Boneka dari rawa gambut: Teater keliling pembawa pesan lingkungan di perdesaan Kalimantan
- Written by Nawung Asmoro Girindraswari, Dosen Sendratasik, Universitas Palangka Raya
● Program Paper Puppet Purun menggunakan boneka berbahan gambut untuk mengenalkan ekologi pada anak-anak di Palangka Raya.
● Pertunjukan dibawa langsung ke sekolah dan ruang publik desa untuk memudahkan akses dan menjamin keberlanjutan.
● Program ini terbukti efektif untuk memberikan pemahaman dasar tentang peran manusia dalam menjaga ekosistem gambut
Pada akhir November 2025, anak-anak TK Darul Istiqomah di Palangka Raya sangat antusias menonton pertunjukan teater boneka kertas.
Di depan mereka, boneka berwarna cokelat alami bergerak menceritakan ekosistem rawa gambut. Boneka itu terbuat dari purun (lepironia articulata)[1], tanaman yang tumbuh subur di kawasan rawa sekitar mereka.
Aktivitas tersebut adalah bagian dari teater keliling Paper Puppet Purun[2], program inovasi seni nusantara (PISN) yang menggabungkan seni pertunjukan dengan pendidikan lingkungan di Kalimantan Tengah.
Pertunjukan teater ini sangat penting karena kebakaran hutan di kawasan rawa gambut Kalteng semakin sering terjadi[3]. Sementara itu, pendidikan lingkungan dari sekolah ataupun pihak lain belum efektif menjangkau masyarakat akar rumput.
Komunitas Borneo Art Play[4] datang dengan pendekatan baru. Mereka membawa pertunjukan langsung ke sekolah dan ruang publik desa, menggunakan boneka berbahan material lokal.
Setelah mengikuti pertunjukan, anak-anak mampu menunjukkan pemahaman dasar tentang peran manusia dalam menjaga ekosistem gambut.
Program teater keliling ini membuktikan bahwa boneka dari gambut efektif sebagai media edukasi lingkungan, dan mampu membangun interaksi positif antara seniman, anak-anak, orang tua, dan masyarakat umum.
Read more: Bagaimana wayang kulit Kedu dapat digunakan untuk pendidikan ekologi?[5]
Menggunakan material lokal
Purun dipilih sebagai material utama produksi boneka karena karakternya yang kuat, mudah dibentuk, ramah lingkungan, dan mencerminkan identitas ekologi lokal.[6]
Boneka purun juga tidak sekadar bahan kerajinan, tetapi simbol ekologi yang membantu masyarakat mengenali hubungan antara material lokal dan pelestarian lingkungan.
Pengolahan purun menjadi kertas dimulai dengan perendaman, penghancuran serat menggunakan blender, pencampuran dengan air, penyaringan, hingga pembentukan lembaran yang kemudian dijemur.[7]
Setelah kertas siap, boneka dari purun dirakit menggunakan lem, stik kayu, dan sambungan engsel sederhana. Karakternya merujuk tema lingkungan dan cerita lokal. Purun berwarna coklat alami, tanpa pewarna tambahan untuk mempertahankan kesan autentik dan tekstur alami.
Mendekat ke audiens
Penelitian tentang pengalaman estetis pada konsep wayang bocah sebagai sarana pendidikan seni tahun 2016[8] menunjukkan bahwa material visual yang dekat dengan pengalaman audiens dapat memperkuat proses imajinasi.
Namun, komunitas Borneo Art Play menghadapi kendala terbatasnya akses masyarakat desa ke tempat-tempat pertunjukan teater[9]. Pementasan juga bergantung pada momentum kolaborasi eksternal sehingga jadwalnya tidak rutin.
Maka sejak 2025, program teater keliling Paper Puppet Purun membalik pendekatan tersebut. Pertunjukan dibawa langsung ke sekolah-sekolah di Desa Bukit Tunggal seperti TK Darul Istiqomah, SDN 5 Bukit Tunggal, dan juga Paviliun Tjilik Riwut[10] yang merupakan cagar budaya sekaligus ruang yang lebih terbuka agar pertunjukan dapat menjangkau semua kalangan.
Setiap pementasan memuat prolog edukasi lingkungan, pertunjukan teater boneka purun, dan dialog antara penonton, orang tua, dan komunitas.
Program ini juga mewujudkan inovasi teknologi seni melalui boks multifungsi yang mengintegrasikan boneka kertas dengan pencahayaan, ruang diorama, dan set cerita bergerak.
Boks portabel ini berfungsi sebagai wadah sekaligus light box untuk pementasan keliling, sehingga pertunjukan dapat dilakukan di berbagai ruang publik tanpa dukungan panggung atau listrik eksternal.
Read more: Pelajaran iklim dari Karampuang, Sulawesi Selatan: Pendidikan adat, ritual, dan kepemimpinan kolektif[11]
Melibatkan komunitas secara langsung
Sebelum program dimulai, komunitas lokal menghadapi beberapa kendala mendasar[12]: rendahnya kemampuan produksi boneka yang berbahan lokal, minimnya keterampilan dokumentasi audiovisual, dan belum optimalnya strategi pemasaran digital.
