Gen Z ketika ditanya soal ibadah haji: Minat tapi enggan
- Written by Lusiana Ulfa Hardinawati, Dosen Perilaku Konsumen Muslim, Universitas Jember
● Ibadah haji ke Arab Saudi menjadi salah satu impian besar setiap muslim.
● Minat tersebut tak lekang waktu yang turut dirasakan oleh para Gen Z.
● Tapi mereka juga enggan berangkat Haji karena kurangnya pemahaman terhadap ekonomi shariah.
Haji merupakan salah satu ibadah prioritas ibadah para Muslim yang tercantum dalam lima rukun Islam. Meski diberi keringanan melalui klausul “jika mampu”, banyak muslim yang ingin melaksanakan ibadah ini.
Dorongan berhaji tentunya juga dirasakan oleh Muslim muda Generasi Z (Gen Z). Menariknya, meski minat cukup tinggi, para kawula muda ini juga enggan untuk merealisasikannya.
Persoalan naik haji bagi mereka ada pada biaya dan waktu tunggu. Namun sebenarnya, ada faktor yang tidak kalah penting, yakni kurangnya pemahaman terhadap faktor-faktor teknis dalam Haji.
Lika-liku pendaftaran haji reguler di Indonesia tidak sederhana. Pertama-tama untuk memperoleh nomor porsi haji reguler, wajib membayar biaya pendaftaran awal sebesar Rp25 juta, kemudian melalui masa tunggu hingga 20 tahun. Setelah mendapat informasi keberangkatan, maka biaya perjalanan ibadah haji (BIPIH) harus segera dilunasi.
Pada 2026, biaya haji di Indonesia sebesar Rp54,19 juta[2]. Meskipun pemerintah berencana menyeragamkan masa tunggu[3], tetap saja akan sulit menunaikan haji tanpa perencanaan keuangan yang matang.
Penelitian terbaru kami menemukan adanya persoalan yang bukan sekadar soal uang dan kesiapan finansial[4], melainkan juga minimnya literasi keuangan syariah, pola pikir, dan cara generasi muda berinteraksi dengan sistem keuangan modern. Ini membuat cita-cita kaum muda pergi ke Tanah Suci berujung menjadi impian belaka.
Read more: Perbankan syariah kurang dilirik karena hanya mengandalkan jargon antiriba semata[5]
Niatan terhalang ketidakpahaman
Gen Z sejatinya merupakan generasi yang tumbuh di era digital dan memiliki akses luas terhadap informasi. Mengakses berbagai informasi program tabungan haji[6] yang ditawarkan perbankan bukanlah isu fundamental buat mereka.
Menurut riset[7] kami, yang dilakukan tahun lalu, ada gap cukup tajam antara akses informasi dan pemahaman Gen Z terkait keuangan syariah dan perencanaan haji. Meskipun mereka digital-native, tingkat literasi awal hanya sekitar 60%, tapi dapat melonjak signifikan menjadi 88% setelah intervensi edukasi berbasis FGD.
Hasilnya[8], meskipun memiliki niat berangkat ke Tanah Suci, pemahaman para Gen Z cukup lemah terhadap total biaya haji, strategi menabung jangka panjang, dan instrumen keuangan syariah.
Gap pemahaman ini sebenarnya selaras dengan survei 2022[9]: hanya 26% masyarakat memahami proses haji secara komprehensif. Sementara 69% di antaranya akan mendaftar jika memiliki dana. Ini menunjukkan adanya kesenjangan besar antara niat dan kesiapan.
Pun, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK)[10] menunjukkan literasi keuangan syariah di Indonesia masih sangat rendah, hanya sekitar 9,14%, jauh di bawah literasi keuangan konvensional yang mencapai hampir 50%.
Read more: Bukan salah agama: Korupsi berulang di Kementerian Agama adalah akibat lemahnya tata kelola institusi[11]
Tak heran untuk istilah umum dan mendasar[12] seperti riba (bunga), gharar (spekulasi), dan zakat banyak yang kurang memahami esensialnya.
Padahal ibadah haji bisa menjadi objek konsumsi prioritas para Gen Z yang suka mengkedepankan konsumsi pengalaman dan layak dijadikan self reward[13].
Tantangan pembenahan
Pembenahan dengan peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah bisa diperkuat dengan pendekatan digital. Sebagai generasi mahir teknologi, Gen Z sangat akrab dengan aplikasi dan teknologi. Sayangnya, pemanfaatan teknologi untuk perencanaan keuangan syariah (termasuk haji) masih belum optimal.
