Asian Spectator

.
Business Advice

.

Isu konservasi hiu tikus di Alor, NTT terpilih sebagai juara kompetisi video lingkungan TCID

  • Written by Rina Aprilia, Project Officer
Isu konservasi hiu tikus di Alor, NTT terpilih sebagai juara kompetisi video lingkungan TCID

Kompetisi Video Lingkungan yang diadakan oleh The Conversation Indonesia telah resmi berakhir pada 14 Februari 2023. Dalam kompetisi yang berlangsung selama lima bulan ini, video berjudul “Mencari Titik Temu: Konservasi dan Ekonomi” mengenai tantangan konservasi Hiu Tikur karya praktisi konservasi Badra Jultouriq Rahman berhasil keluar sebagai juara pertama.

“Saya sangka tidak akan menang, rasanya sangat deg-degan. Terima kasih kepada para mentor. Kebetulan saya bekerja di konservasi, sehingga saya mengangkat isu dari apa yang saya jalani dan saya lihat. Saya paham isu tersebut, tapi tidak menyangka akan menang. Saya sampai dua hari ikut nelayan berlayar untuk membuat video ini. Pengalaman yang luar biasa bisa ikut kompetisi ini,” kata Badra.

Tim Ndadax Production beranggotakan mahasiswa-mahasiswa Departemen Politik dan Pemerintahan, FISIPOL, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta memenangkan juara dua dengan video “Nyala Api Kotoran Sapi”.

“Kami kaget sekali. Kami banyak bertanya saat workshop, mencoba bagaimana menerjemahkan dan menyederhanakan data-data yang sulit karena biogas ini masih jarang terekspos di luar sana. Kami jadi banyak belajar dari dosen yang kebetulan bertemu karena mengikuti lomba ini dan mendapat banyak saran dari beliau. Intinya, kami akan tetap belajar terus dan fokus pada pesan yang ingin disampaikan,” tutur Kriswinara, perwakilan Ndadax Production.

Selain Badra Jultouriq dan Ndadax Production, AVA Team sekelompok pelajar dan mahasiswi dari Tangerang Selatan memenangkan juara tiga Kompetisi Video Lingkungan The Conversation Indonesia dengan video “Jerubu”.

“Para mentor membantu kami saat kesulitan mencari narasumber dan menghadapi sejumlah kendala teknis. Kami juga dibantu Pak Rukuh, salah satu pengisi materi workshop, yang berkat beliau, kami akhirnya mendapat narasumber yang sesuai dengan topik yang kami angkat,” kata Valen Agany dari AVA Team.

The Conversation Indonesia menyelenggarakan Kompetisi Video Lingkungan untuk mendorong keterlibatan anak muda dalam diskusi publik terkait lingkungan dan perubahan iklim. Kami menerima 89 pendaftar pada masa registrasi yang dibuka 2 September – 15 Oktober 2022. Dari puluhan video submission tersebut, The Conversation Indonesia bekerja sama dengan Watchdoc menyeleksi sepuluh tim finalis yang berhak mengikuti pelatihan dan pendalaman materi bersama para pakar.

Bersama Watchdoc dan Universitas Multimedia Nusantara, kami menyediakan para finalis delapan sesi workshop pengembangan kapasitas selama November hingga Desember 2022 dengan materi komunikasi sains, pendalaman isu lingkungan di pesisir dan perkotaan, mobile journalism, dan pembuatan film dokumenter secara daring.

Panel juri menentukan kemenangan Badra, Ndadax Production, dan AVA Team berdasarkan tiga komponen penilaian: video submission yang menjadi proposal awal peserta, penugasan mingguan, dan video revisi yang dihasilkan oleh para finalis.

Dalam setiap poin penilaian, tim juri mempertimbangkan substansi video, kedalaman riset, kreativitas, hingga teknik videografi finalis.

“Di awal kompetisi, tim kami memberikan masukan tentang kesalahan umum dari teman-teman pemula. Setelah proses workshops dan berbagai masukan itu, kami melihat para peserta sangat antusias dan banyak yang berupaya mempraktikkan hal-hal baru yang didapat dari pelatihan. Peserta terlihat mengeksplorasi ulang dan mendalami lagi tema yang dipilih, sehingga ketika kita melihat video revisi maka sangat terlihat jelas perbedaanya dan karya peserta ini telah mengalami banyak kemajuan,” ungkap Ari Trismana, salah satu mentor dalam kompetisi ini.

