Apa yang membuat sebuah lagu terdengar “bernuansa Natal”? Ini penjelasan musikolog
- Written by Samuel J Bennett, Senior Lecturer in Music Production, Nottingham Trent University
Ketika nada-nada pembuka dari banyak lagu Natal klasik terdengar, kita langsung terbawa ke suasana perayaan. Mengapa justru karya-karya musik inilah yang membuat kita spontan teringat pada musim liburan?
Dalam bukunya Music’s Meanings[1], peneliti musik populer Philip Tagg mengulas cara pendengar memaknai musik yang mereka dengar.
Tagg menerapkan pendekatan semiotika—kajian tentang bagaimana manusia menafsirkan tanda-tanda di sekitarnya—ke dalam musik. Tanda-tanda ini dapat dipahami secara berbeda oleh tiap orang dan maknanya pun dapat berubah seiring waktu.
Untuk menjelaskan konsep ini, Tagg mencontohkan gitar lap steel (yang cara memainkannya sambil dipangku). Instrumen ini awalnya berasal dari tradisi musik Hawaii dan identik dengan kepulauan tersebut.
Seiring waktu, instrumen ini masuk ke dalam musik country dan digunakan begitu luas. Alhasil, menurut Tagg, kini kita cenderung mengidentikannya dengan musik country—tanpa memikirkan Hawaii sama sekali.
Sebagaimana gitar lap steel langsung membuat pendengar masuk ke dalam dunia musik country, ada satu instrumen yang memiliki efek serupa untuk Natal: lonceng kereta salju.
Lonceng kereta salju
Mulai dari karya orkestra ringan, seperti Troika[2] (1933) ciptaan Prokofiev hingga lagu pop modern Santa Tell Me[3] (2014) milik Ariana Grande, lonceng kereta salju telah lama menjadi penanda praktis bagi para komposer untuk memberi isyarat kepada pendengar bahwa karya mereka termasuk dalam repertoar Natal.
Keterkaitan ini berakar dari dunia di luar musik.
Di Barat, Natal kerap diasosiasikan dengan musim dingin dan cuaca bersalju. Kereta salju, yang digunakan sebagai alat transportasi khusus cuaca tersebut, kemudian menciptakan hubungan asosiatif yang kuat dengan Natal. Dampaknya, lonceng yang dipasang di kereta salju untuk memperingatkan pejalan kaki pun ikut melekat pada perayaan ini.
Seperti gitar lap steel, kita kini langsung menghubungkan lonceng kereta salju dengan Natal, tanpa memikirkan perantaranya yaitu kereta salju.
Lagu ‘Santa Tell Me’ menggunakan lonceng kereta salju untuk menghadirkan nuansa khas Natal.Selain itu, terdapat pula keterkaitan dengan instrumen lonceng lainnya. Dengan adanya tradisi gereja membunyikan lonceng—terutama untuk merayakan kelahiran Kristus—lonceng berukuran besar turut membangun suasana khas. Ini tak hanya terjadi dalam musik Natal, tetapi juga dalam dekorasi dan karya seni bertema Natal.
Tahun lalu, UK Official Charts Company (perusahaan yang menentukan tangga lagu di Inggris) merilis daftar “40 lagu Natal paling banyak diputar secara ‘streaming’”[4]. Jika menelusuri daftar tersebut, pendengar akan menemukan bunyi menyerupai lonceng dalam sebagian besar lagu—mulai dari pembuka bernuansa perkusi pada All I Want for Christmas Is You[5](1994) milik Mariah Carey hingga denting lonceng menara dalam Do They Know It’s Christmas[6] (1984) dari Band Aid.
Read more: Band Aid at 40: how the problematic Christmas hit changed the charity sector[7]
Ada pula unsur musik lain yang turut menyebarkan semangat Natal, mulai dari melodi yang liris hingga permainan instrumen tiup dari logam. Namun, sebagian besar unsur ini memiliki satu kesamaan, tetapi bukan bunyi modern atau elemen yang lazim dalam musik pop kontemporer, melainkan ingatan akan masa lalu.
Nostalgia Natal
Natal merupakan perayaan yang sarat nuansa nostalgia dalam berbagai pengertian. Kata “nostalgia” awalnya merujuk pada sejenis kerinduan akan rumah, bukan sekadar kenangan manis akan masa lalu yang samar, seperti pemahaman yang lazim saat ini.
Kedua makna tersebut sama-sama dapat digunakan untuk menggambarkan perasaan yang kerap kita kaitkan dengan Natal.
Read more: Mengapa orang tetap mudik Lebaran meski harga tiket mahal?[8]
Ini adalah masa ketika banyak orang pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga—melakukan perjalanan bukan hanya secara geografis, tetapi juga melintasi waktu. Mereka kemudian membenamkan diri dalam dunia tradisi yang akrab dan telah lama dijalani, saat ritme kehidupan sehari-hari seolah tak lagi berlaku.
Para musisi memahami hal ini, memupuk nostalgia pendengar melalui musik, lirik, dan visual yang membangkitkan kesan masa lalu. Barangkali inilah mengapa sebagian besar album Natal berisi interpretasi ulang lagu-lagu klasik, alih-alih materi orisinal.
Pendekatan ini secara langsung menyasar rasa akrab dan nostalgia. Ketika sebuah lagu sudah dikenal, pendengar lebih mudah terhubung dengan versi rekaman yang baru.
Namun, sejumlah musisi melangkah lebih jauh dalam perjalanan nostalgia tersebut. Mereka meniru gaya yang kerap dianggap sebagai puncak estetika musik Natal: kidung lembut yang enak didengar.
Baik itu Bing Crosby maupun Nat King Cole, kehangatan suara kidung yang berpadu dengan instrumen orkestra ringan telah identik dengan Natal. Suara inijarang terdengar di luar musim perayaan, kecuali kamu secara pribadi tertarik pada genre tersebut.
Billie Eilish membawakan ‘Have Yourself A Merry Little Christmas’ pada 2023.Ini menjelaskan mengapa Billie Eilish mengabaikan suara khasnya dan memilih aransemen tradisional berupa piano, drum, dan upright bass, dengan vokal yang lembut dan hangat ketika membawakan versi Have Yourself a Merry Little Christmas di Saturday Night Live pada 2023. Semua elemen ini membangkitkan kesan masa lalu yang sederhana dan ideal.
Terakhir, kita bisa kembali menyoroti daftar lagu Natal paling banyak diputar.
Kali ini ada seorang penyanyi, dengan dua lagu dalam satu album sekaligus, yang berhasil masuk top 20. Dia adalah Michael Bublé, melalui album Christmas (2011).
Album ini menunjukkan keselarasan sempurna dari unsur-unsur musik Natal: seluruh lagu dibawakan dengan gaya kidung, menampilkan versi orkestra ringan dari lagu-lagu klasik, dan tentu saja menghadirkan lonceng kereta salju.
Sulit membayangkan ada yang lebih bernuansa Natal daripada ini.
References
- ^ Music’s Meanings (tagg.org)
- ^ Troika (www.youtube.com)
- ^ Santa Tell Me (www.youtube.com)
- ^ “40 lagu Natal paling banyak diputar secara ‘streaming’” (www.officialcharts.com)
- ^ All I Want for Christmas Is You (www.youtube.com)
- ^ Do They Know It’s Christmas (meganlavengood.com)
- ^ Band Aid at 40: how the problematic Christmas hit changed the charity sector (theconversation.com)
- ^ Mengapa orang tetap mudik Lebaran meski harga tiket mahal? (theconversation.com)
Authors: Samuel J Bennett, Senior Lecturer in Music Production, Nottingham Trent University




