Asian Spectator

Men's Weekly

.

Masa depan padel: Antara gengsi atau turun kelas agar tren ini langgeng

  • Written by Dienni Ruhjatini Sholihah, S.E., M.M./Dosen, UPN Veteran Jakarta

● Padel sedang menjadi tren teratas aktivitas kaum urban sejak beberapa tahun terakhir.

● Padel sudah menjelma sebagai validasi gaya hidup modern pemainnya.

● Tren main padel akan segera memasuki babak baru untuk keberlanjutannya.

Padel memang sedang hype. Berbagai kalangan artis dan influencer berbondong-bondong jadi atlet Padel dadakan.

Tren padel juga tak lagi milik warga kawasan megapolitan Jakarta. Lapangan padel sudah tersedia di kota-kota besar lainnya se-Indonesia. Omzet kotornya telah menyentuh satuan triliun rupiah[1].

Mengapa banyak orang rela merogoh ratusan ribu rupiah per jam hanya untuk memukul bola di balik dinding kaca? Seolah-olah mahalnya tarif justru menjadi bagian dari daya tariknya.

Padahal olahraga semestinya lahir dari minat dan kebutuhan pribadi, bukan dari dorongan tren dan gengsi sosial.

Masa depan padel: Antara gengsi atau turun kelas agar tren ini langgeng
Jumlah club/lapangan padel di Indonesia kian menjamur. Rata-rata satu l club bisa menyediakan 4 arena bermain. Grafis: Andi Ibnu (The Conversation Indonesia)

Layaknya cabang olah raga lainnya, padel membutuhkan komunitas loyal yang benar-benar menganggap olahraga padel sebagai kebutuhan gaya hidupnya. Namun, karena loyalitas ini juga, tren padel bisa berbalik menjadi bencana kegagalan investasi di masa depan.

Agar berkelanjutan, padel tidak bisa hanya bergantung pada hype-nya, tetapi harus berkembang dari tren sesaat menjadi budaya olahraga yang benar-benar mengakar.

Pertanyaannya, apakah tren padel mengarah budaya olahraga yang berkelanjutan, atau sekadar menjadi gelembung ekonomi (economic bubble) yang menunggu waktu untuk pecah?

Sebagai pengajar yang menggeluti bidang manajemen pemasaran dan ekonomi perilaku, saya akan menguraikan jawabannya di sini.

Read more: Bagaimana ‘booming’ tren bersepeda pecah lalu meredup[2]

Validasi yang digiring

Dalam konsep ekonomi pemasaran, ketertarikan orang terhadap padel dapat dijabarkan melalui pendekatan Stimulus-Organism-Response (SOR[3].

Estetika lapangan kaca dan gaya hidup selebritas bertindak sebagai Stimulus (S) yang memantik rasa penasaran eksternal. Stimulus ini kemudian menjadi-jadi akibat Organism (O) melalui dorongan psikologis “takut ketinggalan” atau Fear of Missing Out (FOMO).

Read more: FOMO berpotensi menyeret kelas menengah jatuh ke lubang kemiskinan[4]

Ujung-ujungnya, terpantiklah Response (R) berupa keputusan impulsif untuk menyewa lapangan dengan harga premium.

Selebritas, mulai dari Luna Maya hingga Nagita Slavina, menjadi pemantik yang kuat[5]. Tren ini semakin diperkuat oleh pemasaran konten yang memanfaatkan efek bandwagon (ikut-ikutan) yang memotivasi para pemain padel dadakan[6]. Mereka merasa perlu untuk terlibat demi validasi sosial agar tidak merasa tertinggal.

Padel pun diposisikan sebagai olahraga prestise nan mahal. Alhasil, para pemainnya bak berlomba-lomba mengunggah kegiatan padelnya.

Rutinitas padel kemudian jadi ajang adu mahal peralatan, seperti raket yang harganya jutaan rupiah[7].

