Ibarat bom waktu di sawah: Mengapa pupuk dan pestisida bukan jawaban mengatasi dampak perubahan iklim
- Written by Salman Samir, Assistant lecturer, Universitas Hasanuddin
● Pupuk dan pestisida terbukti bisa menangkal efek perubahan iklim.
● Namun fungsinya hanya sebagai ‘obat penghilang nyeri’ sesaat saja.
● Tanpa perubahan kebijakan menuju green farming, bencana susulan pertanian tinggal menunggu waktu saja.
Perubahan iklim[1] yang memanaskan suhu Bumi bisa memengaruhi jumlah maupun kualitas makanan hingga ke meja makan. Di Indonesia, perubahan iklim dapat mengguncang sektor pangan dan pertanian yang menyumbang 14% dari total produk domestik bruto (PDB) nasional[2].
Dampaknya berantai. Sebab, sektor pangan dan pertanian sekurang-kurangnya menyerap sepertiga dari total pekerja nasional dengan total luas lahan pertanian nasional per (2023) sekitar 7,3 juta hektare[3].
Tak terhitung berapa banyak riset yang sudah menyuarakan hal ini sejak lama. Sayangnya semuanya, seakan dianggap angin lalu saja.
Riset kami[4] menunjukkan hari panas ekstrem yang kian sering terjadi akan terus menggerogoti sistem pertanian Indonesia. Akibatnya sudah ada dan berisiko terus berlipat: harga pangan naik, pendapatan petani menurun, dan gangguan stabilitas ekonomi puluhan juta keluarga yang menggantungkan pendapatan dari sektor ini.
Read more: Riset 3 wilayah: Dampak krisis iklim tidak merata, kebijakan mengabaikan kelompok rentan[5]
Panas ekstrem menekan produktivitas petani
Dalam beberapa dekade terakhir, hari-hari dengan suhu panas ekstrem semakin sering terjadi Indonesia[6].
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG[7]) mengonfirmasi, anomali suhu udara nasional naik 0,8°C sejak 2024: dari 26,7°C menjadi 27,5°C.
Kondisi ini berdampak langsung pada komoditas pangan utama seperti padi dan jagung. Suhu ekstrem mengganggu siklus pertumbuhan tanaman, mempercepat penguapan air, menekan fotosintesis. Risiko gagal panen akhirnya semakin besar.
Riset[8] kami menunjukkan, setiap kenaikan frekuensi hari panas ekstrem akan menurunkan hasil panen padi. Sebab, tanaman padi kurang bisa beradaptasi terhadap perubahan cuaca.
Read more: PBB sebut dunia memasuki era kebangkrutan air, tanda-tandanya sudah nyata[9]
Situasi ini memperlihatkan betapa rentannya pertanian Indonesia terhadap perubahan iklim. Ketika panas ekstrem menjadi semakin sering, risiko penurunan produksi tidak lagi bersifat musiman, melainkan menjadi tren. Situasi takkan berubah jika petani hanya mengandalkan perbaikan proses tanam dan merawat tanaman dengan baik.
Pupuk dan pestisida: penopang hasil, sekaligus sumber risiko
Pemakaian pupuk dan pestisida mungkin bisa membantu mempertahankan jumlah panen di tengah tren panas ekstrem, tapi hanya sementara dan ada batasnya.
Kondisi saat ini, rata-rata setiap kenaikan harga pupuk Rp1.000 per kg akan menurunkan volume pemupukan urea hingga 13%[10].
Penurunan volume pemupukan berimbas pula pada anjloknya pendapatan petani beras sekitar Rp3,1 juta per hektare atau Rp2,3 juta per hektare untuk komoditas jagung[11].
Temuan[12] kami membuktikan bahwa pupuk dan input pertanian berbasis karbon tidak hanya mahal dan mengandalkan barang impor, tetapi juga memiliki dampak lingkungan yang tidak kecil.
Pertanian berbasis karbon meliputi pemakaian pupuk dan pestisida sintetis, traktor berbahan bakar solar, hingga irigasi yang menggenangi lahan.
Secara ekologi[13], penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan dapat merusak kualitas tanah, mencemari air, dan meningkatkan emisi gas rumah kaca. Dalam jangka waktu panjang efeknya bisa berujung pada bencana panen dan lingkungan.
