Asian Spectator

Men's Weekly

.

Reptil kerap diabaikan dan diperlakukan semena-mena. Begini cara merawat mereka dengan lebih baik

  • Written by Alicia Bartolomé, Investigadora Doctora en Etología y Bienestar Animal, Universitat de València

Reptil sering kali mendapatkan reputasi buruk. Hewan ini kerap menjadi simbol kejahatan atau kelicikan dalam budaya barat.

Reptil pun kerap dikaitkan sebagai simbol dosa serta pengkhianatan. Kemunculan asosiasi ini bisa ditarik jauh sejak keberadaan teologi Yudaisme-Kristen.

Sebenarnya, tidak semua budaya memandang reptil seperti contoh di atas. Dalam banyak tradisi lain, hewan seperti buaya, ular, dan kura-kura justru sebaliknya. Reptil dianggap sebagai dewa, pelindung, atau simbol dari perubahan.

Sayangnya, meskipun memiliki kekayaan sejarah kultural ini, kebanyakan kepercayaan populer yang beredar mengenai reptil masih memiliki kesan negatif.

Sebenarnya sulit untuk merinci seberapa banyak pandangan negatif soal reptil berasal dari cerita rakyat. Sebab, ketidaksukaan kita terhadap mereka berakar pada campuran faktor sosial dan evolusi.

Beberapa studi pada hewan primata[1] menunjukkan, kita memang cenderung takut pada ciri-ciri tertentu dari ular karena potensi bahaya yang ada pada dalam dirinya. Ketiadaan ekspresi reptil, serta bentuk mereka yang terlihat jauh berbeda dari manusia, turut membentuk pandangan bahwa reptil merupakan makhluk aneh dan tidak cerdas.

Terlebih lagi, reptil merupakan kelompok dengan spesies sangat beragam dan pengetahuan kita soal jenis-jenisnya sangat sedikit. Minimnya pengetahuan ditambah pandangan negatif akhirnya turut memengaruhi bagaimana publik memperlakukan reptil.

Reptil kerap diabaikan dan diperlakukan semena-mena. Begini cara merawat mereka dengan lebih baik
Ular bermakna penting dalam berbagai kebudayaan. Pada gambar ini, seekor cantil viper (Agkistrodon bilineatus) terlihat di penangkaran Faunia . Alicia Bartolomé, Author provided (no reuse)

Kondisi reptil yang tidak layak

Dibandingkan hewan seperti burung dan mamalia, reptil memang lebih sering luput dari perhatian. Akan tetapi, reptil tetap hidup berdampingan dengan kita.

Laporan terbaru dari Uni Eropa[2] menunjukkan bahwa 0,1% hewan yang digunakan dalam penelitian merupakan hewan berjenis reptil.

Meskipun angka tersebut terlihat kecil, sebenarnya jumlah ini setara dengan lebih dari 4.500 individu. Jumlahnya pun meningkat hampir 200% selama empat tahun terakhir.

Laporan di atas sebenarnya hanya memaparkan jumlah individu reptil yang tercatat dalam prosedur resmi. Penelitian tersebut tidak menghitung reptil yang berstatus ditangkap untuk sementara waktu. Hal ini menggambarkan bagaimana sebenarnya ada sejumlah hewan yang tidak kita ketahui kerap berada dalam kondisi buruk dan kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi.

Kondisi ini berdampak bagi reptil yang ditangkap sementara waktu. Ini pun termasuk reptil yang tinggal sepanjang hidupnya di penangkaran seperti hewan peliharaan ataupun kebun binatang.

Meskipun studi mengenai topik ini masih terbatas, beberapa penelitian menemukan[3] kebutuhan reptil memang nyatanya jarang terpenuhi. Hal ini mengakibatkan reptil berada dalam bayang-bayang masalah kesehatan dan masalah perilaku. Contohnya adalah pola interaksi repetitif dengan kaca terarium yang melukai moncongnya.

