Asian Spectator

Men's Weekly

.

TCID Author Awards 2025: Penghargaan untuk mengembalikan sains ke ruang publik

  • Written by Aditya Prasanda, Health Editor, The Conversation

Masyarakat Indonesia kebanyakan mengandalkan internet dan media sosial[1] sebagai sumber informasi utama. Sayangnya, hal ini tidak diimbangi[2] dengan kemampuan yang memadai dalam mengecek kebenaran informasi ataupun membedakan fakta dengan opini.

Akibatnya, muncul fenomena yang disebut “matinya kepakaran[3]” dalam dekade terakhir—di mana pandangan ilmiah para pakar atau ilmuwan kalah populer dibanding influencer atau penyebar informasi yang kurang akurat di media sosial.

Opini tanpa dasar ilmiah yang bertebaran, memicu disinformasi[4] dan polarisasi di ruang digital—tanpa sempat disandingkan dengan pengetahuan yang sahih. Belum lagi, kehadiran pendengung[5] mengarahkan informasi keliru dalam membentuk persepsi tertentu.

Di tengah situasi ini, The Conversation Indonesia (TCID) terus berupaya menyebarkan gagasan berbasis sains dalam percakapan masyarakat Indonesia dengan berkolaborasi bersama para peneliti dan akademisi.

Untuk mengapresiasi kontribusi mereka yang sudah menyumbangkan pemikiran ilmiah lewat berbagai platform kami, TCID menggelar ajang penghargaan tahunan TCID Author Awards 2025.

Pentingnya “Mengembalikan Sains ke Publik” menjadi tema TCID Author Awards tahun ini, yang diselenggarakan secara daring pada Jumat, 6 Februari 2026.

Peran ilmuwan dalam menyuarakan sains

Yanuar Nugroho, pendiri Nalar Insitute sekaligus Dewan Penasihat untuk Keberlanjutan TCID mengatakan bahwa menyuarakan sains dan kebenaran informasi di ruang publik merupakan kerja intelektual yang penting. Upaya ini bisa membantu masyarakat untuk lebih kritis dan mengambil keputusan secara sadar di tengah krisis nalar publik.

“Ilmuwan tidak bisa hanya menjadi produsen ilmu pengetahuan (seperti menghasilkan jurnal). Ilmuwan juga harus menjadi penjaga integritas pengetahuan publik. Artinya, ilmuwan tidak boleh netral ketika kebenaran dimanipulasi oleh pemerintah ataupun pihak tertentu,” ujar Yanuar di hadapan 295 peserta TCID Author Awards 2025.

TCID Author Awards 2025: Penghargaan untuk mengembalikan sains ke ruang publik
Yanuar Nugroho saat menyampaikan pidato kunci mengenai pentingnya peran ilmuwan dalam menjaga integritas pengetahuan publik. The Conversation Indonesia

Yanuar menambahkan, “Ketika data dipelintir untuk kepentingan politik, ilmuwan harus bersuara. Ketika kebijakan dibangun di atas asumsi yang salah, ilmuwan harus mengoreksi. Ketika publik disesatkan oleh angka-angka palsu, ilmuwan harus menjelaskan.”

Pada akhirnya, peran ilmuwan sangat penting dalam membangun demokrasi yang sehat. Karena demokrasi, menurut Yanuar, tidak hanya butuh pemilih, tetapi juga warga yang sanggup berpikir dan bertanya mengenai hal-hal yang mendasari, risiko yang ditimbulkan, serta siapa yang dirugikan dan diuntungkan dari sebuah kebijakan publik.

Tanpa kapasitas itu, demokrasi akan mudah dibajak oleh janji sederhana untuk masalah kompleks dan struktural. Contohnya, janji pengentasan stunting yang tidak mungkin bisa diatasi hanya dengan skema Makan Bergizi Gratis[6] oleh pemerintah saat ini.

Read more: Mengurai berbagai ‘klaim surga’ pemerintah dalam MBG[7]

Upaya TCID mendekatkan sains lewat media sosial

Perubahan gaya konsumsi media masyarakat yang lebih mengandalkan media sosial sebagai sumber informasi utama tidak bisa dielakkan. Namun, TCID meyakini semangat dan integritas jurnalisme tak lekang oleh format.