Karena itu, program teater keliling ini juga mencakup pelatihan sinematografi untuk warga nggota komunitas Borneo Art Play. Tujuannya untuk memperkuat kemampuan dokumentasi mereka melalui teknik kamera, pencahayaan, dan penyuntingan video.
Dalam program ini, anggota juga mempelajari pengambilan gambar teater, proses produksi puppet, serta penyusunan konten visual untuk kampanye edukasi lingkungan.
Mereka pun belajar pemasaran digital, seperti strategi promosi berbasis TikTok yang mencakup penyusunan naskah singkat, teknik konten visual menarik, dan penyusunan kalender unggahan.
Keterampilan ini bisa memperluas distribusi karya komunitas, sekaligus membuka peluang monetisasi digital. Media digital yang dikelola komunitas sendiri memperkuat kemandirian dalam menyebarkan pesan ekologi tanpa bergantung pada pihak eksternal.
Empati yang menjembatani pesan lingkungan
Penelitian tentang empati dalam teater (2019)[13] menunjukkan bahwa penonton tidak hanya mengamati pertunjukan, tetapi juga mengecek memori, perasaan, dan perspektif mereka atas adegan yang terjadi di atas panggung. Teater efektif menyederhanakan isu lingkungan yang kompleks melalui simbol, visual, dan cerita yang mudah dipahami.
Read more: Riset jelaskan mengapa kita bisa merasakan beraneka emosi ketika menonton teater[14]
Tak heran, audiens di tiga lokasi pementasan merespons positif terhadap visualisasi cerita dan pesan ekologis yang dibawakan melalui puppet purun.
Kepala sekolah di TK Islam Darul Istiqomah menyampaikan,
Murid bukan hanya terhibur, tapi juga mulai mengenal bahan lokal seperti purun dan pentingnya menjaga lingkungan sejak dini.
Sementara itu, perwakilan orang tua murid menuturkan,
Pertunjukannya kreatif dan berbeda. Pesan tentang alamnya terasa dekat dengan kehidupan kami sehari-hari.
Hal senada disampaikan oleh seorang siswa SDN 5 Bukit Tunggal yang berkata, “Puppet-nya lucu dan ceritanya seru! Aku jadi tahu kalau purun bisa jadi banyak hal.”
Keberhasilan program menunjukkan bahwa seni pertunjukan dapat menjadi medium strategis untuk mengatasi rendahnya literasi ekologi. Bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai cara baru memahami hubungan antara manusia dan ekosistem yang rapuh.
Pemanfaatan material lokal untuk media seni juga membuka peluang serupa di daerah lain. Yang dibutuhkan adalah pemahaman tentang ekologi lokal, identifikasi material yang tersedia, dan komitmen komunitas untuk menceritakan isu lingkungan dengan bahasa visual yang relevan dengan konteks setempat.
Read more: Prabowo ingin terapkan pendidikan perubahan iklim: Bagaimana cara yang efektif?[15]
References
- ^ purun (lepironia articulata) (ejournal.uin-suska.ac.id)
- ^ Paper Puppet Purun (rri.co.id)
- ^ semakin sering terjadi (www.orangutan.or.id)
- ^ Komunitas Borneo Art Play (www.instagram.com)
- ^ Bagaimana wayang kulit Kedu dapat digunakan untuk pendidikan ekologi? (theconversation.com)
- ^ karakternya yang kuat, mudah dibentuk, ramah lingkungan, dan mencerminkan identitas ekologi lokal. (www.researchgate.net)
- ^ perendaman, penghancuran serat menggunakan blender, pencampuran dengan air, penyaringan, hingga pembentukan lembaran yang kemudian dijemur. (journals.stimsukmamedan.ac.id)
- ^ pendidikan seni tahun 2016 (journal.uny.ac.id)
- ^ terbatasnya akses masyarakat desa ke tempat-tempat pertunjukan teater (garuda.kemdiktisaintek.go.id)
- ^ Paviliun Tjilik Riwut (disparbudpora.palangkaraya.go.id)
- ^ Pelajaran iklim dari Karampuang, Sulawesi Selatan: Pendidikan adat, ritual, dan kepemimpinan kolektif (theconversation.com)
- ^ beberapa kendala mendasar (garuda.kemdiktisaintek.go.id)
- ^ Penelitian tentang empati dalam teater (2019) (jurnalaspikom.org)
- ^ Riset jelaskan mengapa kita bisa merasakan beraneka emosi ketika menonton teater (theconversation.com)
- ^ Prabowo ingin terapkan pendidikan perubahan iklim: Bagaimana cara yang efektif? (theconversation.com)
Authors: Nawung Asmoro Girindraswari, Dosen Sendratasik, Universitas Palangka Raya