Seekor kadal hijau menoleh ke arah kanan dengan mulut terbuka
Seekor kadal Filipina (Hydrosaurus Pustulatus) di Bioparco kota Roma. Terlihat moncong reptil yang rusak akibat terlalu sering berinteraksi dengan kaca terarium. Alicia Bartolomé, Author provided (no reuse)

Meningkatkan kesejahteraan bagi reptil

Pengayaan habitat[4] akhirnya muncul sebagai upaya untuk mengatasi berbagai kondisi kesulitan yang hewan hadapi. Pengayaan ini menawarkan stimulasi bagi hewan yang sering kali berada di lingkungan yang jarang berubah-ubah. Upaya ini bahkan sudah menjadi bidang studi dan alat tersendiri untuk meningkatkan taraf hidup hewan.

Pengayaan habitat tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar. Sebaliknya, tujuan pendekatan ini adalah untuk membantu hewan dapat berkembang dengan lebih baik.

Dalam praktiknya, pendekatan tersebut berusaha menambahkan beberapa elemen pada lingkungan hewan seperti mainan, struktur, stimulasi sensorik, sampai stimulasi sosial. Stimulasi-stimulasi ini digunakan untuk mendorong munculnya perilaku alami dari diri hewan.

Di samping itu, poin utama dari pengayaan habitat tak hanya untuk memperkenalkan perubahan. Pengayaan juga bertujuan untuk menyesuaikan kebutuhan spesifik masing-masing spesies, sembari memastikan upaya tersebut dapat memperbaiki taraf hidup mereka.

Reptil kerap diabaikan dan diperlakukan semena-mena. Begini cara merawat mereka dengan lebih baik Pelatihan dianggap juga sebagai salah satu bentuk dari pengayaan. Dalam gambar ini, seekor buaya Nil (_Crocodylus niloticus) dilatih untuk menunggu bunyi peluit sebelum menyambar makanan Alicia Bartolomé, CC BY-SA[5]

Dalam sebuah studi[6] yang berangkat dari disertasi doktoral saya, kami membahas kurangnya perhatian yang reptil dapatkan dalam bidang ini.

Pertama, kami menghubungi kebun binatang di Eropa untuk menilai bagaimana mereka melakukan pendekatan pengayaan habitat.

Meskipun sebagai besar kebun binatang Eropa sudah memiliki langkah-langkah tertentu, kebanyakan praktik yang disebut-sebut sebagai “pengayaan” ini sering kali tidak lebih dari pemenuhan kebutuhan mendasar. Misalnya, cara menjaga suhu yang nyaman bagi hewan.

Setelah menilai kondisi di atas, kami merancang dan mengevaluasi proposal pengayaan habitat untuk dua spesies kadal dari genus Podarcis[7]. Pertama, menghadirkan rangsangan penciuman yang mengandung bau dari individu lain pada terarium kadal. Potongan kertas digunakan dalam upaya perangsangan ini.

Kedua, kami menambahkan batang kayu berlubang yang harus kadal panjat dan jelajahi untuk menemukan makanan. Dengan menambah permukaan di berbagai ketinggian, kami menghadirkan kompleksitas struktur maupun kompleksitas suhu dalam terarium.

Selanjutnya, kami mengobservasi perilaku kadal guna menilai efek pengayaan terhadap kualitas hidup mereka. Hasilnya, secara perilaku kadal menjadi lebih jarang menggosokkan tubuhnya ke kaca terarium. Hal ini dengan demikian mengurangi risiko cedera pada kadal.

Temuan kami juga mendapati kadal jadi menghabiskan lebih banyak waktu untuk bergerak serta menjulurkan lidah. Hal tersebut menandai peningkatan eksplorasi kadal terhadap stimulus baru.

Bagi hewan, menjelajah dan menginvestigasi informasi baru bukanlah respons naluriah semata, akan tetapi juga aktivitas yang memberikan kepuasan tersendiri.

Sebagai tambahan, kami juga mengukur penggunaan kadar kortikosteron, hormon stres pada kadal serupa kortisol[8]. Kami mengukurnya tanpa tindakan invasif, yakni melalui feses mereka.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kadar hormon kortikosteron meningkat seiring kadal menghabiskan waktu di dalam penangkaran. Akan tetapi, hal yang serupa tidak kami temui pada kadal dalam fase pengayaan.

Meskipun masih berupa temuan awal, data kami menunjukkan pengayaan berdampak positif bagi fisiologis kadal-kadal ini.

