnya ekor pada kera-kera awal mungkin bermula dari sebuah kesalahan genetik.
Dalam sebuah studi tahun 2024[19], para peneliti menambahkan satu potongan pendek DNA yang ditemukan pada manusia dan kera lain (tetapi tidak pada primata lain) ke dalam tikus. Hasilnya, tikus-tikus tersebut berkembang dengan ekor yang sangat pendek, bahkan ada yang hampir tidak memiliki ekor sama sekali.
Jadi, meskipun memiliki ekor mungkin terdengar menarik, leluhur kita mungkin kehilangan ekor karena memang tidak lagi membutuhkannya. Atau, bisa jadi sesederhana karena kesalahan genetik yang kebetulan saja terjadi.
References
- ^ satu nenek moyang yang sama (www.nature.com)
- ^ Curious Kids (theconversation.com)
- ^ The Conversation (theconversation.com)
- ^ curiouskids@theconversation.com (theconversation.com)
- ^ satu miliar bola golf (elitwilliams.medium.com)
- ^ kita memiliki hubungan kekerabatan paling dekat (www.amnh.org)
- ^ kita berjalan tegak (humanorigins.si.edu)
- ^ Farewell love/Shutterstock (www.shutterstock.com)
- ^ otak yang paling besar (www.chimpanzeebrain.org)
- ^ postur tegak (humanorigins.si.edu)
- ^ hanya ditemukan pada kelompok kera (australian.museum)
- ^ memungkinkan kita (onlinelibrary.wiley.com)
- ^ sekitar 20 hingga 30 juta tahun lalu (journals.plos.org)
- ^ kita bisa membayangkan (elitwilliams.medium.com)
- ^ lebih mirip monyet (link.springer.com)
- ^ pembeda paling jelas (www.jstor.org)
- ^ Nataliabiruk/Shutterstock (www.shutterstock.com)
- ^ Dasar panggul (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)
- ^ tahun 2024 (www.nature.com)
Authors: Mark Grabowski, Senior Lecturer of Biological and Environmental Sciences, Liverpool John Moores University
Read more https://theconversation.com/mengapa-manusia-tidak-memiliki-ekor-276533