Efektivitas pembentukan citra figur “modern dan sukses” melalui kegiatan padel sesuai dengan teori meaning transfer model[8]. Hal inilah yang dimanfaatkan kalangan pebisnis dan pemilik modal untuk merintis bisnis baru seperti lapangan padel.

Ada juga peluang bisnis turunan seperti jasa fotografi olahraga profesional di pinggir lapangan (courtside economy) yang efektif menampung ego para pemain padel.

Padel juga memiliki keunggulan teknis permainan dibandingkan tenis. Padel menawarkan return on time investment (ROTI) yang superior: cepat mahir, sangat sosial, dan sangat “fotogenik”.

Namun, kemudahan akses secara fisik ini kontras dengan strategi pricing (pembentukan harga) yang tajam agar tetap eksklusif.

Alhasil, citra empat pemain yang mengejar bola sambil menghasilkan dentuman ping yang khas dari raket karbon mereka jadi kesatuan validasi tentang gaya hidup elite urban hasil kombinasi estetika, olahraga, dan status sosial[9].

Masuki fase gelembung

Pertumbuhan bisnis padel di Indonesia beberapa tahun terakhir tergolong moncer. Jika tren ini berlanjut, bakal ada 5 ribu arena bermain padel pada 2028 mendatang[10].

Selain sukses memberikan kesan prestise, bisnis padel juga masih relevan dengan hukum ekonomi dasar. Memasuki 2026, tingkat ketersediaan lapangan padel hanya 0,9 hingga 9 lapangan per satu juta penduduk[11]. Ini menandai celah lonjakan permintaan (minat publik) terhadap padel terhadap penawaran (jumlah lapangan) masih sangat lebar.

Kedua faktor inilah yang membuat sebagian masyarakat merasa nrimo untuk membayar harga selangit untuk bermain padel. Indonesia bahkan sudah bergelar sebagai pasar padel paling agresif di Asia Tenggara.

Masa depan padel: Antara gengsi atau turun kelas agar tren ini langgeng
Menimbang Masa Depan Padel. Infografis: Dienni R. Sholihah menggunakan Dreamina AI.

Namun kondisi inilah yang menjadi titik rawan. Investor di Indonesia perlu belajar dari anomali pasar yang sudah terjadi di negara lain.

Di Swedia, misalnya, terdapat lebih dari 100 fasilitas padel terpaksa tutup antara 2022 hingga 2024[12]. Masalah utamanya bukan karena masyarakat berhenti bermain, melainkan jumlah lapangan dan pemainnya tidak seimbang.

Read more: Stigma lari sebagai olah raga yang murah, akankah tinggal kenangan?[13]

Di Indonesia, tren properti 2026[14] di sejumlah kota sedang mengarah pada pembangunan arena padel yang masif. Namun, tren ini juga berisiko terpapar skenario serupa Swedia.

Jika ekspansi tidak dibarengi dengan pertumbuhan komunitas organik, wilayah seperti Jabodetabek sangat rentan menghadapi kejenuhan pasar yang berujung pada penurunan harga sewa hingga 20-30%.

Jebakan eksklusivitas

Fenomena padel bakal berujung paradoks: ia sangat mudah diakses secara fisik, tetapi sengaja dibuat sulit secara biaya. Paradoks ini kerap bernama jebakan eksklusivitas[15].

Pada akhirnya, para operator akan dihadapkan dilema persaingan pasar. Jika mereka panik menghadapi persaingan lalu membanting harga, nuansa eksklusivitas yang selama ini menjadi daya tarik utama bagi kaum elite justru bakal runtuh.

Untuk bertahan, model bisnis padel harus bertransisi dari sekadar menyewakan lapangan (transaksional) menjadi pembangun komunitas (relasional). Lantas, bagaimana caranya?

1.Diferensiasi kualitas dan pengalaman (total sportainment)

Pengelola bisa memadukan lapangan padel dengan olahraga hits lain seperti pickleball di satu lokasi.

