Kaum muda di tengah isu Greenland dan kecemasan perang dunia ketiga
- Written by Lala Choirunnisa, Community Engagement Officer, The Conversation
Wacana ambisi Amerika Serikat atas Greenland yang kembali mencuat dalam beberapa bulan terakhir, dibarengi rivalitas dengan Rusia dan Cina serta gaya konfrontatif Donald Trump, telah memicu ketegangan baru.
Dengan derasnya arus informasi, konflik global ini tak lagi hadir sebagai peristiwa yang jauh. Ia muncul dalam bentuk notifikasi, potongan video, dan utas panjang yang memantik imajinasi orang muda tentang perang dunia ketiga.
Pertanyaan yang sama terus berulang di berbagai platform digital: apakah Perang Dunia Ketiga benar-benar di depan mata? Keresahan ini terasa nyata, terutama bagi generasi muda. Ketegangan antarnegara ini seolah-olah membentuk bayangan yang kurang menyenangkan tentang masa depan mereka.
Di tengah situasi tersebut, The Conversation Indonesia menyelenggarakan Conversation Corner edisi ke-10 dengan tema “Sebentar lagi perang dunia ketiga, riil kah? membedah obsesi Greenland dan nasib kita di masa depan” pada Jumat, 30 Januari 2026. Diskusi yang dipandu Andi Ibnu Masri Rusli ini menghadirkan Ayu Anastasya Rachman, Dosen Hubungan Internasional Universitas Bina Mandiri Gorontalo, dan Joevarian Hudiyana, Peneliti Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia.
Greenland dalam pusaran kepentingan global
Mengawali diskusi, Ayu menjelaskan bahwa langkah Trump yang ingin menguasai Greenland dapat dipahami melalui teori offensive realism, yang melihat negara besar sebagai aktor yang terus memaksimalkan kekuatan demi menjamin keamanan.
“Dalam teori realisme, aliansi dalam HI (hubungan internasional) itu sifatnya sementara dan transaksional,” jelas Ayu. Kerja sama internasional dipandang sebagai instrumen strategis yang bersyarat dan bisa berubah mengikuti kepentingan.
Greenland menjadi sorotan karena posisinya yang strategis di koridor Atlantik Utara, wilayah penting bagi sistem deteksi militer dan pergerakan kapal selam. Selain itu, Greenland juga memiliki cadangan mineral yang berkaitan langsung dengan industri semikonduktor, baterai kendaraan listrik, dan teknologi energi masa depan.
Ketika Amerika Serikat menguasai Greenland, mereka akan dianggap menguasai sumber daya penting yang membuat mereka tidak bergantung pada negara lain di masa depan. Narasi ini dianggap Ayu sebagai senjata diplomatik yang kuat untuk meningkatkan daya tawar Amerika Serikat di hadapan negara lainnya.
Di sisi lain, negara-negara sekutu merespons situasi ini dengan waspada. “Negara merasa terancam, ada fear of abandonment, dan takut diabaikan oleh Amerika Serikat,” menurut Ayu.
Indonesia pun termasuk yang merasakan tekanan. Padahal, sejatinya sebagai middle power, peran utama Indonesia adalah menjaga multilateralisme dan tatanan berbasis aturan, bukan terjebak dalam rivalitas Greenland.
Narasi perang untuk mengatasi kecemasan
Masuk ke ranah psikologi politik, Joevarian mengajak peserta melihat bahwa dinamika ini juga berkaitan dengan kebutuhan identitas dan gaya kepemimpinan.
Ia menyinggung kecenderungan seperti orientasi dominasi sosial dan autoritarianisme sayap kanan yang dapat menguat pada figur pemimpin tertentu. Dalam kerangka ini, dunia dilihat sebagai arena kompetisi yang hierarkis, saat dominasi harus ditegaskan dan ancaman harus dilawan.
Karena itu, narasi keras dan konfrontatif bukan sekadar respons terhadap situasi global, melainkan bagian dari gaya kepemimpinan banyak kepala negara yang bertumpu pada kontrol, ketegasan, dan mobilisasi dukungan domestik.
Namun, dampaknya tidak hanya terasa di ruang-ruang kekuasaan. “Secara psikologis, publik atau individu-individu itu merasakan adanya ketegangan atau kecemasan di tengah tindakan para pemimpin,” kata Joe.
Ketika pernyataan dan kecaman para pemimpin dunia muncul dalam headline pemberitaan, publik ikut menyerap atmosfer genting dan merasakan kecemasan. Mereka mencari cara untuk memberikan kepastian kognitif dengan mengembangkan narasi akan meletusnya Perang Dunia Ketiga.
“Menerima ketidakpastian itu sesuatu yang sulit buat kita sebagai individu, sehingga lebih mudah untuk menerka itu sebagai suatu kepastian,” ujar Joe. Maka tidak heran jika spekulasi tentang perang dunia ketiga menyebar dengan cepat di sosial media dan mudah dianggap sebagai kenyataan.
Di sisi lain, Joe menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental publik. Arus informasi yang berlebihan dapat memicu rasa tidak berdaya. Ia mengajak peserta untuk membedakan antara hal yang masih berada dalam ruang pengaruh pribadi dan yang sepenuhnya berada di luar kapasitas individu.
“Jika kita bisa memilih antara apa yang mungkin kita masih bisa kendalikan dengan apa yang sebenarnya itu di luar kapasitas kita sebagai individu,” ujarnya, maka kecemasan tidak harus berujung pada kelumpuhan. Membangun komunitas dan solidaritas juga menjadi cara untuk menjaga rasa aman dan identitas.
Siaran ulang Conversation Corner edisi ke-10 “Sebentar lagi perang dunia ketiga, riil kah? Membedah obsesi Greenland dan nasib kita di masa depan.”Secara keseluruhan, diskusi ini memberi konteks sehingga isu geopolitik seperti Greenland tidak lagi terasa abstrak. Peserta menjadi lebih kritis, mampu membedakan hal yang bisa dikendalikan dari yang di luar kapasitas individu, dan termotivasi untuk bertindak bijak serta proaktif menghadapi ketidakpastian global.
“Setelah mengikuti diskusi ini, saya kepikiran untuk berdampak lebih ke akar sosial (masyarakat bawah) untuk membantu mereka agar mampu berpikir secara mandiri dan memiliki mental anti-kolonialisme,” ungkap Bahauddin Abdul, 21 tahun, mahasiswa Psikologi UIN Tulungagung.
Meski diskusi yang diikuti 122 peserta di Zoom malam itu tidak serta-merta melenyapkan ketegangan global, setidaknya ada konteks baru yang terbangun. Dari sana, terselip harapan agar orang muda tak lagi memandang isu Greenland maupun bayang-bayang Perang Dunia Ketiga sekadar sebagai ancaman abstrak, melainkan memahaminya sebagai bagian dari dinamika hubungan internasional dan psikologi politik.
Acara Conversation Corner hadir secara rutin setiap bulannya bersama akademisi, peneliti, dan pakar untuk membahas isu sosial terkini. Jika kamu tertarik untuk bekerja sama mengadakan diskusi bersama The Conversation Indonesia, hubungi kami di: kemitraan@theconversation.com.
Authors: Lala Choirunnisa, Community Engagement Officer, The Conversation





