Bisik terakhir gumuk pasir Kebumen, terancam lenyap oleh proyek tambak udang
- Written by Nurul Aldha Mauliddina Siregar, Peneliti Ahli Muda, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
● Gumuk pasir Kebumen terancam ekspansi tambak udang yang merusak bentuk serta fungsi alaminya.
● Padahal nilai ekonomi gumuk pasir lebih tinggi dan berkelanjutan dibanding tambak udang.
● Kerusakan gumuk pasir juga menimbulkan biaya lingkungan sangat besar.
Di pesisir selatan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, ada bentang alam menarik dan juga langka di dunia, yakni gumuk pasir. Gumuk adalah gundukan pasir seperti bukit yang terbentuk oleh angin[1].
Gumuk pasir yang terbentuk di Kebumen bahkan lebih langka lagi. Gumuk berjenis barchan ini berbentuk sabit, yang hanya ada dua di dunia: Indonesia dan Meksiko[2].
Fenomena gumuk pasir biasanya hanya ditemukan di wilayah gurun kering. Namun, di Indonesia yang beriklim tropis[3], gumuk pasir bisa terbentuk di beberapa wilayah karena angin musiman kuat. Kawasan ini diakui secara internasional sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark.
Sayangnya bukan dijaga kelestariannya, situs berharga ini kini justru tengah menghadapi ancaman besar. Salah satu tekanan terbesar datang dari ekspansi tambak udang[4] yang semakin meluas.
Riset tahun 2023[5] menunjukkan bahwa gumuk pasir di Kecamatan Petanahan, Kebumen, misalnya, mengalami penurunan luas signifikan. Penurunan gumuk pasir berkisar 43,81% dalam rentang waktu enam tahun (2015 - 2021) seiring pesatnya peningkatan ekspansi tambak udang hingga 84,22% dalam periode yang sama.
Kehadiran Proyek Strategis Nasional (PSN) shrimp estate sejak 2021, di lahan seluas 100 hektare[6] semakin mempercepat degradasi ekosistem[7] gumuk pasir.
Nilai ekonomi gumuk pasir vs tambak udang
Jika memakai kacamata ekonomi, nilai ekonomi gumuk pasir lebih tinggi dan berkelanjutan ketimbang dengan tambak udang.
Sebuah studi (2017)[8] di Parangtritis, Yogyakarta, menghitung bahwa gumuk pasir sebagai destinasi wisata memiliki nilai manfaat ekonomi yang sangat besar, mencapai kurang lebih Rp3,82 miliar per tahun.
Nilai ini terdiri dari manfaat gumuk pasir sebagai tempat wisata, tempat penghasil kayu bakar, hingga tempat penghasil pakan ternak.
Di sisi lain, tambak udang di Parangtritis tercatat menghasilkan sekitar Rp99 juta per hektare per tahun. Ini jauh lebih rendah dibandingkan nilai ekonomi gumuk pasir yang mencapai Rp124 juta per hektare per tahun.
Artinya, dalam hal nilai ekonomi, gumuk pasir bisa lebih menguntungkan daripada tambak udang jika potensinya dioptimalkan. Di samping itu, gumuk pasir juga memiliki jasa lingkungan yang sangat besar.
Read more: Model baru restorasi agar tambak udang bisa berdampingan dengan pemulihan mangrove[10]
Biaya lingkungan akibat hilangnya gumuk pasir
Gumuk pasir di Kebumen memiliki nilai ekologis yang sangat penting. Ia merupakan habitat[11] bagi berbagai spesies seperti Penyu Lekang[12] atau Lepidochelys olivacea.
Gumuk juga berfungsi sebagai penahan angin dan pelindung ekosistem pesisir dari abrasi pantai[13].
Perubahan morfologi (bentuk bentang alam) yang terjadi akibat perluasan tambak udang tidak hanya mengurangi luas gumuk pasir, tetapi juga merusak karakteristik alami[14] gumuk pasir. Misalnya, perataan bukit pasir menghilangkan fungsinya sebagai pelindung alami pesisir[15].
Kondisi ini bakal memperburuk dampak erosi dan abrasi yang mungkin terjadi dalam jangka panjang, mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir Kebumen[16].
Ketika gumuk pasir hilang, biaya untuk mengganti atau merestorasi fungsinya akan sangat besar.
Penelitian (2012)[17] yang dilakukan di Galveston, Texas, menunjukkan bahwa biaya restorasi gumuk pasir bisa mencapai US$77,393 atau sekitar Rp1,24 miliar per hektare untuk penanaman vegetasi asli, pengendalian erosi, hingga pemeliharaan lanskap.
Meninjau ulang arah pembangunan pesisir kita
Keberadaan gumuk pasir di Kebumen menjadi contoh nyata dari pilihan pembangunan yang harus dihadapi.
Di satu sisi, industri tambak udang mungkin tampak menawarkan keuntungan cepat.
Namun, di sisi lain, gumuk pasir yang telah terbentuk selama berabad-abad menyimpan potensi ekonomi yang lebih besar dan lebih berkelanjutan, terutama dalam sektor pariwisata dan konservasi.
Jika gumuk pasir terus menghilang tanpa adanya kebijakan yang lebih berimbang dan tegas, kita akan kehilangan lebih dari sekadar pemandangan alam—jasa lingkungan yang luar biasa pentingnya, potensi ekonomi jangka panjang, serta keanekaragaman hayati yang tak ternilai harganya.
Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah meninjau kembali arah pembangunan pesisir. Pertimbangkan keberlanjutan dan nilai jangka panjang atas keberadaan gumuk pasir, daripada hanya mengejar keuntungan ekonomi sesaat yang dapat merusak warisan alam ini selamanya.
References
- ^ angin (www.researchgate.net)
- ^ Indonesia dan Meksiko (www.researchgate.net)
- ^ tropis (link.springer.com)
- ^ ekspansi tambak udang (jaring.id)
- ^ Riset tahun 2023 (jurnal.uns.ac.id)
- ^ 100 hektare (jaring.id)
- ^ ekosistem (pulitzercenter.org)
- ^ Sebuah studi (2017) (media.neliti.com)
- ^ shutterstock (www.shutterstock.com)
- ^ Model baru restorasi agar tambak udang bisa berdampingan dengan pemulihan mangrove (theconversation.com)
- ^ habitat (en.wikipedia.org)
- ^ Penyu Lekang (jurnal.kebumenkab.go.id)
- ^ dari abrasi pantai (jurnal.uns.ac.id)
- ^ merusak karakteristik alami (jurnal.uns.ac.id)
- ^ alami pesisir (www.researchgate.net)
- ^ Kebumen (jurnal.uns.ac.id)
- ^ Penelitian (2012) (link.springer.com)
- ^ shutterstock (www.shutterstock.com)
Authors: Nurul Aldha Mauliddina Siregar, Peneliti Ahli Muda, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)