Padahal, digitalisasi telah membawa perubahan signifikan tentang cara generasi ini berinteraksi dengan produk dan layanan keuangan syariah, karena menciptakan pengalaman yang lebih efisien dan relevan bagi Gen Z[14].
Karena itu, digitalisasi produk keuangan yang seperti tabungan haji bisa jadi salah satu faktor penentu[15] untuk membantu meningkatkan realisasi keputusan berhaji pada Gen Z.
Hipotesis tersebut telah dibuktikan melalui Teori Technology Acceptance Model (TAM) bahwa adopsi teknologi dipengaruhi oleh persepsi kemudahan dan manfaat.
Namun, dalam konteks teknologi finansial (fintek) syariah, faktor religiusitas dan kesadaran akan prinsip halal-haram mungkin menjadi pertimbangan yang lebih dominan.
Temuan ini juga sejalan dengan lansiran OJK[16] perihal rendahnya minat Gen Z disebabkan kurangnya sosialisasi dan promosi.
Implikasinya, industri fintek perlu turut berfokus agar fitur dan layanan yang ditawarkan selaras dengan prinsip syariah serta mudah dipahami oleh generasi muda.
Lebih jauh, riset[17] lain juga menunjukkan tuntutan adanya visualisasi data dan alat interaktif yang sesuai preferensi para Gen Z.
Read more: Kasus dugaan ‘fraud’ Dana Syariah Indonesia coreng reputasi keuangan syariah nasional[18]
Meningkatkan realisasi minat para Gen Z
Namun, yang perlu menjadi catatan adalah kemajuan digitalisasi tetap harus beriringan dengan peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah nasional[19]. Para Gen Z dihadapkan pada ketidakmampuan belajar, tetapi pada kurangnya akses terhadap edukasi yang relevan dan kontekstual terkait finansial islami.
Masalah rendahnya kemauan dan kesiapan finansial haji para Gen Z[20] menuntut pendekatan sistemik yang mengintegrasikan pendidikan, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor.
Literasi keuangan syariah perlu diajarkan secara kontekstual sebagai praktik hidup sehari-hari, bukan sekadar teori. Sebab, itu terbukti berpengaruh langsung terhadap perilaku dan keputusan keuangan individu.
Tujuan ini[21] bisa dicapai dengan penguatan kolaborasi antara lembaga pendidikan, industri keuangan syariah, dan pemerintah. Contohnya bisa berupa peningkatan edukasi, promo, dan penguatan infrastruktur digital yang merata.
Dengan jumlah populasi yang lebih dari 74 juta orang[22], Gen Z Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi syariah nasional lain yang selama ini kurang tergarap dan tidak boleh untuk dilewatkan begitu saja.
References
- ^ wisnupriyono/Shutterstock (www.shutterstock.com)
- ^ Rp54,19 juta (bpkh.go.id)
- ^ masa tunggu (www.tempo.co)
- ^ sekadar soal uang dan kesiapan finansial (proceeding.uinmataram.ac.id)
- ^ Perbankan syariah kurang dilirik karena hanya mengandalkan jargon antiriba semata (theconversation.com)
- ^ program tabungan haji (www.bankbsi.co.id)
- ^ riset (proceeding.uinmataram.ac.id)
- ^ Hasilnya (proceeding.uinmataram.ac.id)
- ^ survei 2022 (perbanas.id)
- ^ Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (www.neraca.co.id)
- ^ Bukan salah agama: Korupsi berulang di Kementerian Agama adalah akibat lemahnya tata kelola institusi (theconversation.com)
- ^ istilah umum dan mendasar (journal.nurscienceinstitute.id)
- ^ self reward (theconversation.com)
- ^ lebih efisien dan relevan bagi Gen Z (doi.org)
- ^ salah satu faktor penentu (www.researchgate.net)
- ^ lansiran OJK (ojk.go.id)
- ^ riset (journals.sagepub.com)
- ^ Kasus dugaan ‘fraud’ Dana Syariah Indonesia coreng reputasi keuangan syariah nasional (theconversation.com)
- ^ literasi dan inklusi keuangan syariah nasional (jurnal.unsur.ac.id)
- ^ kemauan dan kesiapan finansial haji para Gen Z (jurnal.unsur.ac.id)
- ^ Tujuan ini (journal.sinov.id)
- ^ 74 juta orang (www.liputan6.com)
- ^ Publik mulai skeptis terhadap label halal (theconversation.com)
Authors: Lusiana Ulfa Hardinawati, Dosen Perilaku Konsumen Muslim, Universitas Jember
Read more https://theconversation.com/gen-z-ketika-ditanya-soal-ibadah-haji-minat-tapi-enggan-281507