Chief Editor TCID Anggi M. Lubis mengatakan bahwa kehadiran media sosial justru perlu dilihat sebagai peluang untuk lebih mendekatkan ilmuwan dan publik, serta mengajak masyarakat membuat keputusan berbasis pengetahuan. Terlebih di tengah gejolak politik dan sosial akibat kebijakan pemerintah yang mengabaikan temuan riset dan peran para ilmuwan.

TCID Author Awards 2025: Penghargaan untuk mengembalikan sains ke ruang publik
Sebanyak 295 peserta dari akademisi hingga peneliti menghadiri TCID Author Awards 2025. The Conversation Indonesia

Menurut Anggi, kesadaran ini yang mendorong ruang redaksi The Conversation Indonesia untuk berbenah sepanjang 2025 menjadi media multiplatform yang berintegritas—dengan tidak lagi menjadikan konten media sosial sebagai produk sekunder.

Untuk itu, TCID sangat mengapresiasi para pakar yang siap membagikan keahlian dan perspektif berbasis keilmuan kepada masyarakat. Baik lewat tawaran ide tulisan, diminta menulis oleh editor, diwawancara untuk podcast dan konten video, hingga diminta pendapat cepat guna merespons isu terkini di media sosial.

Ajang penghargaan tahunan ini pun sejatinya tak cukup untuk menebus jasa para kolaborator TCID.

“Namun, kami berharap apresiasi ini setidaknya bisa memantik semangat berbagi para ilmuwan guna menghidupkan sains dalam perbincangan publik, dan mewujudkan kultur informed citizenry (masyarakat punya pengetahuan memadai, akurat, dan berbasis fakta untuk berpartisipasi dalam kehidupan bernegara),” ujar Anggi.

Daftar pemenang TCID Author Awards 2025

Dari total 813 artikel yang terbit sepanjang tahun lalu, TCID menobatkan 9 penulis pilihan pada TCID Author Awards 2025.

Managing Editor TCID Robby Irfany Maqoma mengungkapkan bahwa penilaian redaksi dilakukan berdasarkan empat parameter, salah satunya adalah komitmen penulis dalam membumikan sains.

Parameter lainnya, tambah Robby, meliputi basis bukti yang digunakan dalam setiap argumen, kesegaran ide yang ditelurkan, serta keselarasan dengan komitmen multiplatform TCID.

“Penulis Paling Banyak Dibaca” tahun ini jatuh kepada Catur Septiana Rakhmawati[8], Dosen Departemen Hukum Perdata, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Catur baru pertama kali menulis untuk TCID, tapi artikel analisisnya mengenai kisruh tumbler Tuku yang hilang[9] bertengger sebagai pemuncak dengan dibaca lebih dari 170 ribu kali.

Selanjutnya, ada Imam Salehudin[10], Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia yang terpilih sebagai “Penulis Terproduktif” dengan 8 artikel sepanjang tahun 2025. Artikel Imam berkutat mengenai literasi keuangan dan analisis seputar ekonomi dan bisnis.

Untuk kategori per kanal, TCID memilih Sabhrina Gita Aninta[11] dari University of Copenhagen sebagai “Penulis Pilihan Editor Lingkungan”. Peneliti pascadoktoral ini konsisten melakukan riset-riset genomik. Penelitiannya sangat penting untuk mendorong dasar kebijakan konservasi dan pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia.

Adapun “Penulis Pilihan Editor Sains + Teknologi” tahun ini diberikan kepada Taufik Rachmat Nugraha[12], peneliti bidang kebijakan antariksa, maritim, dan nuklir dari Centre for Air and Space Policy (CASP). Taufik konsisten membedah beragam isu melalui lensa kebijakan, seperti tata kelola ruang angkasa hingga laut lepas yang masih jarang tersentuh.

Read more: Ruang angkasa kian padat, sampah antariksa jatuh dari langit: Bagaimana mitigasinya?[13]

Beralih ke kanal kesehatan, TCID memilih Ermi Ndoen[14], peneliti bidang kesehatan masyarakat dari Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) Kupang sebagai “Penulis Pilihan Editor Kesehatan”.

