Menelusuri jejak pesut, mamalia air penjaga wilayah pesisir Riau
- Written by Rino Putama, Multimedia Producer, The Conversation
Pernah dengar tentang pesut yang dikenal dengan nama ilmiah Orcaella brevirostris? [1]
Spesies ini kini menjadi perhatian serius para konservasionis karena sudah berstatus terancam punah, lokasi keberadaannya pun masih sulit diketahui.
Di tengah ancaman kepunahan yang kian nyata, sebuah penelitian[2] di Indragiri Hilir, Riau berhasil mengungkap tempat di mana saja hewan ini hidup dan menampakkan diri.
Penelitian ini tidak hanya bersandar pada pengamatan ilmiah semata, tapi juga melibatkan masyarakat lokal melalui pendekatan yang disebut pemetaan partisipatif.[3]
Tim peneliti melakukan pengamatan langsung secara sistematis di beberapa titik pantau sepanjang perairan pantai dan muara sungai. Mereka melibatkan para nelayan tradisional yang setiap hari melaut. Pengetahuan mereka sangat penting memberikan informasi historis dan spasial tentang keberadaan spesies langka yang tidak bisa didapat hanya dari alat atau pengamatan singkat peneliti.
Proses ini menuntut ketelitian tinggi untuk mencatat setiap kemunculan fisik pesut di permukaan air.
Hasil riset ini membuahkan temuan yang signifikan karena berhasil mengidentifikasi area konsentrasi utama yang menjadi habitat aktif Pesut di Indragiri Hilir, Riau.
Menariknya, temuan ini juga menunjukkan adanya korelasi positif antara keberadaan pesut dengan kondisi ekosistem mangrove yang masih terjaga.
Pesut lebih sering ada di tempat yang hutan mangrovenya masih bagus. Artinya, makin sehat mangrove, maka makin besar kemungkinan ada pesut di sana.
Hal ini menegaskan bahwa hutan mangrove bukan sekadar pelindung pantai dari abrasi, melainkan penyokong rantai makanan bagi mamalia air.
Ketersediaan sumber daya ikan yang melimpah di kawasan hutan payau menjadi alasan utama mengapa Pesut wilayah tersebut sebagai area mencari makan.
Read more: Luka gajah Tesso Nilo: Mampukah program restorasi pemerintah memulihkan ekosistem?[4]
Dalam edisi terbaru Ask the Expert[5], kami berbincang dengan Mujiyanto, Peneliti Konservasi Sumber Daya Hayati Laut di Pusat Riset Sistem Biota, Organisasi Riset Hayati dan lingkungan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).[6][7]
Mujiyanto menjelaskan, dengan diketahuinya titik-titik kritis persebaran satwa ini, upaya perlindungan bisa dilakukan secara lebih tepat sasaran.
Dalam hal ini, ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan masyarakat dan NGO setempat.
“Lebih dari 50% kawasan konservasi yang sudah ditetapkan itu (keberhasilannya) tergantung dengan mitra (lokal),” ujar dia.
Khusus di Indragiri Hilir, Mujiyanto melihat salah satu ancaman terbesar bagi pesut ini datang dari masyarakat sendiri, terutama saat musim menangkap ikan datang. Oleh karenanya, ujar dia, edukasi dan kerja sama dengan masyarakat dalam upaya konservasi menjadi hal yang sangat penting.
Tonton video wawancara kami di sini:
Tonton video-video seputar sains menarik lainnya hanya di channel YouTube dan TikTok The Conversation Indonesia, jangan lupa ikuti dan berlangganan sekarang juga!
Klik di sini:
References
- ^ Orcaella brevirostris? (www.worldwildlife.org)
- ^ penelitian (www.researchgate.net)
- ^ pemetaan partisipatif. (wri-indonesia.org)
- ^ Luka gajah Tesso Nilo: Mampukah program restorasi pemerintah memulihkan ekosistem? (theconversation.com)
- ^ Ask the Expert (theconversation.com)
- ^ Mujiyanto (scholar.google.com)
- ^ Organisasi Riset Hayati dan lingkungan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). (brin.go.id)
- ^ YouTube The Conversation Indonesia (www.youtube.com)
- ^ TikTok The Conversation Indonesia (www.tiktok.com)
Authors: Rino Putama, Multimedia Producer, The Conversation
Read more https://theconversation.com/menelusuri-jejak-pesut-mamalia-air-penjaga-wilayah-pesisir-riau-279673




