Jokowi gagal kurangi konflik di Papua, bisakah kita berharap pada Prabowo?
- Written by Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, Lecturer at the Department of Politics and Government, Universitas Gadjah Mada
Prabowo-Gibran yang pencalonannya sebagai Presiden dan Wakil Presiden memantik kontroversi telah bekerja sejak 20 Oktober 2024.
Untuk mengawal pemerintahan mereka, kami menerbitkan edisi khusus #PantauPrabowo[1] yang memuat isu-isu penting hasil pemetaan kami bersama TCID Author Network. Edisi ini turut mengevaluasi 10 tahun pemerintahan Joko Widodo, sekaligus menjadi bekal Prabowo-Gibran menjalankan tugasnya.
Konflik Papua telah terjadi sejak tahun 1960an—menjadikannya salah satu konflik terlama dalam sejarah manusia modern[2]. Konflik yang terjadi terus-menerus dan disertai kekerasan, selain memicu ketidakstabilan politik, juga menjadi hambatan signifikan bagi kemajuan suatu negara.
Untuk kasus di Papua sendiri, konflik berkepanjangan menimbulkan implikasi mendalam terhadap kehidupan Orang Asli Papua (OAP). Dampaknya mencakup marjinalisasi OAP, pengungsian besar-besaran, kelaparan yang meluas, gangguan keamanan tak berkesudahan, tidak aktifnya layanan publik, serta disfungsi pemerintahan[3].
Ini menunjukkan bahwa selama ini, termasuk selama Joko “Jokowi” Widodo berkuasa 10 tahun, langkah-langkah untuk membangun Papua belum diiringi dengan pemahaman yang menyeluruh[4] atas segala konteks yang terjadi di tanah Papua. Padahal menyelesaikan permasalahan di Papua tidak bisa menggunakan logika umum, apalagi cara-cara standar.
Sebagai contoh, meskipun pasar modern Rufei telah dibangun pemerintah kota Sorong, masyarakat yang didominasi mama-mama Papua lebih senang berjualan di pasar tradisional Boswesen[5], atau di sepanjang pinggiran jalan raya. Pasar modern yang harapannya membuat kota lebih tertata tak lantas membuat OAP pindah karena adanya perbedaan pemahaman dan pengalaman hidup.
Salah sedikit saja, inisiatif pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah, meskipun tujuannya baik, justru bisa memicu komplikasi di tingkat lokal ketika berhadapan dengan kerumitan (wicked) akibat kondisi yang kompleks, tidak menentu, dan perbedaan nilai[6].
Jokowi, yang notabene merupakan presiden dari kalangan sipil saja, tidak bisa menyelesaikan konflik di Papua. Bahkan, bisa dibilang dia telah gagal melakukan deeskalasi di Papua. Lalu, apa yang bisa kita harapkan dari Prabowo yang memiliki latar belakang militer dan rekam jejak gelap pelanggaran hak asasi manusia (HAM)?
Jokowi: membangun Papua, tidak mengurangi konflik
Ketika pertama kali terpilih sebagai Presiden pada 2014, Jokowi menjadi ikon perubahan[7]. Sebab, terpilihnya Jokowi seolah mengirimkan pesan bahwa kalangan sipil biasa—tanpa latar belakang sosial mentereng maupun militer—bisa menjadi pemimpin Indonesia.