“Saya surprised dari video submission finalis ke ke video revisi terakhir ini sangat jauh sekali. Dilihat dari sisi substansi di video submission, merasa peserta ini, tuh, mau ngomong apa atau isu apa yang mau diangkat, sih? Tapi, setelah saya lihat video after-nya, ternyata sangat berbeda. Misal, storyline-nya sudah dapat, dan adanya wawancara para pakar di video juga meningkatkan kredibilitas karya yang dihasilkan peserta,” kata Yosmina Tapilatu, salah satu juri Kompetisi Video Lingkungan The Conversation Indonesia.

Selama masa turun lapangan, kami juga memberikan tugas mingguan digital activity untuk memantau perkembangan finalis. Tugas ini berupa video pendek berformat horizontal dan berdurasi kurang dari 90 detik dengan topik tertentu, seperti behind the scene liputan, teaser video, hingga cuplikan wawancara. Konten media sosial ini bertujuan untuk mempromosikan video yang sedang dibuat oleh para finalis, sekaligus juga untuk menarik perhatian anak-anak muda terhadap isu lingkungan yang sedang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Selama 7 minggu, tugas para finalis ini diunggah ulang oleh akun media sosial @conversationidn setiap hari Senin dan berhasil meraup lebih dari 37.389 engagements.

“Saat ini, sosial media merupakan platform yang paling murah dan paling mudah untuk mempromosikan kegiatan. Promosi lewat sosmed bisa dikatakan nol rupiah. Meski, kuncinya gampang-gampang susah, yaitu konsistensi dan manajemen waktu yang baik,” ungkap Viera Rachmawati, Social Media and Community Specialist The Conversation Indonesia. Dalam penugasan digital activity, Tim Ndadax Production memperoleh peringkat teratas dengan lebih dari 6.125 engagements.

Video pemenang Kompetisi Video Lingkungan The Conversation Indonesia.

Pemenang Juara Pertama: Badra Jultouriq Rahman dengan video “Mencari Titik Temu: Konservasi dan Ekonomi”

Badra merupakan lulusan jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran yang saat ini bekerja sebagai Education and Outreach Officer di Thresher Shark Indonesia, sebuah organisasi yang fokus pada konservasi hiu tikus berbasis masyarakat.

Video Mencari Titik Temu: Konservasi dan Ekonomi yang dibuat Badra menghadirkan cerita mengenai kehidupan masyarakat pesisir di Alor, Nusa Tenggara Timur. Sejak 60 tahun lalu, masyarakat di Desa Lewalu dan Ampera, Alor, Nusa Tenggara Timur menangkap hiu tikus sebagai salah satu sumber mata pencaharian utama. Mereka percaya, sirip hiu merupakan salah satu sumber protein tinggi dan dapat digunakan sebagai obat. Berawal dari tangkapan tidak sengaja (bycatch) ini, hiu tikus menjadi salah satu tangkapan utama nelayan dan berlangsung selama puluhan tahun. Hampir 82% hiu tikus yang tertangkap adalah betina dan dalam kondisi hamil, sehingga kondisi ini lambat laun menyebabkan populasi hiu tikus di Alor menjadi turun drastis. Pemerintah setempat dan lembaga swadaya masyarakat di Alor berusaha menyelamatkan populasi hiu tikus dengan membuat aturan penangkapan dan pelatihan bagi para nelayan agar memiliki keahlian lain. Kelestarian hiu tikus di Alor menjadi perhatian khusus karena dapat menjaga keseimbangan ekosistem laut, serta menjadi daya tarik wisata yang dapat berkontribusi pada meningkatnya pendapatan daerah dan masyarakat di Alor.

Nyala Api Kotoran Sapi - Pemenang 2 Kompetisi Video Lingkungan The Conversation Indonesia.

Pemenang Juara Dua: Ndadax Production dengan video “Nyala Api Kotoran Sapi”.

Tim Ndadax Production terdiri dari Nicolas Kriwinara Astanujati, Mahardhika Ageng Kartiko, dan Faris Rubiansyah. Ketiganya merupakan mahasiswa Departemen Politik dan Pemerintahan, FISIPOL, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Nyala Api Kotoran Sapi bercerita tentang urgensi penggunaan energi alternatif dan berkelanjutan yang telah menjadi milik semua lapisan. Video ini mengangkat kisah sejumlah warga Balong Wetan, Dusun Plosorejo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta yang menerapkan Biogas sebagai energi alternatif dan upaya melepas ketergantungan terhadap gas LPG. Sebagai energi murah dan berkelanjutan, Biogas memiliki potensi yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat di tengah situasi saat ini yang berhadapan dengan ancaman kelangkaan energi dan perubahan iklim.

Jerubu - Pemenang 3 Kompetisi Video Lingkungan The Conversation Indonesia.

Pemenang Juara Tiga: AVA team dengan video “Jerubu”.