Reptil kerap diabaikan dan diperlakukan semena-mena. Begini cara merawat mereka dengan lebih baik Seekor kadal dinding jantan (Podarcis Muralis) di laboratorium tengah memanjat batang kayu yang bernutrisi. Salah satu contoh bentuk pengayaan yang kami evaluasi. Alicia Bartolomé, CC BY-SA[9]

Perdagangan kadal

Temuan kami menantang miskonsepsi yang umumnya muncul mengenai reptil.

Sebenarnya, mereka merupakan hewan yang memiliki kemampuan kognitif. Selain itu, mereka juga memiliki kehidupan sosial yang menunjukkan perilaku senang bermain[10]. Kebutuhan mereka nyatanya jauh lebih banyak dari yang kita sadari.

Oleh karena itu, masih banyak upaya yang perlu kita lakukan.

Untungnya, reptil yang tadinya terabaikan saat ini mulai menarik perhatian banyak pihak. Perhatian ini pun menjadi sangat perlu mengingat banyak reptil yang hidup dalam penangkaran berasal dari perdagangan satwa liar[11]. Bisnis ini yang tidak hanya menguntungkan bagi sebagian pihak, tetapi juga mengakibatkan kematian banyak individu.

Lebih dari 36% spesies reptil diperdagangkan secara ilegal. Hal yang amat disayangkan karena pengetahuan kita soal perilaku spesies ini masih sedikit. Mirisnya lagi, kita membeli dan menjual mereka bak barang koleksi semata.

Kesejahteraan reptil dagangan justru menjadi prioritas utama. Sebelum dijual, mereka kerap disimpan dalam kondisi yang tidak higienis.

Selain itu, mereka sering disimpan tanpa mempertimbangkan kebutuhan ruang, nutrisi, suhu, maupun kelembapan. Setelah terjual, angka kematian prematur mereka pun meningkat hingga 70%.

Selain persoalan kesejahteraan, perdagangan satwa eksotis ini juga menimbulkan dampak ekologis seperti eksploitasi berlebih serta memicu munculnya spesies invasif (mengancam kehidupan spesies lainnya).

Mempertimbangkan konteks ini, pengayaan habitat menjadi kesempatan untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran. Upaya ini dapat membantu memahami perilaku, kemampuan, dan kebutuhan reptil yang selama ini acap diabaikan.

Selama kita masih terus menaruh hewan dalam kandang, memastikan kualitas dan taraf hidup mereka harus menjadi kewajiban moral kita.

Adinda Ghinashalsabila Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.

References

  1. ^ Beberapa studi pada hewan primata (doi.org)
  2. ^ Laporan terbaru dari Uni Eropa (www.understandinganimalresearch.org.uk)
  3. ^ beberapa penelitian menemukan (doi.org)
  4. ^ Pengayaan habitat (en.wikipedia.org)
  5. ^ CC BY-SA (creativecommons.org)
  6. ^ sebuah studi (doi.org)
  7. ^ Podarcis (en.wikipedia.org)
  8. ^ kortisol (theconversation.com)
  9. ^ CC BY-SA (creativecommons.org)
  10. ^ senang bermain (doi.org)
  11. ^ berasal dari perdagangan satwa liar (doi.org)

Authors: Alicia Bartolomé, Investigadora Doctora en Etología y Bienestar Animal, Universitat de València

Read more https://theconversation.com/reptil-kerap-diabaikan-dan-diperlakukan-semena-mena-begini-cara-merawat-mereka-dengan-lebih-baik-272186

Magazine

‘Mein Kampf’ Hitler dan teknik kambing hitam dalam narasi antek asing

● Label “antek asing” yang digunakan Presiden Prabowo adalah bentuk teknik ‘othering’ atau mengambinghitamkan kelompok tertentu.● Pola ini serupa dengan teknik prop...

Pemilihan Adies Kadir dan risiko keruntuhan independensi MK

Gedung Mahkamah Konstitusi di Jakarta.duy 86/Shutterstock● Pemilihan Adies Kadir sebagai Hakim MK mencerminkan upaya politisasi dan sinyal perusakan independensi MK.● Penujukkan Adies lega...

Beban utang Indonesia dan negara berkembang lainnya meningkat tahun ini. Bagaimana mitigasinya?

● Utang negara-negara berkembang dunia, termasuk Indonesia, berisiko meningkat tahun ini.● Anggaran Indonesia terbebani biaya bunga utang yang nilainya terus melambung.● Pemerintah p...