Tawarkan pula pengalaman terintegrasi lounge premium yang menarik, dan suasana sosial untuk mendukung terjalinnya interaksi, relasi, dan transaksi.

2.Mitigasi risiko lahan

Pengelola properti perlu memprioritaskan kontrak sewa jangka panjang yang realistis.

Risiko terbesar[16] bukan kurangnya pemain, tetapi rencana bisnis yang cacat akibat biaya lahan/sewa yang tidak realistis. Bahkan saat ini banyak lapangan padel yang bergesekan dengan warga sekitarnya.

3.Fokus komunitas dan legitimasi prestasi

Kelangsungan bisnis padel harus bergeser dari sekadar penyewaan lapangan menjadi pembangunan ekosistem atlet dan komunitas. Para pengelola bisa mempertimbangkan menggelar banyak event kejuaraan bagi pemainnya.

Read more: Zilenial konsumtif karena dorongan keadaan[17]

Pengakuan resmi padel oleh Olympic Council of Asia (OCA[18]) sebagai cabang olahraga di Asian Games menjadi momentum untuk mentransformasi klub menjadi pusat pelatihan atau bahkan pembinaan calon atlet berprestasi.

References

  1. ^ Omzet kotornya telah menyentuh satuan triliun rupiah (www.scribd.com)
  2. ^ Bagaimana ‘booming’ tren bersepeda pecah lalu meredup (theconversation.com)
  3. ^ SOR (doi.org)
  4. ^ FOMO berpotensi menyeret kelas menengah jatuh ke lubang kemiskinan (theconversation.com)
  5. ^ pemantik yang kuat (doi.org)
  6. ^ memotivasi para pemain padel dadakan (doi.org)
  7. ^ raket yang harganya jutaan rupiah (padelracket.id)
  8. ^ meaning transfer model (doi.org)
  9. ^ estetika, olahraga, dan status sosial (doi.org)
  10. ^ 5 ribu arena bermain padel pada 2028 mendatang (www.scribd.com)
  11. ^ 0,9 hingga 9 lapangan per satu juta penduduk (www.scribd.com)
  12. ^ 2022 hingga 2024 (www.cnbcindonesia.com)
  13. ^ Stigma lari sebagai olah raga yang murah, akankah tinggal kenangan? (theconversation.com)
  14. ^ tren properti 2026 (www.cnnindonesia.com)
  15. ^ jebakan eksklusivitas (courses.cit.cornell.edu)
  16. ^ Risiko terbesar (withasa.com)
  17. ^ Zilenial konsumtif karena dorongan keadaan (theconversation.com)
  18. ^ OCA (www.tempo.co)

Authors: Dienni Ruhjatini Sholihah, S.E., M.M./Dosen, UPN Veteran Jakarta

Read more https://theconversation.com/masa-depan-padel-antara-gengsi-atau-turun-kelas-agar-tren-ini-langgeng-276977

Magazine

Diplomasi mendadak Prabowo jadi mediator AS - Iran: Langkah berani atau cari panggung?

(DPN)● Rencana Prabowo mediasi Amerika-Iran memicu keraguan.● Prabowo seakan ingin berperan seimbang untuk bertahan dari tekanan dari luar dan dalam negeri .● Tanpa daya tawar, media...

Masa depan padel: Antara gengsi atau turun kelas agar tren ini langgeng

● Padel sedang menjadi tren teratas aktivitas kaum urban sejak beberapa tahun terakhir.● Padel sudah menjelma sebagai validasi gaya hidup modern pemainnya.● Tren main padel akan sege...

The world’s largest climate finance deal was built to flounder: why funding fails to reach the front-line

Adopted in December 2015, the Paris Agreement commits countries to keeping global temperature rise below 2°C above pre-industrial levels. All 195 signatories set their own plans to meet this share...