AVA Team yang terdiri dari Alifah Amelia, mahasiswi jurusan Manajemen Bisnis Universitas Muhammadiyah Jakarta, Valen Agany, mahasiswi jurusan Mass Communication BINUS University, dan Alya Aina, siswi jurusan Multimedia SMK Kartika X-2 Jakarta.

Video berjudul Jerubu karya AVA Team mengangkat pengelolaan sampah di Tangerang Selatan. Meskipun Tangerang Selatan telah memiliki Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan No.13 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan PP No.81 tahun 2012 tentang pengelolaan sampah rumah tangga, penelusuran AVA Team di lapangan mengungkapkan bahwa pengolahan dan pengelolaan sampah di kawasan tersebut ternyata masih belum berjalan secara efektif. Sampah yang tidak diolah sebagaimana mestinya tidak hanya mengganggu estetika dan kebersihan lingkungan, namun juga berdampak pada polusi dan emisi karbon di wilayah Tangerang Selatan.

Para juri di balik kompetisi video

Tim The Conversation Indonesia yang terlibat dalam seleksi dan penilaian adalah Rina Aprilia (project officer), Robby Maqoma (editor lingkungan), Anggi M. Lubis (editor bisnis dan ekonomi), Syahrino Putama (multimedia producer), serta Viera Rachmawati (social media specialist). Selain itu, kami juga dibantu oleh sejumlah pakar, akademisi, dan profesional sebagai juri. Yaitu:

Ari Trismana, produser senior di Watchdoc Documentary yang telah berkarir di bidang jurnalistik dan pembuatan film dokumenter selama belasan tahun. Ia memproduksi puluhan karya, seperti film Kesetrum Listrik Negara, Yang Ke7ujuh, dan Lembu Yang Hilang. Selama sesi workshop dan penjurian, Ari juga berkoordinasi dengan tim Watchdoc yang terdiri dari Muhammad Sridipo, Eddy Purwanto, Harry Maulana, dan Fandhy Bagus Alwianto.

Kunto Bimaji, Kasubdit Lingkungan Hidup, Ditjen Bina Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri RI. Yosmina Tapilatu, peneliti ahli madya Badan Riset dan Inovasi Nasional. Ia mendapatkan gelar doktor dari Universite Aix-Marseille II (sekarang Aix-Marseille University), Prancis. Riset-risetnya berfokus pada kajian ekologi kelautan dan studi laut dalam.

Ni Kadek Dita Cahyani, dosen Departemen Biologi Universitas Diponegoro, Semarang. Ia merupakan doktor dari University of California, Los Angeles, Amerika Serikat dan ahli dalam mengidentifikasi spesies dan menilai keanekaragaman hayati dengan pendekatan genetika dan molekuler.

Samiaji Bintang Nusantara, saat ini menjabat sebagai Kaprodi Digital Journalism Universitas Multimedia Nusantara. Sebelumnya, Bintang bekerja di bidang jurnalistik selama hampir 15 tahun dan pernah mendapatkan sejumlah penghargaan dan fellowship dari beberapa lembaga dan organisasi, seperti Mochtar Lubis Award, Kementerian Hukum dan HAM, United Nations for Development Program (UNDP), dan International Center for Journalist (ICFJ).

Seluruh karya finalis dapat ditonton di kanal Youtube The Conversation Indonesia dan karya para juara juga telah dipublikasikan di kanal Youtube Watchdoc Documentary[1][2]

Authors: Rina Aprilia, Project Officer

Read more https://theconversation.com/isu-konservasi-hiu-tikus-di-alor-ntt-terpilih-sebagai-juara-kompetisi-video-lingkungan-tcid-200286

Magazine

Kerentanan virtual: bagaimana mengatasi ancaman AI terkait pelecehan seksual anak?

Ilustrasi kekerasan pada anak.Ground Picture/ShutterstockMateri pelecehan seksual, khususnya yang berkaitan dengan anak (child sexual abuse material/CSAM), merupakan salah satu aspek paling mengerikan...

Anak keluarga mapan bisa terkena ‘stunting’, mengapa demikian?

polkadot_photo/ShutterstockPemerintah Indonesia telah menerapkan berbagai upaya dari tingkat pusat sampai level akar rumput demi menurunkan level stunting ke angka 14% tahun ini. Namun, hal tersebut s...

Tabungan masyarakat menurun, tren belanja naik. Haruskah kita khawatir?

dimas992/ShutterstockPada Maret-April lalu, yakni saat selama Ramadan, aktivitas konsumsi masyarakat meningkat. Periode ini memang menjadi momen kunci tahunan ketika keinginan masyarakat Indonesia unt...



NewsServices.com

Content & Technology Connecting Global Audiences

More Information - Less Opinion