Apakah teknologi AI netral atau sarat nilai? Jawabannya akan memengaruhi arah kebijakan AI
- Written by Arif Perdana, Associate Professor Digital Strategy and Data Science, Monash University
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI)) mengundang banyak perdebatan. Kontroversi yang muncul di baliknya, terutama terkait masalah etika[1], memunculkan urgensi regulasi dan aturan untuk mengantisipasi penyalahgunaan teknologi yang merugikan masyarakat.
Ada dua perspektif yang berbeda terkait arah kebijakan AI. Perspektif pertama menyatakan bahwa teknologi itu netral. Sedangkan yang kedua berpendapat bahwa teknologi itu sarat nilai.
Kedua hal tersebut merupakan bagian dari perdebatan filosofis terkait teknologi yang masih menjadi diskursus akademis hingga kini[2].
Saat ini, kedua perspektif ini memandu para pembuat kebijakan di berbagai negara untuk mengatasi permasalahan etika, manajemen risiko[3] dan dampak sosial[4] dari pengunaan teknologi AI.
Sebelum itu, mari kita pahami latar belakang dua perspektif ini.
Netral atau tidak
Sejak ditemukannya roda hingga perkembangan AI saat ini, teknologi selalu berada di garis depan perubahan manusia. Sedangkan, netralitas adalah posisi yang bebas dari nilai atau pilihan.
Dalam diskursus filsafat teknologi, masalah mengenai apakah teknologi bersifat netral telah menjadi topik perdebatan yang luas dan berkelanjutan [5].
Apabila kita berbicara tentang teknologi yang netral, kita merujuk pada teknologi yang tidak memiliki kecenderungan atau perbedaan nilai dalam penggunaannya[6], baik itu untuk tujuan yang baik maupun yang buruk.
Wacana yang menganggap bahwa teknologi itu netral berangkat dari teori yang menganggap teknologi itu bebas-nilai[7]. Argumen ini didukung oleh Andreas Spahn[8] - Profesor Etika dan Filsafat dari Eindhoven University of Technology, Belanda; Joseph C. Pitt[9] - Profesor Filsafat dari Virginia Tech, Amerika Serikat; dan Martin Peterson[10] - Profesor Filsafat dari Texas A&M University, Amerika Serikat.
Dalam konteks teori bebas-nilai, komputer, misalnya bisa dilihat sebagai alat yang bisa digunakan untuk berbagai tujuan, baik atau buruk, tergantung pada penggunaannya.
Contoh penggunaan positif, komputer dapat digunakan oleh peneliti untuk menganalisis data yang kompleks dan menemukan hal baru yang bisa meningkatkan kesejahteraan manusia. Sebaliknya, komputer juga dapat digunakan secara negatif oleh peretas untuk mencuri informasi dan melakukan kejahatan siber.
Sementara itu, kubu lainnya yang beranggapan bahwa teknologi itu tidak netral percaya bahwa teknologi itu sarat-nilai[11]
Teori sarat-nilai menantang asumsi netralitas di atas. Para ilmuwan teori ini meyakini bahwa teknologi adalah produk dari nilai dan asumsi manusia.
Argumen ini didukung oleh ilmuwan seperti Ibo van de Poel[12] - Profesor Etika dari Delft University of Technology, Belanda; Peter-Paul Verbeek[13] - Profesor Etika dan Filsafat Sains dan Teknologi dari University of Amsterdam, Belanda; dan Peter Kroes[14], Profesor Filsafat dan Teknologi dari Delft University of Technology, Belanda.
Dalam perspektif ini, komputer, dalam desain dan fungsionalitasnya, sudah mengandung nilai dan asumsi tertentu.
Misalnya, antarmuka pengguna yang user-friendly mengandung asumsi bahwa komputer harus mudah digunakan oleh semua orang. Namun, desain ini mungkin tidak mempertimbangkan kelompok-kelompok tertentu seperti orang-orang dengan disabilitas tertentu yang mungkin menemukan kesulitan dengan antarmuka tersebut.
Untuk kelompok disabilitas, komputer harus dibuat dengan desain yang berbeda. Ini menunjukkan bagaimana nilai dan asumsi tertentu tersemat dalam desain teknologi, dan bagaimana hal ini dapat menciptakan inklusi dan eksklusi sosial.
References
- ^ masalah etika (www.unesco.org)
- ^ kini (journals.sagepub.com)
- ^ manajemen risiko (www.forbes.com)
- ^ dampak sosial (hyperight.com)
- ^ topik perdebatan yang luas dan berkelanjutan (academic.oup.com)
- ^ kita merujuk pada teknologi yang tidak memiliki kecenderungan atau perbedaan nilai dalam penggunaannya (link.springer.com)
- ^ teori yang menganggap teknologi itu bebas-nilai (academic.oup.com)
- ^ Andreas Spahn (www.tue.nl)
- ^ Joseph C. Pitt (en.wikipedia.org)
- ^ Martin Peterson (www.martinpeterson.org)
- ^ teknologi itu sarat-nilai (academic.oup.com)
- ^ Ibo van de Poel (www.tudelft.nl)
- ^ Peter-Paul Verbeek (ppverbeek.org)
- ^ Peter Kroes (ethicsandtechnology.eu)
- ^ Christian Illies (www.uni-bamberg.de)
- ^ Anthonie Meijers (www.tue.nl)
- ^ tujuan baik atau buruk (www.jstor.org)
- ^ menggunakannya dengan bertanggung jawab (link.springer.com)
- ^ Langdon Winner (en.wikipedia.org)
- ^ Do Artifacts Have Politics? (www.jstor.org)
- ^ Joseph C. Pitt (en.wikipedia.org)
- ^ teknologi deepfake, media sintetis (www.cnnindonesia.com)
- ^ konten-konten pendidikan (towardsdatascience.com)
- ^ Namun, kita juga bisa mengeksploitasi deepfake (www.rand.org)
- ^ peretasan (www.securityweek.com)
- ^ bebas nilai dapat mengarah (heinonline.org)
- ^ sarat-nilai dapat mendorong (michae.lv)
- ^ nilai dan asumsi yang adil dan inklusif dalam desain dan implementasi teknologi (www.forbes.com)
Authors: Arif Perdana, Associate Professor Digital Strategy and Data Science, Monash University





