Asian Spectator

Men's Weekly

.

RKUHP: celaka bagi pejuang lingkungan, 'angin surga' buat korporasi

  • Written by Robby Irfany Maqoma, Editor Lingkungan
RKUHP: celaka bagi pejuang lingkungan, 'angin surga' buat korporasi

Sejak awal tahun lalu, pemerintah bersama DPR berencana mengebut pembahasan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP)[1]. Buku induk aturan pidana Indonesia ini awalnya akan disahkan pada bulan ini, tapi tertunda[2] karena DPR masih menunggu masukan-masukan publik.

Sejak 2019 lalu, draf RKUHP memancing protes besar-besaran[3] dari beragam kelompok masyarakat.

Selain memuat pasal-pasal yang memperkeruh iklim demokrasi Indonesia, draf ini juga diprediksi mengerdilkan hak warga untuk berjuang untuk lingkungannya (misalnya menolak aktivitas pertambangan) melalui ancaman kriminalisasi.

Sejumlah organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Nasional Reformasi KUHP pun mendesak pemerintah dan DPR membuka partisipasi yang bermakna[4] – tidak sekadar seremonial dalam perumusan RKUHP.

Dalam episode SuarAkademia kali ini, kami berbincang dengan Direktur Indonesian Centre for Environmental Law (ICEL), Raynaldo Sembiring. Menurut dia, RKUHP bukan hanya melemahkan perjuangan warga untuk kelestarian lingkungan, tapi juga menggerus ancaman sanksi bagi korporasi yang melakukan kejahatan lingkungan.

Selain dua hal tersebut, Raynaldo juga menuturkan beragam risiko kemunduran hukum lingkungan jika RKUHP disahkan, imunitas pejuang lingkungan, hingga aturan pidana lingkungan yang ideal di tengah perubahan iklim.

Simak perbincangan selengkapnya di SuarAkademia - ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.

References

  1. ^ mengebut pembahasan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) (www.cnnindonesia.com)
  2. ^ tapi tertunda (nasional.tempo.co)
  3. ^ protes besar-besaran (www.cnnindonesia.com)
  4. ^ partisipasi yang bermakna (www.voaindonesia.com)

Authors: Robby Irfany Maqoma, Editor Lingkungan

Read more https://theconversation.com/rkuhp-celaka-bagi-pejuang-lingkungan-angin-surga-buat-korporasi-187026

Magazine

Tanaman obat Alor: Warisan tradisi lisan dan sains lokal

● Dokumentasi linguistik dan etnobotani dapat digunakan untuk melestarikan pengetahuan kuno tanaman obat di Kepulauan Alor-Pantar.● Tanaman bukan sekadar obat harian, melainkan elemen sakr...

Menghapus pilkada langsung: Mengamati pola berulang elite politik melawan kehendak rakyat

Poster warga dalam aksi menolak RUU Pilkada di Jakarta, Agustus 2024.(Donny Hery/Shutterstock)● Wacana pemilihan kepala daerah oleh DPRD kembali menguat sebagai pola berulang elite politik.χ...

‘Polyworking’: Ketika 1 pekerjaan tak lagi cukup

● Kenaikan harga kebutuhan setiap tahun memaksa banyak orang mencari pekerjaan tambahan.● Pekerjaan tambahan yang dimaksud tidak hanya sampingan, tapi dilakukan dengan intensitas yang hamp...