Dengan kata lain, upaya mempertahankan produksi melalui penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan justru menciptakan lingkaran kesialan: memperparah perubahan iklim yang ujung-ujungnya merugikan sektor pertanian itu sendiri.
Read more: Komoditas rumput laut bernilai puluhan triliun. Gen Z bisa meningkatkan potensinya[14]
Dalam konteks jangka pendek dan efek tidak langsungnya, pemerintah sebenarnya memiliki program pupuk subsidi sebanyak 9,5 juta ton[15] untuk tahun 2026. Namun sayangnya, distribusi pupuk bersubsidi sering bermasalah hingga masuk radar Badan Pemeriksa Keuangan[16].
Kurang optimalnya penyaluran pupuk subsidi menambah risiko petani. Jika tidak kebagian pupuk subsidi, petani harus membeli sendiri pupuk yang notebene bahan produksinya masih diimpor[17] sehingga sering terpengaruh pada nilai tukar rupiah.
Mengapa pertanian cerdas iklim menjadi keharusan
Perubahan iklim yang memangkas hasil panen akan menciptakan kelangkaan pasokan dan berisiko menaikkan harga pangan, terutama padi.
Bagi rumah tangga, terutama yang berpendapatan rendah, kenaikan harga pangan berarti meningkatnya beban pengeluaran. Padahal, bahan pangan[18], khususnya beras, merupakan variabel penentu inflasi terbesar masyarakat Indonesia selain bahan bakar minyak.
Temuan ini menegaskan bahwa perubahan iklim bukan isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia memengaruhi apa yang kita makan, berapa harganya, dan seberapa aman pasokan pangan di masa depan.
Untuk itu, riset kami[20] menggarisbawahi pentingnya percepatan pertanian cerdas iklim (climate-smart agriculture) di Indonesia. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kemampuan sistem pertanian untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim dan mengurangi dampak lingkungannya.
Pertanian cerdas iklim mencakup berbagai strategi, mulai dari penggunaan varietas tanaman yang tahan panas, pengelolaan air yang lebih efisien, hingga pemanfaatan pupuk secara lebih bijak dan berkelanjutan. Pendekatan ini bertujuan menyeimbangkan kebutuhan produksi pangan dengan perlindungan lingkungan.
Tanpa perubahan arah kebijakan dan praktik pertanian, ketergantungan pada pupuk dan pestisida berbasis minyak/gas bumi seperti hanya memakai obat penahan nyeri saja.
Penyakit intinya seiring waktu akan semakin ganas yang berisiko menciptakan kerentanan baru, baik secara ekonomi maupun lingkungan.
Read more: Gembar-gembor aksi iklim Indonesia berbanding terbalik dengan nasib pahit pekerja informalnya[21]
References
- ^ Perubahan iklim (doi.org)
- ^ 14% dari total produk domestik bruto (PDB) nasional (blogs.worldbank.org)
- ^ 7,3 juta hektare (satudata.pertanian.go.id)
- ^ Riset kami (link.springer.com)
- ^ Riset 3 wilayah: Dampak krisis iklim tidak merata, kebijakan mengabaikan kelompok rentan (theconversation.com)
- ^ Indonesia (climateknowledgeportal.worldbank.org)
- ^ BMKG (www.bmkg.go.id)
- ^ Riset (link.springer.com)
- ^ PBB sebut dunia memasuki era kebangkrutan air, tanda-tandanya sudah nyata (theconversation.com)
- ^ menurunkan volume pemupukan urea hingga 13% (kbr.id)
- ^ komoditas jagung (kbr.id)
- ^ Temuan (link.springer.com)
- ^ Secara ekologi (documents.worldbank.org)
- ^ Komoditas rumput laut bernilai puluhan triliun. Gen Z bisa meningkatkan potensinya (theconversation.com)
- ^ 9,5 juta ton (www.pertanian.go.id)
- ^ Badan Pemeriksa Keuangan (www.metrotvnews.com)
- ^ diimpor (www.kabarbursa.com)
- ^ bahan pangan (journal.usimar.ac.id)
- ^ kalem_photo/Shutterstock.com (www.shutterstock.com)
- ^ riset kami (www.sciencedirect.com)
- ^ Gembar-gembor aksi iklim Indonesia berbanding terbalik dengan nasib pahit pekerja informalnya (theconversation.com)
Authors: Salman Samir, Assistant lecturer, Universitas Hasanuddin