Sejak 2018, Ermi menyajikan berbagai analisis kesehatan masyarakat yang menarik dan penting bagi pembaca. Di tahun ini, Ermi menyajikan analisis kolektif yang sangat apik mengenai pentingnya komunikasi lisan dalam mengatasi kasus malaria di Tanah Papua[15] yang kian mengkhawatirkan.

Berikutnya, TCID memilih Patria Laksamana[16], dari Perbanas Institute sebagai “Penulis Pilihan Editor Ekonomi” atas dedikasinya dalam menyebarkan ilmu pemasaran dan inklusi keuangan berbasis sains.

TCID kemudian juga memilih Puteri Atikah[17] sebagai “Penulis Pilihan Editor Politik + Masyarakat”. Dosen Sosiologi Politik Universitas Negeri Medan ini kerap memberikan analisis mendalam atas isu struktural. Salah satunya, Putri bisa mengaitkan fakta lingkungan dengan dinamika politik-ekonomi, menggunakan argumentasi berbasis konteks riil sehingga relevan bagi masyarakat luas.

Lalu, ada Adrian Perkasa[18], peneliti pascadoktoral dari Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies terpilih sebagai “Penulis Pilihan Editor Pendidikan + Budaya”.

Tulisan Adrian tentang penulisan ulang sejarah nasional menawarkan argumen alternatif yang menarik, berbobot, dan berbasis riset. Artikelnya membantu pembaca memahami bagaimana sejarah bekerja dalam membentuk persoalan sosial dan kebijakan hari ini.

Read more: Proyek penulisan sejarah nasional Indonesia: Kembalinya narasi yang tak lengkap[19]

TCID juga menominasikan tiga “Penulis Baru”, dengan Aidy Halimanjaya[20], seorang peneliti sekaligus dosen dari Universitas Katolik Parahyangan, sebagai pemenangnya.

Aidy banyak mengangkat soal peran perempuan, inklusivitas, serta inisiatif daerah dalam isu transisi energi dan pembangunan berkelanjutan. Tulisannya menawarkan optimisme di tengah kebuntuan.

Adapun dua nomine “Penulis Baru” lainnya adalah Wulan Koagouw[21], peneliti senior dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Lalu, ada Rayhan Sudrajat[22], Etnomusikolog & Dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Parahyangan.

TCID Authors Awards 2025.

Kategori baru untuk kolaborator multiplatform

Berbeda dari tahun sebelumnya, TCID Author Awards 2025 mempersembahkan kategori baru, yaitu “Kolaborator Konten Multiplatform Terbaik” untuk narasumber podcast Suarakademia (format audio) dan Ask The Expert (video).

“Kolaborator Konten Multiplatform Terbaik untuk Suarakademia” tahun ini adalah Rahadian Diffaul Barraq Suwartono[23] dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Dosen Departemen Hukum Tata Negara UII ini bisa menjelaskan polemik revisi RUU TNI (yang kini sudah menjadi UU)[24] kepada publik dengan ringkas dan mudah dipahami, sehingga menjadi salah satu episode dengan engagement tertinggi.

Sementara itu, TCID memilih Mustika Andini[25], Mahasiswa Program Doktoral Kajian Budaya, Universitas Sebelas Maret sebagai “Kolaborator Konten Multiplatform Terbaik untuk Ask The Expert”. Selain bisa menyampaikan dengan singkat, padat, dan jelas mengenai musik keroncong, edisi Ask the Expert bersama Andini[26] menjadi episode paling banyak ditonton sepanjang 2025.

Selain kategori baru, TCID Author Awards 2025 juga menghadirkan stand up comedy oleh dosen influencer Hendi Pratama—yang membawakan satir mengenai lika-liku kehidupan dosen di Indonesia.

Institusi terproduktif

TCID Author Awards 2025 juga mempersembahkan penghargaan bagi “Institusi Universitas dan non-Universitas Terproduktif”. Melalui dua kategori ini, TCID ingin menegaskan peran universitas dan non-universitas yang saling melengkapi dalam menyajikan penelitian dan menjadi sumber pengetahuan.

Enam lembaga terpilih untuk dua kategori tersebut telah menyumbangkan artikel terbanyak untuk TCID sepanjang tahun 2025, dengan total lebih dari 200 artikel dan dibaca lebih dari 750 ribu kali.

Kategori “Universitas Terproduktif” dimenangkan oleh Universitas Indonesia (UI), diikuti oleh Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Airlangga. Adapun “Institusi non-Universitas Terproduktif” dimenangkan oleh BRIN, diikuti oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS), dan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI).

Para pemenang pun turut mengapresiasi acara ini. Adrian Perkasa, misalnya, mengatakan bahwa media seperti The Conversation Indonesia penting untuk membuktikan bahwa ilmu dan kepakaran bermanfaat bagi kehidupan sekitar.

“Dalam proses penyuntingan pun editor banyak membantu para ilmuwan untuk bisa membuat tulisannya lebih mudah dibaca masyarakat luas, sehingga tidak hanya berhenti dibaca oleh kalangan sendiri,” jelas Adrian.

TCID membuka kesempatan bagi para akademisi dan peneliti untuk berkolaborasi dalam menghasilkan artikel dan analisis berbasis sains. Daftarkan diri kamu sebagai penulis dengan klik di sini[27].

References

  1. ^ mengandalkan internet dan media sosial (www.meltwater.com)
  2. ^ tidak diimbangi (imdi.sdmdigital.id)
  3. ^ matinya kepakaran (theconversation.com)
  4. ^ memicu disinformasi (www.instagram.com)
  5. ^ kehadiran pendengung (theconversation.com)
  6. ^ Makan Bergizi Gratis (theconversation.com)
  7. ^ Mengurai berbagai ‘klaim surga’ pemerintah dalam MBG (theconversation.com)
  8. ^ Catur Septiana Rakhmawati (theconversation.com)
  9. ^ kisruh tumbler Tuku yang hilang (theconversation.com)
  10. ^ Imam Salehudin (theconversation.com)
  11. ^ Sabhrina Gita Aninta (theconversation.com)
  12. ^ Taufik Rachmat Nugraha (theconversation.com)
  13. ^ Ruang angkasa kian padat, sampah antariksa jatuh dari langit: Bagaimana mitigasinya? (theconversation.com)
  14. ^ Ermi Ndoen (theconversation.com)
  15. ^ komunikasi lisan dalam mengatasi kasus malaria di Tanah Papua (theconversation.com)
  16. ^ Patria Laksamana (theconversation.com)
  17. ^ Puteri Atikah (theconversation.com)
  18. ^ Adrian Perkasa (theconversation.com)
  19. ^ Proyek penulisan sejarah nasional Indonesia: Kembalinya narasi yang tak lengkap (theconversation.com)
  20. ^ Aidy Halimanjaya (theconversation.com)
  21. ^ Wulan Koagouw (theconversation.com)
  22. ^ Rayhan Sudrajat (theconversation.com)
  23. ^ Rahadian Diffaul Barraq Suwartono (theconversation.com)
  24. ^ polemik revisi RUU TNI (yang kini sudah menjadi UU) (open.spotify.com)
  25. ^ Mustika Andini (theconversation.com)
  26. ^ edisi Ask the Expert bersama Andini (youtu.be)
  27. ^ di sini (theconversation.com)

Authors: Aditya Prasanda, Health Editor, The Conversation

Read more https://theconversation.com/tcid-author-awards-2025-penghargaan-untuk-mengembalikan-sains-ke-ruang-publik-274733

Magazine

Transisi energi Indonesia mandek, solusi berbasis komunitas jadi alternatif rasional dan potensial

● Penerapan transisi energi di dalam negeri cenderung mandek.● Masih berpihaknya pemerintah terhadap energi kotor jadi salah satu penyebabnya.● Pendekatan akar rumput seperti kebijak...

Riset: Strategi ‘kartel’ batu bara dan menyetop izin tambang baru bisa jadi jalan tengah percepat transisi energi

Pada tahun 1960-an, negara-negara produsen minyak membentuk sebuah kartel atau kelompok yang mengendalikan pasar bersama untuk mengangkat harga minyak. Strategi ini pun berhasil.Selama puluhan tahun, ...

TCID Author Awards 2025: Penghargaan untuk mengembalikan sains ke ruang publik

Masyarakat Indonesia kebanyakan mengandalkan internet dan media sosial sebagai sumber informasi utama. Sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan kemampuan yang memadai dalam mengecek kebenaran informa...